Jakarta, infoDKJ.com | Jum'at, 27 Maret 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Salah satu penyesalan terbesar dalam hidup adalah ketika seseorang menyadari di masa tua bahwa dirinya tidak memahami agama dengan baik. Masa muda yang seharusnya diisi dengan menuntut ilmu, justru terlewat begitu saja.
Sebagaimana disebutkan dalam sebuah atsar:
“Siapa yang tidak mau bersusah payah duduk menuntut ilmu agama di masa muda, maka di masa tua ia tidak bisa duduk dengan tenang.”
(Al-‘Aqdul Farid, 2:271)
Bahaya Jahil dalam Agama
Ketidaktahuan dalam agama bukan sekadar kekurangan, tetapi bisa menjadi sumber bahaya. Seperti halnya seorang dokter yang salah memberi obat karena kebodohannya, maka akibatnya bisa membahayakan pasien.
Demikian pula seseorang yang tidak memahami ilmu agama. Ia tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga bisa menyesatkan orang lain yang mencontoh perbuatannya.
Allah Ta’ala telah menegaskan pentingnya ilmu sebelum amal:
“Maka ketahuilah (ilmuilah)! Bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan mohonlah ampun atas dosamu.”
(QS. Muhammad: 19)
Dalam ayat ini, Allah memulai dengan perintah untuk berilmu, kemudian diikuti dengan perintah beramal. Ini menunjukkan bahwa ilmu harus didahulukan sebelum amal.
Ilmu adalah Dasar Segala Amal
Segala bentuk ibadah membutuhkan ilmu sebagai landasannya:
- Ingin shalat → harus dengan ilmu
- Ingin berpuasa → harus dengan ilmu
- Ingin berdagang → harus memahami hukum-hukum muamalah
- Ingin beraqidah yang benar → harus dengan ilmu
Sufyan bin ‘Uyainah menegaskan makna ayat tersebut:
“Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai dengan ‘ilmuilah’, kemudian memerintahkan untuk beramal?”
(Fathul Bari, 1/108)
Al-Muhallab rahimahullah juga berkata:
“Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang didahului dengan ilmu.”
(Syarh Shahih Bukhari, 1/144)
Amal Tanpa Ilmu: Sia-sia dan Tertolak
Tanpa ilmu, seseorang bisa terjerumus dalam amalan yang tidak sesuai tuntunan. Misalnya:
- Mengarang tata cara ibadah yang tidak diajarkan Nabi
- Mengamalkan sesuatu tanpa dasar dalil
- Melakukan praktik muamalah yang mengandung riba tanpa disadari
Semua itu bisa berujung pada amalan yang sia-sia.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”
(HR. Muslim no. 1718)
Ilmu Memimpin, Amal Mengikuti
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Ilmu adalah pemimpin amal dan amal itu mengikuti setelahnya.”
(Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)
Begitu pula Umar bin Abdul Aziz رØÙ…Ù‡ الله mengatakan:
“Barangsiapa beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkan lebih banyak daripada kebaikan.”
(Al-Amru bil Ma’ruf, hal. 15)
Penutup
Ilmu adalah cahaya yang membimbing setiap amal. Tanpa ilmu, seseorang mudah tersesat dalam ibadah maupun kehidupan sehari-hari.
Maka, jangan sampai kita menyesal di masa tua karena lalai menuntut ilmu agama di masa muda.
Mulailah dari sekarang—belajar, memahami, dan mengamalkan agama dengan benar sesuai tuntunan Rasulullah ï·º.
Baarakallahu fiikum
Semoga bermanfaat.


