Jakarta, infoDKJ.com | Minggu, 12 Juli 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Banyak orang sering mikir kalau seorang ustaz, guru agama, atau pendakwah pasti punya keluarga yang serba baik dan rapi. Mereka mengira, kalau seseorang bisa menasihati banyak orang, berarti dia juga pasti bisa bikin semua anggota keluarganya ikut di jalan yang sama. Padahal, hidup nggak selalu sesederhana itu.
Ada seorang ustaz yang dikenal baik di lingkungannya. Hampir setiap hari dia jadi tempat orang bertanya. Banyak yang datang minta nasihat soal rumah tangga, pendidikan anak, sampai urusan hidup sehari-hari. Dengan sabar dia membimbing, menguatkan, dan mengingatkan orang-orang supaya tetap di jalan Allah.
Tapi ternyata, Allah mengujinya lewat orang yang paling dekat di hatinya: anaknya sendiri.
Tanpa disangka, sang anak memilih jalan yang berbeda. Dia mulai bergaul dengan lingkungan yang buruk sampai akhirnya terjerumus ke kebiasaan mabuk-mabukan. Lama-lama, perilaku itu pun diketahui banyak orang.
Sebagai seorang ayah, hatinya hancur. Bukan cuma karena melihat anak yang dia sayangi jatuh dalam kemaksiatan, tapi juga karena harus menahan pandangan dan omongan orang.
Mulailah muncul bisik-bisik yang menyakitkan.
"Bukankah ayahnya seorang ustaz?"
"Orang lain diajarin, anak sendiri kok nggak bisa?"
Kalimat-kalimat seperti itu mungkin cuma diucapkan sebentar, tapi bisa ninggalin luka yang dalam banget di hati seorang ayah.
Sering kali orang lupa kalau seorang ustaz juga manusia. Dia punya hati yang bisa sedih, air mata yang bisa jatuh, dan beban yang kadang terasa terlalu berat buat dipikul sendiri.
Tekanan batin yang dia rasakan sampai bikin kesehatannya menurun dan dia sempat jatuh sakit. Dia terus bertanya dalam hati, apa ada yang salah dalam cara dia mendidik anaknya? Apa dakwahnya selama ini sia-sia?
Tapi setelah melewati pergulatan yang panjang, dia mulai paham kalau hidayah itu bukan di tangan manusia.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Qashash: 56)
Ayat ini ngajarin kita bahwa bahkan manusia terbaik sekalipun nggak punya kuasa untuk menanamkan hidayah ke dalam hati orang yang dia cintai. Tugas manusia cuma menyampaikan, mendidik, mendoakan, dan memberi contoh yang baik. Soal hati terbuka atau nggaknya, itu urusan Allah.
Para nabi juga pernah ngalamin ujian yang mirip.
Nabi Nuh punya seorang putra yang menolak beriman sampai akhirnya tenggelam dalam banjir besar.
Nabi Luth menghadapi istri yang membangkang terhadap perintah Allah.
Nabi Ya'qub bertahun-tahun bersedih karena berpisah dengan putranya.
Bahkan Nabi Muhammad sendiri sangat ingin orang-orang yang beliau cintai mendapat hidayah, tapi nggak semuanya menerima dakwah beliau.
Kalau para nabi saja diuji lewat keluarga mereka, maka kita nggak pantas menjadikan kegagalan sementara seorang anak sebagai bahan olokan buat orang tuanya.
Sebenarnya, mendidik anak itu adalah ikhtiar, bukan jaminan hasil. Orang tua bisa kasih pendidikan terbaik, kasih sayang, teladan, dan doa tanpa henti. Tapi pada akhirnya, setiap anak punya pilihan sendiri yang nanti akan dia pertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Karena itu, kalau melihat seorang anak jatuh dalam kemaksiatan, jangan buru-buru menyalahkan orang tuanya. Kita belum tentu tahu semua perjuangan yang sudah mereka lakukan. Bisa jadi setiap malam mereka menangis dalam sujud, memohon supaya Allah mengembalikan anaknya ke jalan yang benar.
Akan jauh lebih indah kalau masyarakat mengganti cibiran dengan doa, mengganti ejekan dengan dukungan, dan mengganti prasangka dengan empati.
Pendakwah bukan malaikat. Mereka juga hamba Allah yang sedang diuji.
Setelah menerima kenyataan itu dengan lapang dada, sang ustaz tetap berdakwah. Dia nggak berhenti mengajak orang kepada kebaikan hanya karena keluarganya sedang diuji. Dia yakin, ujian bukan berarti Allah membencinya, tapi justru cara Allah meninggikan derajat hamba-Nya yang sabar.
Dia tetap mendoakan putranya setiap selesai salat. Dia juga nggak pernah menutup pintu maaf, karena dia percaya selama nyawa masih dikandung badan, pintu taubat masih terbuka.
Semoga kisah ini bisa jadi pengingat buat kita semua supaya nggak gampang menghakimi kehidupan orang lain. Bisa jadi orang yang hari ini menangis karena anaknya, besok Allah muliakan dengan kesabaran. Dan bisa jadi orang yang hari ini merasa bangga dengan keluarganya, besok justru diuji dengan ujian yang sama.
Mari kita lebih banyak berdoa daripada mencela, lebih banyak menguatkan daripada menghakimi, dan lebih banyak mengambil pelajaran daripada mencari kesalahan.
Karena yang paling dibutuhkan oleh orang yang sedang diuji bukanlah hujatan, melainkan doa.


