Nama Allah Ar-Rahman mengandung arti rahmat Allah yang luas, diberikan kepada seluruh makhluk-Nya tanpa batas di dunia. Terlebih lagi kepada kita sebagai manusia. Jika kita mencoba menghitungnya, tidak akan mampu, walaupun dengan kalkulator secanggih apa pun.
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS. Ibrahim: 34)
Nikmat sekecil apa pun yang kita peroleh, semuanya berasal dari Allah:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah.”
(QS. An-Nahl: 53)
Dan semua nikmat itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.”
(QS. At-Takatsur: 8)
Rasulullah ﷺ bersabda:
«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu (merugi) padanya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
Jenis Nikmat Menurut Ulama
Nikmat terbagi menjadi dua:
1. Nikmat Pokok
Seperti:
2. Nikmat Cabang
Seperti:
- Harta
- Pasangan
- Anak
- Jabatan
- Ijazah
Allah menjelaskan kebahagiaan orang yang diberi hidayah Islam:
أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ...
“Maka apakah orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”
(QS. Az-Zumar: 22)
Bahkan kita diperintahkan untuk bergembira dengan Islam dan Al-Qur’an melebihi harta dunia:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
“Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
(QS. Yunus: 57–58)
Renungan
Apakah kita sudah menyadari besarnya nikmat Allah?
Contoh: nikmat waktu
Sudahkah kita memaksimalkannya dalam ketaatan?
Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata:
“Aku membenci seseorang yang tidak sibuk dalam urusan dunia, dan tidak pula sibuk dalam urusan akhirat.”
(HR. Abu Dawud)
Teladan Ulama
Ibnu Aqil Al-Hambali berkata:
“Aku tidak mau menyia-nyiakan waktuku sedikit pun. Jika lisanku lelah berbicara dan berdebat, tanganku lelah menulis, maka aku gunakan akalku untuk berpikir sambil berbaring.”
Subhanallah.
Tentang Syukur
Sudahkah kita bersyukur atas nikmat Allah?
Manusia yang materialistis seringkali:
- Mencari keuntungan dari penderitaan orang lain
- Mengabaikan rasa syukur
Padahal, jika manusia mau bersyukur, tidak ada alasan untuk dihukum oleh Allah:
مَّا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ
“Allah tidak akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman.”
(QS. An-Nisa: 147)
Lima Cara Bersyukur (Imam Al-Qashimi)
- Mengagungkan Allah
- Mencintai Allah melebihi segalanya
- Mengakui semua nikmat berasal dari Allah
- Mengucapkan Alhamdulillah
- Menggunakan nikmat untuk taat kepada Allah
Maka pantaslah Allah berulang kali bertanya dalam Surah Ar-Rahman:
“Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
اللهم سلم سلم
“Ya Allah, selamatkanlah kami, selamatkanlah kami.”


