Jakarta, infoDKJ.com | Jum'at, 24 April 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Dalam menjalani kehidupan dunia, sering kali seorang Muslim fokus pada peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah SWT. Shalat dijaga, puasa rutin dikerjakan, sedekah terus mengalir, dan lisan senantiasa berdzikir.
Namun, ada satu hal penting yang kadang terlupakan, yaitu hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas).
Tanpa disadari, dosa kepada sesama bisa menjadi “kebocoran” yang menghabiskan pahala yang telah kita kumpulkan. Inilah yang dikenal dengan istilah orang bangkrut di akhirat, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah ï·º.
Siapakah Orang yang Bangkrut (Muflis)?
Biasanya, kita menganggap bangkrut itu berarti tidak punya uang atau harta. Tapi Rasulullah ï·º memberikan gambaran yang jauh lebih dalam.
Dalam hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah ï·º bersabda:
“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?”
Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki harta.”
Rasulullah ï·º bersabda,
“Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia datang dalam keadaan telah mencaci, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Maka pahala-pahalanya diberikan kepada mereka. Jika pahala habis sebelum hak mereka terpenuhi, maka dosa mereka dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.”
(HR. Muslim No. 2581)
Hadits ini jadi pengingat keras bahwa banyak ibadah saja tidak cukup, kalau kita masih menyakiti orang lain.
Mengapa Amal Bisa Habis?
Amal ibadah itu seperti tabungan. Tapi perbuatan zalim kepada orang lain bisa jadi “pencuri” yang mengurasnya di akhirat.
Beberapa hal yang sering dianggap sepele, padahal sangat berbahaya:
1. Lisan yang Menyakiti
Seperti mencaci, memfitnah, atau menggunjing (ghibah).
Allah SWT berfirman:
“Janganlah kamu menggunjing satu sama lain...”
(QS. Al-Hujurat: 12)
2. Zalim dalam Harta
Mengambil hak orang lain, korupsi, mencuri, atau menunda pembayaran hutang tanpa alasan.
3. Merendahkan Orang Lain
Merasa lebih baik dan meremehkan orang lain.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika ia merendahkan saudaranya.”
(HR. Muslim)
Pentingnya Menjaga Keseimbangan
Dalam Islam, hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia harus seimbang.
Rajin ibadah saja tidak cukup, kalau:
- masih menyakiti orang lain
- masih mengambil hak orang lain
- masih menjaga ego dan kesombongan
Seorang Muslim yang cerdas bukan hanya rajin mengumpulkan pahala, tapi juga menjaga agar pahalanya tidak hilang.
Langkah Praktis yang Bisa Dilakukan
Beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan:
- Muhasabah diri → cek, apakah kita pernah menyakiti orang lain
- Minta maaf → jangan ditunda
- Selesaikan hak orang lain → lunasi hutang, kembalikan yang bukan milik kita
- Jaga lisan → pikir dulu sebelum bicara
- Perbaiki akhlak → karena akhlak baik sangat berat di timbangan amal
Penutup: Jangan Sampai Bangkrut di Akhirat
Mari kita renungkan kembali tujuan ibadah kita.
Jangan sampai kita terlihat rajin beribadah di dunia, tapi justru menjadi orang yang paling rugi di akhirat karena menyakiti sesama.
Karena pada akhirnya, bukan hanya banyaknya amal yang penting, tapi juga bersihnya amal dari kezaliman terhadap orang lain.


