Jakarta, infoDKJ.com | Kamis, 28 Mei 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Hari ini, kita tidak lagi diminta membawa anak kandung ke sebuah lembah tandus lalu menghujamkan bilah pisau ke lehernya. Perintah syariat itu telah usai dan digantikan dengan ibadah kurban hewan ternak setiap bulan Zulhijah. Namun secara substansi spiritual, ujian itu tidak pernah benar-benar selesai.
Setiap diri kita adalah Ibrahim, dan di dalam hati masing-masing, ada satu — atau bahkan beberapa — sosok “Ismail”.
“Ismail” adalah simbol dari apa saja yang paling kita cintai di dunia ini. Sesuatu yang begitu berharga hingga terkadang kehadirannya membuat hati kita lebih sibuk memikirkannya dibanding mengingat Sang Pencipta.
Mengenali Berbagai Wujud “Ismail” Modern
Di era modern, “Ismail” hadir dalam banyak bentuk.
Bagi sebagian orang, “Ismail”-nya adalah harta benda dan kemewahan.
Bagi yang lain, ia hadir dalam bentuk jabatan, kekuasaan, gelar akademik, atau status sosial.
Bahkan bagi sebagian orang yang tampak religius sekalipun, “Ismail” itu bisa berupa ego, rasa paling benar, kepintaran, hingga reputasi diri.
Bahaya muncul ketika manusia mulai mencintai hal-hal duniawi secara berlebihan. Sedikit demi sedikit, semua itu bergeser dari sekadar alat kehidupan menjadi “sesembahan baru” di dalam hati.
Allah SWT telah mengingatkan kecenderungan manusia tersebut dalam Al-Qur’an:
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
(QS. Ali ‘Imran: 14)
Allah Tidak Meminta Kehilangan, tetapi Keikhlasan
Poin penting yang sering disalahpahami adalah bahwa Allah tidak meminta manusia menjadi miskin atau kehilangan seluruh hal yang dicintainya.
Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS menyembelih Ismail, Allah tidak benar-benar bermaksud membunuh putra tercintanya itu. Buktinya, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba di detik terakhir.
Yang sebenarnya hendak “disembelih” adalah rasa kepemilikan mutlak di dalam hati Nabi Ibrahim. Allah ingin membersihkan hati kekasih-Nya dari keterikatan kepada selain-Nya.
Kita boleh kaya. Kita boleh memiliki jabatan tinggi. Kita boleh mencintai keluarga dan kehidupan dunia. Namun Islam mengajarkan agar semua itu diletakkan di tangan, bukan di dalam hati.
Jika semua itu hanya berada di tangan, ketika Allah mengambilnya kembali, kita tinggal membuka telapak tangan dengan ikhlas. Namun jika semua itu sudah tertanam di hati, kehilangannya akan terasa seperti merobek dada kita sendiri.
Allah SWT berfirman:
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Ma’idah: 17)
Dampak Sosial: Saat Manusia Enggan Menyembelih Egonya
Secara sosial, keengganan manusia “menyembelih” rasa memiliki terhadap “Ismail-Ismail” pribadinya sering menjadi sumber berbagai kerusakan di masyarakat.
Orang yang merasa memiliki jabatan secara mutlak cenderung korup dan menghalalkan segala cara demi mempertahankan kekuasaan.
Orang yang merasa memiliki harta sepenuhnya akan menjadi kikir, enggan berbagi, dan memandang rendah orang lain.
Sementara mereka yang memelihara “Ismail” dalam bentuk ego akan mudah terjerumus pada kesombongan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.”
(HR. Muslim)
Ketika manusia mampu melepaskan rasa memiliki dan menyadari bahwa dirinya hanyalah pemegang amanah atas nikmat Allah, maka ketimpangan sosial perlahan akan berkurang.
Orang kaya akan ringan membantu yang miskin karena sadar hartanya hanyalah titipan. Pemimpin akan melayani rakyat dengan tulus karena memahami jabatan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.
Merdeka dengan Menghamba
Pada akhirnya, belajar melepaskan rasa “memiliki” adalah jalan menuju kemerdekaan jiwa yang sejati.
Manusia paling merdeka bukanlah mereka yang memiliki segalanya, melainkan mereka yang tidak diperbudak oleh apa pun yang dimilikinya.
Maka, mari bertanya kepada diri sendiri hari ini:
Apa “Ismail” yang sedang kita peluk terlalu erat?
Momentum Iduladha mengajarkan kita untuk mengambil “pisau keikhlasan”, lalu menyembelih rasa memiliki yang berlebihan dalam hati.
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS. Al-An’am: 162)


