Jakarta, infoDKJ.com | Sabtu, 10 Januari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Salah satu jalan paling kokoh menuju tawadhu’ (rendah hati) adalah mengenal diri sendiri. Ketika seseorang benar-benar memahami kelemahan, dosa, dan keterbatasannya, ia akan sulit terjebak dalam ujub, merasa suci, atau memandang orang lain lebih rendah.
Imam Al-Ghazali رحمه الله dalam Bidayatul Hidayah mengajarkan cara memandang orang lain dengan hati yang bersih, agar seorang hamba tidak terjatuh pada kesombongan. Setiap kali kita melihat orang lain, latih hati untuk mengingat sisi kekurangan diri dan kemungkinan kebaikan pada orang tersebut.
1. Saat Melihat Orang yang Lebih Muda
Katakan dalam hati:
“Ia belum banyak bermaksiat, sedangkan aku sudah banyak melakukan dosa.”
Dengan cara ini, orang yang lebih muda akan kita pandang lebih baik daripada kita.
2. Saat Melihat Orang yang Lebih Tua
Katakan:
“Ia sudah lebih dahulu beribadah daripada aku.”
Maka hati terdorong untuk menghormati dan bersikap rendah hati.
3. Saat Melihat Orang Alim
Katakan:
“Ia diberi ilmu yang tidak diberikan kepadaku. Ia mengajarkan kebaikan, sedangkan aku belum memberi manfaat sebanyak itu.”
Ini akan menjaga kita dari iri, meremehkan, atau merasa lebih tinggi dari ahli ilmu.
4. Saat Melihat Orang yang Bodoh
Katakan:
“Ia bermaksiat karena tidak tahu. Aku bermaksiat padahal aku tahu. Maka dosaku lebih berat.”
Dengan begitu, kita tidak mudah merendahkan siapa pun dan justru sibuk memperbaiki diri.
5. Saat Melihat Orang Kafir
Katakan:
“Boleh jadi ia mendapat hidayah, dan akhir hidupnya lebih baik daripada aku.”
Pengakuan ini membuat kita sadar bahwa hanya Allah yang membolak-balikkan hati, dan tidak ada seorang pun yang dapat merasa aman dari keburukan akhir hidup.
Landasan Al-Qur’an
Allah Ta’ala menegaskan:
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci.”
(QS. An-Najm: 32)
Ayat ini menjadi peringatan agar seorang hamba tidak merasa paling bersih. Sebab hanya Allah yang mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.
Hakikat Tawadhu’
Tawadhu’ bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan atau menghinakan diri. Tawadhu’ adalah:
- mengakui bahwa kita penuh kekurangan,
- menyadari bahwa kita bisa jatuh kapan saja,
- dan percaya bahwa orang lain bisa jadi lebih dekat kepada Allah.
Sebaliknya, ujub (merasa hebat, suci, dan tinggi) adalah jalan kehancuran.
Buah dari Mengenal Diri
Seseorang yang mengenal dirinya akan:
- lebih mudah menerima nasihat,
- lebih sedikit menilai orang lain,
- lebih sibuk memperbaiki diri,
- dan lebih dekat kepada Allah.
Penutup
Mengenal diri sebagai hamba yang penuh kekurangan bukan untuk membuat kita putus asa, tetapi justru membuka pintu tawadhu’. Sebab siapa pun yang merendahkan diri di hadapan Allah, Allah akan mengangkat derajatnya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang rendah hati, dijauhkan dari ujub dan kesombongan, serta diberi husnul khatimah. Aamiin.
Kalau kamu mau, saya bisa buatkan versi:
✅ lebih singkat (untuk status WA)
✅ lebih puitis (untuk caption IG)
✅ atau versi naskah kultum 5–7 menit.


