Jakarta, infoDKJ.com | Selasa, 13 Januari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Peristiwa agung Isra dan Mi’raj Rasulullah ï·º, yang terjadi pada 27 Rajab, setahun sebelum hijrah, merupakan peristiwa luar biasa yang hanya terjadi sekali dalam sejarah umat manusia. Isra adalah perjalanan malam Rasulullah ï·º dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, sedangkan Mi’raj adalah kenaikan beliau ke hadirat Allah ï·». Peristiwa suci ini sarat dengan pesan aqidah, syari’ah, dan akhlak.
Salah satu inti terpenting dari peristiwa Isra dan Mi’raj adalah diwajibkannya salat. Hal ini menunjukkan betapa agung dan urgennya salat dalam kehidupan seorang mukmin. Salat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan media komunikasi langsung antara hamba dan Penciptanya.
Allah ï·» berfirman:
“Dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”
(QS. Thaha: 14)
Rasulullah ï·º juga menegaskan kedudukan salat sebagai fondasi utama agama:
“Salat itu adalah tiang agama.”
(HR. Baihaqi)
Para ulama dan sahabat Rasulullah ï·º menjelaskan bahwa salat mengandung banyak keutamaan dan manfaat besar, di antaranya:
1. Cahaya Wajah dan Hati
Salat menjadikan wajah bercahaya dan hati dipenuhi cahaya iman. Rasulullah ï·º bersabda:
“Salat seseorang adalah cahaya dalam hatinya.”
(HR. Ad-Dailami)
Hati yang bercahaya akan melahirkan akhlak yang baik dan perilaku yang terjaga.
2. Kesehatan Jasmani dan Ruhani
Salat merupakan penenang dan penyembuh bagi jiwa dan raga. Rasulullah ï·º bersabda:
“Bangunlah dan salatlah, karena sesungguhnya salat itu adalah obat.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
3. Teman Setia di Alam Kubur
Salat akan menjadi amal yang menemani seorang hamba di alam kubur dan mengubah kuburnya menjadi taman surga bagi orang yang ikhlas dan istiqamah melaksanakannya.
4. Turunnya Rahmat dan Ampunan Allah
Dalam setiap salat, seorang hamba memohon ampunan dan rahmat Allah ï·». Allah berfirman:
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.”
(QS. Al-Baqarah: 45)
5. Sarana Kedekatan dengan Allah ï·»
Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra menegaskan bahwa salat adalah sarana resmi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah ï·º bersabda:
“Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sujud.”
(HR. Muslim)
6. Pemberat Timbangan Amal di Akhirat
Salat menjadi penentu berat-ringannya timbangan amal seseorang di hari kiamat:
“Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan.”
(QS. Al-Qari’ah: 6–7)
7. Sebab Ridha Allah dan Jalan Menuju Surga
Salat yang dijaga dengan khusyuk menjadi sebab turunnya ridha Allah dan jalan menuju surga. Rasulullah ï·º bersabda:
“Barang siapa menjaga salatnya, maka ia akan memperoleh cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat.”
(HR. Ahmad)
Penutup
Peringatan Isra dan Mi’raj hendaknya menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen salat dalam kehidupan sehari-hari. Salat bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan ruhani yang menghidupkan jiwa, menenangkan hati, dan menyelamatkan manusia di dunia serta akhirat.
Mari kita sempurnakan salat fardhu dan sunnah, sebagai wujud syukur dan penghambaan kepada Allah ï·».
Semoga Allah memuliakan dan memberkahi kita semua. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


