Jakarta, infoDKJ.com | Minggu, 5 April 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Di balik sunyi kehidupan, sering kali kita menyaksikan keajaiban yang luput dari perhatian. Seekor makhluk melata yang tak memiliki penglihatan, burung yang terbang dengan sayap kecilnya, hingga mikroorganisme di kedalaman samudra—semuanya hidup dalam kecukupan yang telah ditetapkan-Nya. Mereka tidak memiliki kecemasan akan hari esok, namun perut mereka tetap kenyang.
Lantas, mengapa hati kita sebagai manusia sering kali didera gelisah? Mengapa kita seolah memikul beban dunia di pundak sendiri, seakan rezeki sepenuhnya bergantung pada kekuatan, kecerdasan, dan strategi kita semata?
1. Akal dan Kemampuan Hanyalah Titipan
Sering kali kita terjebak dalam anggapan bahwa keberhasilan adalah murni hasil jerih payah kita. Padahal, akal yang kita gunakan untuk berpikir dan raga yang kita gunakan untuk bekerja adalah titipan yang bisa diambil kapan saja. Rezeki bukanlah variabel matematika yang berbanding lurus dengan kehebatan manusia, melainkan aliran kasih sayang dari Sang Pencipta.
Allah SWT berfirman:
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya...”
(QS. Hud: 6)
Jika makhluk yang tak berakal saja dijamin rezekinya, bukankah aneh jika manusia yang diberi kemuliaan justru meragukan jaminan-Nya?
2. Berikhtiar Tanpa Bergantung
Islam tidak mengajarkan kita untuk berpangku tangan. Kita diperintahkan untuk melangkah dan berusaha. Namun titik krusialnya adalah: berusaha dengan tangan, tetapi tidak menggantungkan hati pada usaha tersebut.
Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang indah:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung. Ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi)
Burung tersebut tetap “pergi” (berikhtiar), namun ia tidak membawa beban kecemasan, karena hatinya bergantung kepada Sang Pemberi Rezeki.
3. Melampaui Pertanyaan “Bagaimana?”
Tawakal yang sejati adalah ketika hati tidak lagi sibuk mempertanyakan, “Bagaimana caranya saya bisa selamat?” atau “Bagaimana jika rencana saya gagal?” Sebaliknya, hati tenggelam dalam keyakinan bahwa semua telah diatur dengan skenario terbaik.
Ketika kita mampu melepaskan ketergantungan pada makhluk dan kekuatan diri sendiri, di situlah ketenangan (tuma’ninah) akan hadir. Kita melangkah tanpa takut, karena kita yakin bahwa hasil akhir bukan berada di tangan kita, melainkan di tangan Zat Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Kesimpulan
Belajarlah menenangkan jiwa. Gunakan akal untuk merencanakan, gunakan raga untuk berusaha, namun biarkan hati beristirahat dalam dekapan takdir-Nya. Rezeki tidak akan tertukar, dan apa yang ditakdirkan untukmu pasti akan menemukan jalannya.
“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
(QS. At-Talaq: 3)


