Manusia berjalan dengan dua kaki ke depan, tidak berjalan mundur. Setiap detik, menit, dan hari yang ia lalui sesungguhnya adalah perjalanan menuju masa depan. Menuju ke mana?
Menuju kematian.
Menuju akhirat.
Menuju Allah.
Karena itu, ketika seorang muslim mendengar kabar kematian, ia mengucapkan:
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.
Artinya, manusia sedang dalam perjalanan (safar). Allah pun mengingatkan:
فَفِرُّوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗاِنِّيْ لَكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ
“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu.”
(QS. Adz-Dzariyat: 50)
Ikutilah aturan Allah agar tidak tersesat:
فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ اِلَّا الضَّلٰلُ ۖفَاَنّٰى تُصْرَفُوْنَ
“Maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu berpaling?”
(QS. Yunus: 32)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.”
(HR. Bukhari)
Perjalanan Manusia: Dua Gerbong
Perjalanan hidup manusia diibaratkan seperti kereta dengan dua gerbong:
1. Gerbong Orang Beriman – Sabilul Mukminin
“…dan mengikuti jalan orang-orang mukmin…”
(QS. An-Nisa’: 115)
Gerbong ini menuju surga.
Masinis, kru, dan penumpangnya melewati stasiun-stasiun kebaikan hingga sampai ke tujuan akhir: ridha Allah dan surga-Nya.
2. Gerbong Kaum Berdosa – Sabilul Mujrimin
“…agar terlihat jelas jalan orang-orang yang berdosa.”
(QS. Al-An’am: 55)
Gerbong ini menuju neraka.
Masinis, kru, dan penumpangnya melewati stasiun-stasiun keburukan hingga berakhir di Jahanam.
Allah menegaskan:
“Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni surga; para penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.”
(QS. Al-Hasyr: 20)
Ramadhan: Bukti Kita di Gerbong Mana
Ramadhan adalah bukti seseorang memilih gerbong yang mana.
Jika ia ingin safarnya selamat, maka ia harus berada di gerbong orang beriman dan melewati stasiun:
- Syahadat
- Shalat
- Puasa
- Zakat
- Haji
- Amar ma’ruf nahi munkar
- Jihad fi sabilillah
Hingga masuk surga melalui delapan pintunya.
Adapun gerbong kedua melewati stasiun:
Empat Sikap Umat Islam
Umat Islam terbagi menjadi empat golongan dalam menyikapi dua gerbong ini:
Pertama
Menyadari adanya dua gerbong, lalu bergabung dengan gerbong orang beriman serta memperingatkan orang lain agar tidak tergabung dengan gerbong kebinasaan.
Kedua
Sadar dan memilih gerbong orang beriman, tetapi tidak peduli dengan keadaan gerbong kedua.
Ketiga
Muslim yang justru sadar tetapi memilih bergabung dengan gerbong kedua.
Kalaupun tidak setuju, ia hanya pindah kursi—namun tetap berada di kereta yang menuju kebinasaan.
Jalan selamatnya hanya satu: bertaubat dan pindah ke gerbong pertama.
Keempat
Orang awam yang tidak peduli gerbong mana yang dinaiki.
Yang penting baginya hanya sandang, pangan, dan papan.
Kadang demi beras, gula, mie instan, atau sedikit uang, ia mengorbankan agamanya.
Na’udzu billahi min dzalik.
Akhir Perjalanan
Tentang gerbong orang kafir, Allah berfirman:
“Orang-orang yang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berombongan…”
(QS. Az-Zumar: 71–72)
Dan tentang gerbong orang bertakwa:
“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan…”
(QS. Az-Zumar: 73–74)
Semoga kita dan keluarga diselamatkan Allah, tergabung dalam rombongan orang-orang yang bertakwa, dan dimasukkan ke dalam surga-Nya.
Wallahu a’lam.


