JAKARTA BARAT, infoDKJ.com | Menjelang tengah malam, saat sebagian warga bersiap beristirahat, Camat Tambora Pangestu Aji Swandhanu justru berdiri di barisan terdepan. Sabtu (28/2/2026) pukul 22.00 WIB, ia mengonsolidasikan 94 personel gabungan dalam Apel Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD) di Jalan Kalianyar X, Tambora.
Pesan yang ia sampaikan tegas dan lugas: keamanan wilayah adalah tanggung jawab bersama.
“Kampung kita kalau bukan kita siapa lagi,” ujar Pangestu di hadapan unsur Polri, TNI, Satpol PP, Damkar, serta elemen masyarakat.
Apel tersebut bukan sekadar seremoni. Ini adalah penguatan barisan menghadapi potensi gangguan kamtibmas selama Ramadhan — mulai dari tawuran warga, geng motor, begal, hingga aktivitas sahur keliling yang berpotensi memicu gesekan.
Strategi Preventif Wilayah Padat
Tambora dikenal sebagai salah satu wilayah terpadat di Jakarta Barat, dengan dinamika sosial yang tinggi. Karena itu, pendekatan yang diambil bukan hanya represif, tetapi juga preventif dan kolaboratif.
Kapolsek Tambora AKP Wahyu Hidayat, S.T.K., S.I.K., yang memimpin teknis apel bersama Wakapolsek dan Tim Asistensi Polres Metro Jakarta Barat, menginstruksikan patroli maksimal dengan rute variatif serta penindakan persuasif terhadap kelompok pemuda yang nongkrong hingga larut malam.
Namun, arah kebijakan wilayah ditekankan oleh Camat Tambora: stabilitas lingkungan harus dijaga secara kolektif, dari tingkat RT-RW hingga aparat keamanan.
94 Personel, Satu Komitmen
Total 94 personel gabungan dikerahkan, terdiri dari unsur Polri, TNI, ASN kecamatan, Satpol PP, Damkar, relawan, Citra Bhayangkara, Mitra Jaya, FKDM, LMK, RT-RW, hingga Karang Taruna.
Kekuatan lintas sektor ini menjadi sinyal kuat bahwa Tambora tidak ingin kecolongan pada momentum Ramadhan.
Selain patroli mobile, pengamanan strong point dan pemantauan titik rawan menjadi prioritas. Evaluasi pos pantau dilakukan untuk memastikan respons cepat jika terjadi gangguan.
Target: Tambora Zero Tawuran
Dalam arahannya, Camat Pangestu juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan dan soliditas di tengah cuaca pancaroba. Ia menegaskan, Ramadhan harus menjadi momentum memperkuat kebersamaan, bukan memicu konflik.
Target yang digaungkan malam itu jelas: Tambora Zero Tawuran.
Langkah preventif yang dilakukan menunjukkan bahwa Pemerintah Kecamatan Tambora tidak menunggu insiden terjadi. Mereka memilih bergerak lebih dulu.
Dengan sinergi Tiga Pilar dan elemen masyarakat, Tambora mengirim pesan tegas: wilayah ini siaga, terkoordinasi, dan siap menjaga Ramadhan tetap aman dan kondusif.
(Pray)


