Jakarta, infoDKJ.com | Jum'at, 31 Juli 2026
Oleh : Ibrahim Al-Attas
Bagi masyarakat modern yang serbapraktis, kedatangan tamu terkadang menghadirkan debar tersendiri. Ada rasa khawatir jika jamuan kurang memuaskan, atau privasi rumah tangga sedikit terusik. Namun, dalam kacamata Islam, tamu bukanlah beban. Kedatangan mereka justru membawa berkah, kegembiraan, dan yang terpenting: rahmat yang melimpah dari Sang Pencipta.
Memuliakan tamu (ikramud dhoif) bukan sekadar etika sosial atau adat ketimuran yang luhur. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari fondasi keimanan seorang muslim.
Ketukan Pintu yang Membawa Berkah
Ketika seseorang mengetuk pintu rumah kita untuk bertamu, sejatinya mereka sedang mengantarkan peluang pahala yang besar. Dalam sebuah hadits yang sangat populer, Rasulullah ﷺ mengaitkan langsung antara iman kepada Allah dan hari akhir dengan cara kita memperlakukan tamu:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits di atas menggunakan kalimat perintah. Para ulama menjelaskan bahwa mengaitkan akhlak ini dengan keimanan menunjukkan betapa tingginya kedudukan memuliakan tamu dalam Islam. Rumah yang sering dikunjungi tamu adalah rumah yang hidup, rumah yang dialiri energi kebaikan dan keberkahan.
Belajar dari "Bapak Para Tamu"
Al-Qur'an secara indah mengabadikan kisah Nabi Ibrahim 'alayhissalam saat menerima tamu. Beliau dijuluki sebagai Abul Dhifan (Bapak para tamu) karena kedermawanannya yang luar biasa. Allah Swt. berfirman:
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُّنكَرُونَ فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ
"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: 'Salam.' Ibrahim menjawab: 'Salam.' (Mereka itu) adalah orang-orang yang belum dikenalnya. Maka dia pergi diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi yang gemuk." (QS. Adz-Dzariyat: 24-26).
Dari ayat ini, para ulama memetik pelajaran berharga tentang adab menyambut tamu:
Menjawab salam dengan ramah (bahkan kepada orang yang belum dikenal).
Menyediakan hidangan terbaik tanpa menunda-nunda (Nabi Ibrahim langsung pergi ke belakang rumah secara diam-diam agar tamu tidak merasa sungkan atau melarangnya repot).
Menyajikan makanan yang lezat (dalam kisah ini berupa daging anak sapi yang gemuk).
Mutiara Hikmah Para Ulama
Tradisi mulia ini terus dijaga dan diajarkan oleh para ulama dari masa ke masa.
1. Pandangan Ulama Klasik
Imam Al-Ghazali (wafat 505 H), ulama besar mazhab Syafi'i dan penulis kitab monumental Ihya Ulumuddin, menekankan bahwa menyajikan makanan kepada tamu memiliki dimensi spiritual yang dalam, bukan sekadar urusan perut. Beliau menulis:
الْإِطْعَامُ مِنَ الْأَخْلَاقِ السَّنِيَّةِ، وَهُوَ مِنْ شِعَارِ الصَّالِحِينَ
"Memberi makan (kepada tamu) adalah bagian dari akhlak yang mulia, dan ia merupakan syiar (ciri khas) dari orang-orang saleh."
Bagi Al-Ghazali, ketika kita menyuguhkan hidangan kepada tamu dengan hati yang gembira, rontoklah penyakit kikir dari dalam dada kita.
2. Pandangan Ulama Kontemporer
Senada dengan itu, ulama legendaris asal Mesir, Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya'rawi (wafat 1998 M), memberikan analogi yang sangat indah tentang tamu dalam salah satu nasihatnya:
الضَّيْفُ يَأْتِي بِرِزْقِهِ، وَيَرْتَحِلُ بِذُنُوبِ أَهْلِ الْبَيْتِ
"Tamu itu datang dengan membawa rezekinya sendiri (yang telah Allah tetapkan), dan ia pergi dengan membawa (menghapus) dosa-dosa penghuni rumah."
Pernyataan ini menepis kekhawatiran kita akan kekurangan materi saat menjamu tamu. Rezeki yang kita hidangkan untuk tamu sejatinya adalah milik tamu tersebut yang dititipkan lewat tangan kita. Sebagai "upah" atas keikhlasan kita, Allah membersihkan rumah kita dari dosa dan keburukan.
Menyambut dengan Hati, Bukan dengan Gengsi
Memuliakan tamu tidak harus selalu diidentikkan dengan kemewahan yang membebani. Esensi dari ikramud dhoif adalah ketulusan, senyuman hangat, dan kelapangan dada.
Sebagian ulama salaf bahkan berpesan agar kita tidak memaksakan diri di luar batas kemampuan hingga menyiksa diri sendiri, karena hal itu justru membuat tamu merasa tidak nyaman. Cukuplah menyajikan apa yang ada dengan penuh rasa hormat dan kegembiraan.
Jadi, ketika bel rumah Anda berbunyi atau sebuah pesan masuk mengabarkan bahwa seseorang ingin berkunjung, tersenyumlah. Bisikkan dalam hati: "Selamat datang, wahai rahmat Allah." Sambutlah mereka dengan kehangatan terbaik yang Anda miliki, karena di balik langkah kaki mereka yang memasuki rumah Anda, ada berkah dan ampunan yang sedang mengalir deras.


