Jakarta Barat, infoDKJ.com | Upaya penguatan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) terus digencarkan di tingkat akar rumput. Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kelurahan Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, menggelar Lailatul Ijtima’ yang dirangkai dengan kajian kitab Arbain an-Nahdliyah, Jumat malam (24/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat PRNU Sukabumi Utara, Jalan Yusuf No. 1—kediaman Mustasyar MWC NU Kebon Jeruk Hudaya Hasyim (Bang Bondan)—ini dihadiri unsur Syuriah dan Tanfidziyah MWC NU Kebon Jeruk, para kiai, ustaz, hingga badan otonom seperti Ansor dan IPNU.
Kajian inti dipimpin oleh Ustadz M. Kayis Agil bin H. Astar, yang mengupas hadits ke-19 dan ke-20 dalam karya KH. Ma’ruf Khozin tersebut. Materi yang disampaikan berfokus pada amaliah keseharian warga Nahdliyin, khususnya terkait tata cara dan dasar hukum mendoakan jenazah setelah pemakaman.
“Kajian ini penting agar amaliah yang selama ini dijalankan warga NU memiliki landasan dalil yang kuat, sehingga tidak menimbulkan keraguan,” ujar Ustadz Kayis dalam pemaparannya.
Hadits yang dibahas menegaskan kesunnahan berdoa setelah penguburan serta anjuran mengangkat tangan saat mendoakan mayit. Materi tersebut dinilai relevan dalam memperkuat praktik keagamaan yang telah lama hidup di tengah masyarakat Nahdliyin.
Rois Syuriah PRNU Sukabumi Utara, Ust. Nurshobah Abdul Fatah, menegaskan bahwa Lailatul Ijtima’ bukan sekadar rutinitas, melainkan benteng ideologis bagi warga NU di tingkat ranting.
“Ini adalah ikhtiar menjaga tradisi keilmuan sekaligus memperkuat silaturahmi. Harapannya, warga semakin mantap dalam ber-Aswaja an-Nahdliyah,” ujarnya.
Antusiasme jamaah terlihat dari kehadiran lintas generasi. Mukhlis Haetami, salah satu peserta, menyebut kajian ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam sekaligus memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat.
Selain penguatan amaliah, forum tersebut juga menekankan pentingnya moderasi beragama (tawassuth). Warga Nahdliyin diimbau tetap menghormati perbedaan pandangan yang ada di tengah masyarakat.
“Perbedaan itu hal biasa. Yang penting kita tetap menjaga sikap saling menghormati demi keutuhan NKRI,” menjadi salah satu pesan utama yang mengemuka dalam diskusi.
Melalui kegiatan ini, PRNU Sukabumi Utara menegaskan komitmennya dalam merawat tradisi keislaman berbasis pesantren sekaligus memperkuat peran sosial keagamaan di tengah masyarakat perkotaan. (Yansen)



