Jakarta, infoDKJ.com | Rabu, 11 Februari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Dalam kehidupan, manusia hampir tak pernah berhenti memikirkan masa depan. Ada yang optimistis karena membayangkan keberhasilan, ada pula yang cemas karena membayangkan kegagalan. Pikiran manusia mudah berkelana melampaui waktu yang belum terjadi. Padahal masa depan adalah wilayah ghaib yang sepenuhnya berada dalam pengetahuan Allah SWT.
Islam tidak melarang perencanaan. Bahkan, perencanaan adalah bagian dari ikhtiar yang diperintahkan. Namun Islam juga menegaskan bahwa prediksi bukanlah kepastian. Di atas seluruh rencana manusia, ada kehendak Allah yang menentukan hasil akhirnya.
Allah berfirman:
“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,’ kecuali dengan menyebut: ‘Insya Allah.’”
(QS. Al-Kahfi: 23–24)
Ayat ini mengajarkan adab spiritual yang mendalam. Manusia boleh merencanakan, tetapi ia harus menyadari keterbatasannya. Ucapan insya Allah bukan sekadar kebiasaan lisan, melainkan pengakuan batin bahwa masa depan berada dalam genggaman Allah.
Prediksi Manusia, Takdir Allah
Sering kali manusia menilai sesuatu baik menurut akalnya, namun hasilnya justru sebaliknya. Atau ia takut terhadap sesuatu yang diperkirakan buruk, ternyata di baliknya tersimpan kebaikan besar. Allah mengingatkan:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini menjadi penyeimbang batin. Ia menenangkan mereka yang cemas, sekaligus merendahkan mereka yang terlalu percaya diri. Pengetahuan manusia terbatas, sedangkan ilmu Allah meliputi segala sesuatu.
Ketika seseorang memahami ayat ini dengan sungguh-sungguh, ia akan lebih tenang menghadapi ketidakpastian. Ia sadar bahwa tidak semua yang diinginkan pasti baik, dan tidak semua yang dihindari pasti buruk.
Kewajiban Manusia Adalah Ikhtiar
Dalam Islam, keberhasilan bukanlah kewajiban manusia. Yang diwajibkan adalah usaha. Hasil adalah hak prerogatif Allah.
Nabi Muhammad ï·º bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi)
Perhatikan bahwa burung tetap terbang mencari makan. Ia tidak diam di sarang menunggu rezeki datang. Ini menunjukkan bahwa tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan usaha maksimal yang disertai penyerahan hati kepada Allah.
Dalam hadits lain, Rasulullah ï·º menegaskan:
“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”
(HR. Tirmidzi)
Hadits ini menanamkan kesadaran bahwa setelah semua strategi dilakukan, hati tetap bergantung kepada Sang Penentu hasil.
Menjaga Keseimbangan Hati
Ketenangan hidup terletak pada keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Terlalu mengandalkan perhitungan manusia dapat melahirkan kesombongan. Sebaliknya, terlalu pasrah tanpa usaha dapat melahirkan kemalasan. Islam mengajarkan jalan tengah: berusaha sekuat tenaga, lalu menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada Allah.
Allah berfirman:
“Kemudian apabila engkau telah bertekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”
(QS. Ali Imran: 159)
Ayat ini menunjukkan urutan spiritual yang jelas: tekad → usaha → tawakal. Bukan sebaliknya.
Kesimpulan
Masa depan bukan milik prediksi manusia, melainkan milik keputusan Allah. Karena itu, manusia tidak dituntut untuk memastikan hasil, tetapi dituntut untuk berikhtiar dengan sungguh-sungguh.
Ketika usaha dilakukan dengan sepenuh hati dan batin tetap terhubung kepada Allah, maka apa pun hasilnya akan terasa sebagai kebaikan. Sebab bagi seorang mukmin, keberhasilan sejati bukan selalu tercapainya rencana, melainkan terjaganya iman dalam setiap keadaan.
Di antara ikhtiar dan takdir, di sanalah hati diuji — apakah ia bergantung pada perhitungan manusia, atau bersandar kepada kebijaksanaan Allah.


