Pola perubahan manusia yang paling signifikan adalah melalui pendidikan. Dalam sejarah pemikiran manusia, terdapat berbagai teori pendidikan: ada teori yang bersumber dari wahyu, dan ada pula teori yang lahir dari pemikiran manusia. Ada pola Barat, pola Timur, dan juga pola Islam.
Enam orang profesor pendidikan di Mesir pernah meneliti berbagai teori pendidikan tersebut. Mereka mengkaji berbagai pendekatan, termasuk teori yang dianggap paling maju seperti yang berkembang di Barat dan Israel.
Teori Pendidikan Barat
Barat umumnya menggunakan teori sekularisme, yaitu memisahkan agama dari kehidupan publik. Dalam pandangan ini, agama ditempatkan sebagai urusan pribadi, sementara urusan negara dan pendidikan dipisahkan dari nilai-nilai agama.
Teori ini pernah digaungkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana dalam artikelnya tahun 1935 berjudul Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru. Ia mendorong bangsa Indonesia untuk mengikuti pola Barat dan meninggalkan sebagian budaya lokal yang dianggap tidak sejalan dengan modernitas.
Pandangan serupa juga pernah muncul dalam pemikiran Soekarno yang terinspirasi dari model Turki modern. Pada tahun 1940 ia menulis artikel berjudul Memudakan Islam. Pemikiran tersebut kemudian mendapat tanggapan dan kritik dari tokoh-tokoh intelektual Muslim saat itu, seperti A. Hasan dan M. Natsir.
Model Pendidikan Israel
Berbeda dengan Barat, sistem pendidikan di Israel justru memiliki fondasi yang kuat pada identitas mereka. Pendidikan mereka dibangun di atas tiga pilar utama:
- Kembali kepada ajaran agama Yahudi
- Mendorong kebebasan berpikir
- Menguasai teknologi
Model ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu harus meninggalkan identitas keagamaan.
Kritik terhadap Pendidikan Dunia Islam
Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, kelemahan utama pendidikan di dunia Islam adalah loss of adab (hilangnya adab), yang kemudian melahirkan confusion of knowledge (kekacauan dalam memahami ilmu).
Sementara itu, Prof. B.J. Habibie pernah menegaskan bahwa pendidikan yang ideal harus menggabungkan dua unsur utama:
- Imtaq (Iman dan Taqwa)
- Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi)
Keduanya harus berjalan seimbang agar lahir generasi yang unggul secara moral dan intelektual.
Pendidikan dalam Konstitusi Indonesia
Dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan:
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur...”
Sementara Pasal 31 UUD 1945 menegaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Secara teoritis, tujuan pendidikan Indonesia sangat mulia. Namun dalam praktiknya, realitas seringkali menunjukkan hal yang berbeda. Kita masih menyaksikan berbagai persoalan moral seperti korupsi, krisis integritas, dan berbagai bentuk dekadensi sosial.
Bahkan di banyak sekolah kita menemukan slogan seperti:
“Cerdas, Terampil, Bertakwa.”
Menariknya, kata bertakwa justru diletakkan terakhir. Tidak mengherankan jika hasil pendidikan sering kali tidak melahirkan karakter yang kuat.
Seruan Perbaikan Pendidikan
Kondisi ini memunculkan berbagai kritik dari para pakar pendidikan. Dalam Lembaga Pengkajian MPR RI (24 Oktober 2017), sejumlah ahli menilai bahwa berbagai persoalan bangsa tidak lepas dari masalah dalam sistem pendidikan.
Prof. Dr. Anies Baswedan, ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan, juga menekankan pentingnya perbaikan pendidikan melalui tiga aspek utama:
- Pendidikan karakter
- Kompetensi
- Literasi
Pola Pendidikan Islam
Bagi umat Islam, pedoman pendidikan sebenarnya telah ada dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ. Sejarah membuktikan bahwa Rasulullah berhasil mendidik generasi sahabat yang kemudian mengubah peradaban dunia dan meruntuhkan dua kekuatan besar saat itu: Persia dan Romawi.
Mengapa kita tidak kembali merujuk kepada pola pendidikan ilahi tersebut?
Sering kali kita terlalu kagum pada sistem Barat dan Timur, padahal kita memiliki pedoman yang jauh lebih sempurna namun justru sering diabaikan.
Bulan Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali pola pendidikan kita agar mampu melahirkan generasi yang sukses di dunia dan di akhirat.
Konsep Pendidikan dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an menjelaskan tiga pilar utama dalam pendidikan manusia:
هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ
Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang (1) membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, (2) menyucikan jiwa mereka, dan (3) mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
(QS. Al-Jumu’ah: 2)
Ayat ini menunjukkan tiga tahapan pendidikan:
- Memperhatikan dan membina qalbu (hati)
- Menyucikan jiwa
- Mencerdaskan akal
Urutannya sangat jelas: qalbu terlebih dahulu, baru akal.
Pentingnya Memperbaiki Qalbu
Langkah pertama dalam pendidikan adalah memperbaiki qalbu. Jika hati manusia telah lurus dengan petunjuk Al-Qur’an, maka keinginan manusia akan menjadi benar.
فَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَجَاهِدْهُمْ بِهٖ جِهَادًا كَبِيْرًا
Maka janganlah engkau taati orang-orang kafir, dan berjuanglah terhadap mereka dengan Al-Qur’an dengan perjuangan yang besar.
(QS. Al-Furqan: 52)
اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا
Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an ataukah hati mereka telah terkunci?
(QS. Muhammad: 24)
Manusia bertindak berdasarkan keinginannya. Jika keinginannya baik, maka akal dan perilakunya akan mengikuti ke arah kebaikan. Sebaliknya, jika keinginannya buruk, maka akal dan tindakannya pun akan menuju ke arah keburukan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.
Sebagian ulama bahkan menyatakan bahwa niat mencakup sepertiga ilmu agama.
Niat yang benar dibangun di atas tauhid dan ketaatan kepada syariat Allah.
ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ
Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat dari agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.
(QS. Al-Jatsiyah: 18)
Bersambung…


