Jakarta, infoDKJ.com | Jum'at, 24 April 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Dalam kehidupan seorang muslim, rezeki bukan sekadar persoalan terpenuhi atau tidaknya kebutuhan jasmani. Lebih dari itu, rezeki—terutama yang masuk melalui makanan dan minuman—memiliki pengaruh besar terhadap hati, akal, dan perilaku seseorang. Apa yang dikonsumsi bukan hanya menguatkan tubuh, tetapi juga membentuk kecenderungan karakter.
Seorang anak lahir dalam keadaan suci, sebagaimana sabda Rasulullah ï·º:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa lingkungan, khususnya orang tua, memiliki peran besar dalam membentuk arah kehidupan anak. Salah satu bentuk pendidikan paling mendasar adalah apa yang diberikan kepada anak dalam bentuk makanan dan minuman, baik dari segi zat maupun cara memperolehnya.
Rezeki Halal sebagai Sumber Kebaikan
Allah Ø³Ø¨ØØ§Ù†Ù‡ وتعالى memerintahkan manusia untuk mengonsumsi yang halal dan baik:
“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik yang terdapat di bumi…”
(QS. Al-Baqarah: 168)
Ayat ini tidak hanya menekankan kehalalan, tetapi juga kebaikan (thayyib). Halal berkaitan dengan hukum, sedangkan thayyib berkaitan dengan kualitas dan keberkahan. Makanan yang halal dan baik akan menumbuhkan hati yang bersih, pikiran yang jernih, serta kecenderungan kepada kebaikan.
Rasulullah ï·º juga bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik…”
(HR. Muslim)
Dalam lanjutan hadits tersebut dijelaskan tentang seseorang yang berdoa, namun makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram. Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan? Hal ini menunjukkan bahwa rezeki yang haram dapat menjadi penghalang turunnya keberkahan, bahkan dalam ibadah sekalipun.
Rezeki Haram dan Dampaknya terhadap Jiwa
Makanan dan minuman yang berasal dari jalan haram—baik zatnya maupun cara memperolehnya—akan memberi pengaruh negatif pada hati. Hati yang terbiasa dengan yang haram cenderung menjadi keras, sulit menerima nasihat, dan mudah condong kepada perbuatan maksiat.
Allah Ø³Ø¨ØØ§Ù†Ù‡ وتعالى berfirman:
“Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil…”
(QS. Al-Baqarah: 188)
Ayat ini menegaskan larangan memperoleh rezeki dengan cara yang tidak benar. Ketika sesuatu yang haram menjadi bagian dari tubuh seseorang, maka ia akan cenderung tertarik pada hal-hal yang serupa—yaitu keburukan dan kemaksiatan.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari yang haram, neraka lebih pantas baginya.”
(HR. Ahmad)
Hadits ini menjadi peringatan keras bahwa apa yang dikonsumsi akan berimplikasi besar terhadap nasib seseorang di akhirat.
Tanggung Jawab Orang Tua dalam Membentuk Generasi
Orang tua memegang peranan penting dalam menentukan arah karakter anak. Setiap suapan yang diberikan bukan sekadar mengenyangkan, tetapi juga menanamkan nilai dan membentuk kepribadian.
Jika seorang anak dibesarkan dengan rezeki yang halal, insyaAllah hatinya akan lebih lembut, mudah menerima kebenaran, dan condong kepada kebaikan. Sebaliknya, jika anak tumbuh dari asupan yang tidak halal, maka kecenderungan kepada hal-hal negatif akan lebih kuat.
Hal ini bukan semata-mata takdir tanpa sebab, melainkan hasil dari proses panjang yang dimulai dari apa yang masuk ke dalam tubuhnya.
Penutup
Rezeki halal bukan hanya urusan dunia, tetapi juga investasi akhirat. Ia membentuk hati yang bersih, karakter yang lurus, dan kehidupan yang penuh keberkahan. Sebaliknya, rezeki haram menjadi sumber kegelapan hati dan pintu menuju berbagai penyimpangan.
Oleh karena itu, setiap muslim—terutama orang tua—hendaknya berhati-hati dalam mencari dan memberikan rezeki. Karena dari situlah lahir generasi: apakah menjadi generasi yang dekat kepada Allah atau justru jauh dari-Nya.
Semoga Allah Ø³Ø¨ØØ§Ù†Ù‡ وتعالى menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga kehalalan rezeki, sehingga hidup kita penuh keberkahan dan anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang shalih dan shalihah. Aamiin.


