Jakarta, 18 Desember 2025 — Pimpinan Wilayah Aisyiyah DKI Jakarta menegaskan bahwa krisis iklim kini telah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga perkotaan, khususnya di Jakarta. Karena itu, dibutuhkan aksi kolektif lintas sektor yang terencana dan berkelanjutan untuk memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi risiko bencana yang kian kompleks.
Penegasan tersebut disampaikan dalam kegiatan bertajuk “Penanggulangan dan Pencegahan Dampak Perubahan Iklim serta Menjaga Lingkungan” yang diselenggarakan oleh Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PWA DKI Jakarta, bekerja sama dengan Program 1000 Cahaya dan Eco Bhineka. Kegiatan berlangsung di Auditorium Lantai 6 Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jakarta, dan diikuti oleh 120 peserta dari unsur pengurus Aisyiyah, NGO, serta Forum Pengurangan Risiko Bencana se-DKI Jakarta.
Acara dibuka secara resmi oleh Fajar Eko Satriyo, S.STP., M.A, Kepala Bidang Dikmental Setda Provinsi DKI Jakarta, setelah rangkaian sambutan dari Ketua LLHPB PWA DKI Jakarta Ferawati, M.Pd., M.Si, Wakil Ketua PWA DKI Jakarta Dr. Miciko Umeda, S.Kp., M.Biomed, serta Wakil Sekretaris PWM DKI Jakarta Drs. H. Ateng, M.Pd.
Dalam sambutannya, para pimpinan menekankan bahwa perubahan iklim tidak lagi dapat dipandang sebagai isu sektoral. Dampaknya telah merambah aspek kesehatan, sosial, ekonomi, hingga keselamatan jiwa, menjadikannya krisis kemanusiaan yang harus dihadapi bersama.
Krisis Iklim: Tanggung Jawab Moral dan Sosial
Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Amirsyah Tambunan, dalam pemaparannya menegaskan bahwa krisis iklim merupakan persoalan etis yang menuntut tanggung jawab moral umat manusia.
“Manusia diberi amanah sebagai khalifah di bumi. Setiap tindakan yang merusak lingkungan pada hakikatnya adalah pelanggaran terhadap tanggung jawab moral dan sosial,” tegasnya, seraya merujuk pada fatwa MUI terkait pengelolaan sampah dan pengendalian perubahan iklim.
Jakarta dan Kompleksitas Risiko Bencana
Paparan berikutnya disampaikan oleh Basuki Rahmat dari BPBD DKI Jakarta. Ia mengungkapkan bahwa Jakarta menghadapi risiko bencana berlapis yang dipengaruhi oleh faktor alam, kepadatan penduduk, tata ruang, serta tekanan aktivitas manusia.
“Risiko bencana bukan sekadar potensi kejadian, tetapi ancaman nyata berupa korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan terganggunya kehidupan sosial masyarakat,” ujarnya, mengacu pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Kawasan pesisir Jakarta disebut sebagai wilayah paling rentan akibat kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah.
Dari Kesadaran ke Aksi Nyata
Usai sesi istirahat dan salat zuhur, peserta mengikuti pemutaran video simulasi gempa megathrust yang dipandu langsung oleh Ferawati. Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan Sudarto M. Abukasim, Wakil Direktur Program 1000 Cahaya, yang menekankan pentingnya perubahan perilaku melalui budaya hemat energi.
“Menghemat energi adalah langkah kecil yang berdampak besar bagi penurunan emisi dan keberlanjutan bumi,” ujarnya.
Ferawati kemudian menutup sesi materi dengan paparan bertajuk “Jakarta dalam Cengkeraman Iklim: Dampak Nyata dan Ancaman Masa Depan”. Ia menegaskan bahwa banjir, suhu ekstrem, dan ketimpangan sosial merupakan dampak yang sudah dirasakan hari ini.
“Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan. Jakarta harus segera bertransformasi menjadi kota tangguh iklim. Waktu untuk bertindak sangat terbatas,” tegasnya.
Penguatan Kapasitas dan Komitmen Sosial
Sebagai bagian dari penguatan kapasitas, peserta dibagi ke dalam lima kelompok wilayah—Jakarta Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Pusat—untuk melakukan praktik risk mapping. Hasil pemetaan dipresentasikan dan kelompok terbaik mendapatkan apresiasi.
Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin Dra. Hj. Syamsidar Siregar. Peserta juga membawa pulang paket makanan balita untuk dibagikan di wilayah masing-masing sebagai bentuk kepedulian sosial.
Melalui kegiatan ini, PW Aisyiyah DKI Jakarta menegaskan perannya sebagai kekuatan masyarakat sipil yang konsisten mendorong edukasi, advokasi, dan aksi nyata dalam menghadapi krisis iklim serta memperkuat ketangguhan masyarakat perkotaan terhadap risiko bencana. []
.jpeg)


.jpeg)