Jakarta, infoDKJ.com | Jumat, 20 Februari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Ramadan tidak pernah terburu-buru, tetapi manusialah yang sering lalai. Detik demi detik berjalan pasti, sementara hati kerap menunda taubat dan amal. Padahal waktu adalah makhluk Allah yang paling jujur—ia tidak pernah kembali dan tidak pernah menunggu siapa pun. Siapa yang menunda kebaikan, sejatinya sedang menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin tak akan pernah terulang.
Pesan ini pernah diungkapkan dalam syair lagu Bimbo Grup:
“Berbuat baik janganlah ditunda-tunda.”
Kalimat sederhana, namun sarat hikmah. Ia sejalan dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.
1. Waktu dalam Sumpah Allah
Allah menegaskan nilai waktu dengan sumpah-Nya:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Sumpah atas waktu menunjukkan bahwa waktu adalah modal utama manusia. Kerugian terbesar bukan karena kurangnya harta, tetapi karena habisnya waktu tanpa iman dan amal saleh.
2. Bahaya Menunda Taubat dan Amal
Allah memperingatkan tentang penyesalan saat ajal tiba:
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang saleh.’”
(QS. Al-Munafiqun: 10)
Ayat ini menggambarkan bahwa ketika waktu habis, manusia tidak meminta kembali untuk bersenang-senang, tetapi untuk beramal. Ini bukti bahwa kesempatan berbuat baik jauh lebih berharga daripada seluruh kenikmatan dunia.
3. Perintah Berlomba dalam Kebaikan
Islam tidak hanya menganjurkan kebaikan, tetapi juga memerintahkan untuk bersegera:
“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.”
(QS. Al-Baqarah: 148)
Berlomba berarti tidak menunda. Menunda kebaikan sama dengan kalah sebelum bertanding.
4. Hadits Nabi tentang Tidak Menunda Amal
Rasulullah ï·º bersabda:
“Bersegeralah kalian melakukan amal-amal saleh sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap.”
(HR. Muslim)
Beliau juga bersabda:
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
(HR. Al-Hakim, shahih)
Hadits ini menegaskan bahwa kesempatan beramal selalu terbatas. Kesehatan, waktu luang, usia, dan harta hanyalah titipan sementara.
5. Mengapa Manusia Sering Menunda?
Beberapa sebab manusia menunda kebaikan antara lain:
- Merasa masih memiliki banyak waktu
- Tertipu kesibukan dunia
- Menunggu kondisi ideal
- Terlena oleh kenyamanan
Padahal waktu tidak menunggu kesiapan kita. Justru amal kebaikanlah yang mempersiapkan diri kita.
Penutup Renungan
Jika langit saja tunduk pada aturan waktu—matahari terbit dan terbenam tanpa pernah terlambat—mengapa manusia merasa masih memiliki kesempatan panjang? Setiap detik yang berlalu adalah pesan Ilahi: lakukan kebaikan sekarang, bukan nanti.
Kesimpulan
Menunda kebaikan adalah kerugian yang sering tak disadari. Orang bijak bukanlah yang menunggu waktu luang untuk beribadah, melainkan yang memanfaatkan waktu apa pun untuk mendekat kepada Allah.
Karena kita tidak pernah tahu, apakah kesempatan berikutnya masih menjadi milik kita.


