Jakarta, infoDKJ.com | Minggu, 28 September 2025
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada situasi yang membuat kita menilai orang lain. Menilai dalam arti memberikan pandangan atau opini adalah sesuatu yang wajar, bahkan terkadang diperlukan untuk menimbang baik dan buruk. Namun, yang harus dihindari adalah sikap menghakimi, seolah-olah diri kita paling benar sementara orang lain pasti salah.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa."
(QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini mengingatkan agar kita tidak mudah berprasangka buruk dan tergesa-gesa dalam menilai, apalagi sampai menghakimi orang lain hanya dari apa yang tampak di luar.
Percaya Diri Penting, Sadar Diri Lebih Penting
Percaya diri adalah modal penting dalam menjalani hidup. Tanpa rasa percaya diri, seseorang akan kesulitan melangkah. Namun, lebih penting lagi adalah sadar diri. Menyadari bahwa kita hanyalah hamba Allah yang penuh kekurangan membuat kita terhindar dari kesombongan dan merasa paling benar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi."
(HR. Muslim)
Kesombongan lahir saat kita merasa lebih baik dari orang lain, padahal setiap manusia memiliki kelemahan masing-masing.
Orang Lain Mungkin Salah, Tapi Kita Pun Tak Selalu Benar
Sering kali kita lebih mudah melihat kekurangan orang lain dibandingkan diri sendiri. Padahal, bisa jadi dalam hal lain kita pun memiliki kesalahan yang sama atau bahkan lebih besar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
يُبْصِرُ أَحَدُكُمُ الْقَذَاةَ فِي عَيْنِ أَخِيهِ وَيَنْسَى الْجِذْعَ فِي عَيْنِهِ
"Seseorang di antara kalian melihat kotoran kecil di mata saudaranya, namun ia lupa ada balok besar di matanya sendiri."
(HR. Ibnu Hibban)
Hadits ini menegaskan agar kita tidak sibuk mencari kesalahan orang lain, sementara kekurangan diri sendiri terabaikan.
Berusaha Menjadi Baik, Tanpa Merasa Paling Baik
Menjadi baik adalah kewajiban, tetapi merasa paling baik adalah penyakit hati. Allah tidak menilai manusia hanya dari penampilan luar, melainkan dari ketakwaan yang ada di dalam hati.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian."
(QS. Al-Hujurat: 13)
Tugas kita adalah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari, tanpa merasa lebih mulia dari orang lain. Sebab, ujungnya hanya Allah-lah yang menilai amal manusia.
Penutup
Mari kita berusaha menjadi baik, tanpa merasa diri paling baik. Karena pada akhirnya, yang menilai amal kita bukanlah manusia, melainkan Allah ﷻ, Sang Hakim yang Maha Adil.


