(Alumni UTM Jakarta / Pemerhati Masalah Sosial / Dewan Penasehat Dinamika Jurnalis Progresif DPW DKI Jakarta)
Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M atau usai melaksanakan Sholat Ied, kalangan masyarakat yang tinggal di berbagai kota besar di Indonesia atau di luar negeri berbondong-bondong mudik atau pulang kembali ke kampung halaman. Tradisi ini sudah dilakukan beberapa puluh tahun yang lalu dan masih berlaku hingga saat ini.
Mudik atau pulang kampung dilakukan dalam rangka menjenguk orangtua dan bersilaturahmi dengan sanak, saudara, kerabat serta keluarga besar. Pemudik pulang bukan ingin menunjukkan kesuksesan atau memamerkan keberhasilan. Lebih tepatnya, mudik menjadi tradisi dan budaya kearifan lokal yang masih melekat, khususnya di Indonesia.
Di tengah hiruk pikuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, tradisi mudik terus berkembang dan membudaya. Mudik tidak lekang oleh waktu, tumbuh menjadi budaya di tengah peradaban dan kehidupan sosial yang semakin modern.
Mudik menjadi padanan kata atau frase pulang kampung. Dalam bahasa Betawi, "mudik" berarti kembali ke udik (desa/kampung) atau hulu sungai. Mudik berarti melakukan perjalanan ke udik. Kebalikan dari "mudik" adalah "milir" yang memiliki arti pergi ke hilir atau ke kota. Makna mudik secara harfiah berarti pergi berlayar ke hulu sungai (lawan kata mudik adalah "milir" atau pergi ke hilir).
Pada perkembangannya dalam konteks sosial, "mudik" menjadi ungkapan dan tradisi perantau dari Jakarta pulang ke kampung halamannya (1979). Masyarakat Betawi menyebut orang yang kembali ke kampung dengan sebutan "mudik" menuju ke udik atau melakukan perjalanan pulang ke udik (baik dari Jakarta atau kota lainnya di Indonesia bahkan dari manca negara).
Lebaran bukan berasal dari bahasa Arab atau Timur Tengah. Lebaran adalah sebutan khas Indonesia untuk Hari Raya Idul Fitri (1 Syawal) yang menandai berakhirnya ibadah puasa Ramadan. Namun, lebaran berasal dari bahasa Jawa yang berarti bubar atau selesai. Secara harfiah, "lebar" dimaknai sebagai sesuatu yang sudah selesai atau tuntas.
Lebaran sering dikaitkan dengan:
- lebar (lapang dada)
- luber (melimpahnya rezeki)
- lebur (hancur/melebur dosa-dosa)
- labur (cat/penyucian)
Lebaran menjadi momen refleksi diri, silaturahmi, dan kembali ke fitri (makan dan minum) setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan.
Secara Filosofi "Lebaran" dalam Kebudayaan Jawa Memiliki Empat Makna
1. Lebaran
Memiliki kata dasar "lebar", bubar, selesai atau rampung, artinya sudah merampungkan kewajiban melaksanakan perintah Allah yaitu menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
(QS. Al-Baqarah: 183)
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Kata "lebar" juga diartikan lapang dada atau memiliki sifat kesabaran serta memiliki hati seluas samudera.
(QS. Az-Zumar: 10)
Artinya:
"Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.' Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan."
2. Luberan
Berasal dari kata dasar "luber" yang berarti berlebih (meluber atau melimpah). Hal ini merupakan simbol bahwa Hari Raya Idul Fitri Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan rezeki yang melimpah dan tak terhitung agar kita bisa berbagi dengan sesama.
Hal ini menumbuhkan sifat kepedulian sosial sehingga kehidupan ke depan dapat saling membantu dan berbagi.
(QS. Al-Maidah: 2)
Artinya:
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya."
3. Laburan
Memiliki kata dasar "labur" yang berarti cat. Laburan adalah melakukan pengecatan rumah (diwarnai putih) sebagai simbol penyucian diri.
Bulan Ramadan adalah momentum membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs), yaitu proses penyucian hati dari sifat-sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat terpuji untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tahapan dalam tazkiyatun nafs:
- Takhalli: Membersihkan hati dari maksiat, lahir maupun batin
- Tahalli: Mengisi jiwa dengan sifat terpuji (ikhlas, sabar, syukur, taubat) dan ibadah
- Tajalli: Terungkapnya cahaya ketuhanan dalam hati
(QS. Asy-Syams: 9)
Artinya:
"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya."
4. Leburan
Berasal dari kata "lebur" yang berarti hancur atau melebur. Leburan bermakna melebur dosa-dosa dengan saling memaafkan antara orangtua, saudara, keluarga, dan kerabat.
Sehingga Idul Fitri menjadi momen kebatinan yang hangat karena telah saling memaafkan.
(QS. Asy-Syura: 40)
Artinya:
"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas tanggungan Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim."
Penutup
Demikianlah makna lebaran sebagai hari kemenangan bagi umat Islam. Untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 H, diawali dengan menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan.
Merayakan lebaran berarti menikmati hari kemenangan. Harapannya, para pemudik tetap rendah hati, selalu ingat orangtua dan kampung halaman, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, pencipta alam semesta dan seisinya.
(Disarikan dari berbagai sumber)


