Jakarta, infoDKJ.com | Minggu, 2 Agustus 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Ada kalanya seorang guru, ustadz, atau pendakwah diuji bukan dengan banyaknya pekerjaan, melainkan dengan sedikitnya orang yang datang mengambil manfaat. Ujian seperti ini sering kali lebih berat, karena yang diuji bukan tenaga, tetapi keikhlasan.
Suatu hari, dua orang ustaz berbincang usai mengajar.
Ustaz A bercerita dengan wajah yang tampak lesu.
"Akhir-akhir ini murid yang mengaji semakin berkurang. Ada yang berhenti, ada yang jarang hadir. Alasannya bermacam-macam, terutama karena mengikuti les pelajaran sekolah. Yang datang setiap jadwal mengaji hanya itu-itu saja. Saya mulai merasa bosan, jenuh, bahkan terpikir untuk menghentikan pengajian ini."
Ustaz B mendengarkan dengan saksama. Lalu ia berkata dengan lembut,
"Jangan berhenti mengajar. Teruslah bertahan dan berjuang."
Ustaz A terdiam.
Ustaz B melanjutkan,
"Kalau pengajian ini dihentikan, antum justru kehilangan ladang amal yang sangat besar. Bayangkan, setiap huruf Al-Qur'an yang dibaca murid-murid antum bernilai sepuluh kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda:
'Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.'
(HR. Tirmidzi)
"Selama antum mengajarkan mereka membaca Al-Qur'an, setiap bacaan yang benar menjadi bagian dari pahala yang terus mengalir, insya Allah."
Kemudian ia menambahkan,
"Kalau antum berhenti, kepada siapa lagi anak-anak itu akan belajar? Mungkin memang tidak semua hadir, tetapi masih ada yang istiqamah. Jangan sampai mereka kehilangan tempat belajar hanya karena kita sedang diuji rasa lelah."
Ucapan itu menyentuh hati Ustaz A.
Benar, keberhasilan seorang guru tidak selalu diukur dari banyaknya murid yang memenuhi ruangan. Nabi Nuh 'alaihis salam berdakwah selama ratusan tahun, tetapi hanya sedikit yang beriman. Meski demikian, beliau tetap menjalankan amanah tanpa putus asa.
Allah SWT berfirman:
"Maka tetaplah engkau memberi peringatan, karena sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan."
(QS. Al-Ghasyiyah: 21)
Hidayah bukanlah tugas seorang guru. Hidayah adalah hak prerogatif Allah SWT. Tugas seorang guru hanyalah menyampaikan, membimbing, dan mendoakan.
Dalam pandangan para ulama tasawuf, seorang pendidik sejati tidak mengajar demi pujian atau agar kelasnya dipenuhi banyak murid. Ia mengajar semata-mata karena Allah. Banyak atau sedikit murid hanyalah keadaan lahiriah, sedangkan yang dinilai Allah adalah ketulusan hati dan istiqamah dalam menjalankan amanah.
Sering kali setan membisikkan rasa kecewa ketika hasil yang tampak tidak sesuai harapan. Padahal, boleh jadi satu murid yang istiqamah lebih bernilai daripada seratus murid yang hanya datang sesekali. Dari satu murid itu bisa lahir generasi yang mencintai Al-Qur'an, keluarga yang saleh, bahkan guru-guru berikutnya. Amal tersebut terus mengalir tanpa kita sadari.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan."
(QS. Al-Kahfi: 30)
Karena itu, jangan mudah menutup majelis ilmu hanya karena pesertanya sedikit. Jangan biarkan rasa jenuh memutus aliran pahala yang mungkin sedang Allah siapkan untuk kehidupan akhirat kita.
Mengajar Al-Qur'an bukan sekadar mengisi waktu. Ia adalah investasi akhirat. Setiap huruf yang dibaca, setiap makhraj yang diperbaiki, setiap anak yang mampu membaca Al-Qur'an dengan benar, semuanya dapat menjadi amal jariyah yang terus mengalir meskipun usia kita telah berakhir.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya."
(HR. Bukhari)
Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada setiap guru Al-Qur'an hati yang sabar, jiwa yang ikhlas, serta kekuatan untuk terus istiqamah mengajar meskipun murid yang hadir hanya sedikit. Sebab di sisi Allah, yang dinilai bukan ramainya majelis, melainkan ketulusan perjuangan dalam menyampaikan ilmu.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.


