JAKARTA, infoDKJ.com | Pesan kembali menggema di Jakarta. Sejumlah banner bertuliskan ajakan kebangsaan terpampang di titik-titik vital nasional. Gerakan ini digagas oleh Betawi Intellectual Global Forum / BIG FORUM di bawah komando Abu Bakar MBS, S.E., M.H., selaku Presiden BIG Forum.
Pantauan di lapangan, banner dengan desain khas merah-putih dan tagline “Jaga Kampung, Jaga Jakarta, Jaga Indonesia” terpampang di sekitar Istana Negara, Medan Merdeka, Senayan, Lapangan Banteng, Kompleks Senayan, Mabes AD, Mabes Polri, hingga perbatasan Jakarta Barat–Kota Tangerang, mulai 26 Agustus sampai saat ini.
“Kita Semua Bersaudara, Demokrasi Bermartabat”
Dalam banner tersebut tertulis jelas narasi inti seruan:
“KITA SEMUA BERSAUDARA
SUARAKAN DENGAN BERADAB
DEMOKRASI BERMARTABAT
CINTA TANAH AIR DIMULAI DARI MENJAGA JAKARTA”“KITA SEMUA BERSAUDARA, JADILAH WARGA NEGARA YANG BERADAB DAN MENCINTAI INDONESIA”
Abu Bakar MBS menegaskan, cinta tanah air tidak dimulai dari pidato yang muncul di layar kaca, melainkan dari aksi nyata menjaga diri dan lingkungan terdekat.
“Cinta tanah air itu dimulai dari hal paling dasar: menjaga kampung kita, menjaga Jakarta kita. Kalau Jakarta adem, Indonesia ikut adem,” ujar Abu Bakar MBS saat dikonfirmasi, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Teguran Keras: “Negara Harus Hadir, Jangan Lupakan Anak Betawi dan Gen Pangeran Jayakarta”
Abu Bakar menyampaikan kritik terbuka agar negara tidak abai terhadap tuan rumah Jakarta.
“Negara ini dibentuk oleh para kesultanan, para kerajaan dari berbagai etnis, suku dan agama. Jakarta ini pusat peradaban. Tapi sudah 81 tahun, jangan sampai Jakarta malah jadi tempat arena adu domba. Pribumi pejuang Jakarta, anak Betawi, jangan hanya dijadikan alat kepentingan saat butuh suara saja. Setelah itu dilupakan, dan menegaskan jangan sampai juga Gen Keturunan Jayakarta dimanfaatkan pihak lain untuk kepentingan yang merugikan, bahkan menghilangkan jasa-jasa leluhurnya,” tegasnya.
Ia mengingatkan, sejarah Jakarta tidak bisa dipisahkan dari nama-nama besar para pemimpin: Fatahillah, Tubagus Angke, Sungerasa, Achmad Jaketra.
“Gerakan ini murni tanpa dibiayai siapapun. Karena kami tidak mau melihat kota yang diperjuangkan leluhur kami dibuat jadi arena konflik kepentingan, arena numpang popularitas sampai sesama anak bangsa beradu argumen di dunia maya sampai menciptakan bentrok fisik hingga menghilangkan nyawa. Bisa dicek rekam jejak kami, gerakan murni tanpa diperintah siapapun. Bukan badut-badut yang numpang tenar atas terjadinya sebuah peristiwa. Tetapi kalau kami kelewatan dan pemerintah tidak hadir, pasti kami akan turun,” lanjutnya.
Sebab, belajar dari kejadian tahun lalu, sampai kapan nyawa warga di Jakarta menjadi korban setiap ada mobilisasi massa atau demo di tiap 25–30 Agustus, bahkan plot twist sampai akhir tahun.
Menurutnya, Jakarta adalah rumah bersama, tetapi namanya rumah pasti ada tuan rumah. Rumah bersama ini bukan panggung untuk perebutan jabatan, bukan arena kepentingan politik sesaat, bahkan bukan saluran kepentingan para jenderal-jenderal.
Dari “Jaga Jakarta” 2025 Hingga Didengar Istana: Seruan Persatuan Anak Betawi
Gerakan ini bukan barang baru. Pada tahun 2025, Bang Abu Bakar pertama kali mencetuskan gerakan “Jaga Jakarta” dengan statement di berbagai media melihat dinamika sosial-politik nasional yang memanas.
Gerakan tersebut mendapat atensi luas hingga ke Istana Negara. Tahun lalu, seluruh pejabat negara mulai dari Ketua MPR, Ketua DPR, Kapolri, Panglima TNI, hingga para Ketua Umum Partai Politik dikumpulkan di Istana Negara untuk membahas narasi kebangsaan dan meredam polarisasi.
“Alhamdulillah tahun kemarin statement kita didengar. Sekarang tahun ini kita turunkan lagi ke jalan dalam bentuk banner, biar sampai ke akar rumput,” jelasnya.
BIG FORUM: Bersatu dalam Perbedaan
BIG Forum – Betawi Global Intellectual Forum mengusung tiga pilar utama dalam setiap gerakannya:
- BERSATU DALAM PERBEDAAN
- BERADAB MENCINTAI BANGSA
- BERINTELEKTUAL UNTUK SOLUSI DUNIA
“Kita boleh beda pilihan, beda partai, beda suku, beda agama. Tapi ingat, negeri ini lahir dari rahim kerajaan dan kesultanan Nusantara. Kita tetap bersaudara. Suarakan perbedaan dengan beradab. Itu demokrasi bermartabat,” pungkasnya.
Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat memindai barcode WhatsApp yang tertera di banner BIG Forum.
Kontak: BIG FORUM – Betawi Intellectual Global Forum


