Ustadz Farid Okbah
Ciptaan Allah begitu beragam dan tak terhingga. Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api, dan manusia diciptakan dari tanah.
Namun di antara semua itu, manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
(QS. At-Tin: 4)
Manusia terdiri dari dua unsur utama: jasmani dan rohani. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِّن طِينٍ
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.’”
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
“Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
(QS. Shad: 71–72)
Dalam ayat tersebut, jasmani dikaitkan dengan tanah, sedangkan rohani dikaitkan dengan Allah. Karena itulah para malaikat diperintahkan sujud kepada Nabi Adam ‘alaihissalam.
Sebagai analogi sederhana, manusia seperti perangkat: ada hardware (jasmani) dan software (rohani). Apa arti hardware tanpa software?
Hal ini sejalan dengan lirik lagu kebangsaan kita:
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya...
Keduanya penting, namun rohani memiliki peran yang sangat besar.
Virus seperti corona menyerang jasmani. Namun ketika dampaknya merembet ke rohani—seperti stres, depresi, pikiran negatif, marah, takut, dan gelisah—maka muncullah gangguan psikosomatik.
Karena itu, dapat digambarkan bahwa:
- Jasmani: sekitar 20%
- Rohani: sekitar 80%
Maka rohani harus dijaga agar tidak runtuh. Caranya adalah dengan berdzikir.
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Menurut penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Baari, dzikir memiliki beberapa bentuk:
- Dzikir mata: menangis karena Allah
- Dzikir telinga: mendengarkan kebenaran
- Dzikir lisan: memuji dan menyebut nama Allah
- Dzikir tangan: memberi dan berbuat kebaikan
- Dzikir anggota tubuh: digunakan untuk ketaatan
- Dzikir hati (qalbu): rasa takut, harap, dan cinta kepada Allah
- Dzikir ruh: pasrah sepenuhnya kepada Allah
Allah juga mengingatkan agar manusia tidak lalai karena harta dan anak:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ...
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah...”
(QS. Al-Munafiqun: 9)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dunia dan seisinya dilaknat, kecuali yang digunakan untuk mengingat Allah.”
(HR. Tirmidzi, hasan)
Karena itu, mari manfaatkan hidup ini untuk selalu dekat dengan dzikir. Sebab banyaknya kejahatan manusia berawal dari lupa kepada Allah:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ...
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri...”
(QS. Al-Hasyr: 19)
Jangan pernah berhenti berdzikir, hingga di akhir hayat kita mampu mengucapkan kalimat tauhid:
لا إله إلا الله
Laa ilaaha illallah
Semoga kita semua diberikan husnul khatimah. Aamiin.


