Jakarta, infoDKJ.com | Rabu, 6 Mei 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Menjadi pribadi yang lurus (istiqamah) di tengah lingkungan yang tidak sehat ibarat menggenggam bara api. Kisah si Fulan, seorang pengurus masjid yang dikucilkan dan difitnah karena integritasnya, memberikan kita pelajaran berharga bahwa kebenaran tidak selalu berbanding lurus dengan penerimaan manusia.
1. Fitnah sebagai Ujian bagi Orang Beriman
Banyak orang mengira bahwa berada di lingkungan masjid akan membebaskan mereka dari konflik duniawi. Padahal, Allah SWT telah menegaskan bahwa iman seseorang pasti akan diuji, termasuk melalui lisan dan tipu daya orang-orang di sekitarnya.
Allah SWT berfirman:
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi?" (QS. Al-Ankabut: 2)
Fitnah yang menimpa si Fulan bukanlah tanda kehinaan, melainkan cara Allah memisahkan mana emas dan mana loyang.
2. Pahitnya Pengkhianatan dan Keutamaan Menjaga Lisan
Dalam kisah tersebut, Fulan dikhianati oleh rekan tempat ia mencurahkan isi hati. Dalam Islam, membocorkan rahasia atau mengadu domba (namimah) adalah perbuatan yang sangat dicela. Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba (namimah)." (HR. Muslim)
Meski Fulan dizalimi oleh pimpinannya akibat aduan tersebut, kesabarannya untuk tidak membalas dengan keburukan yang sama menunjukkan kemuliaan akhlaknya.
3. Kekuatan Kesabaran Hingga Akhir Hayat (Husnul Khatimah)
Fulan memilih untuk bertahan hingga ajal menjemput. Ia tidak meninggalkan amanah hanya karena tekanan manusia. Inilah esensi dari jihad jiwa. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bagi mereka yang tetap teguh di tengah rusaknya zaman:
"Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api." (HR. Tirmidzi)
4. Warisan Terbaik: Pesan Keteguhan untuk Keturunan
Sebelum wafat, Fulan tidak mewariskan dendam, melainkan mentalitas pemenang. Pesannya kepada anak-anaknya agar tidak gentar menghadapi fitnah adalah bentuk implementasi dari keyakinan bahwa Ridho Allah adalah tujuan akhir.
Jika kita mengejar ridho manusia, kita akan lelah karena manusia tidak pernah puas. Namun jika kita mengejar ridho Allah, dunia akan tunduk pada akhirnya. Allah SWT menjanjikan bagi orang-orang yang sabar:
"Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)
Kesimpulan
Kisah ini mengajarkan kita bahwa menjadi "lurus" mungkin membuat kita merasa asing dan tersudut di dunia. Namun, ketahuilah bahwa di langit, nama-nama mereka yang difitnah karena kebenaran sedang digaungkan dengan penuh hormat.
Semoga kita semua diberikan kekuatan seperti si Fulan: Sabar dalam tekanan, teguh dalam kebenaran, dan menutup usia dalam keadaan mencari Ridho-Nya.
Insya Allah, keselamatan dunia dan akhirat hanya milik mereka yang tidak menukar iman dengan kenyamanan perasaan sesaat.


