JAKARTA BARAT, infoDKJ.com | Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Yayasan Darul Aytam Sa'adatud-Daarain, Minggu (16/8/2026) malam, tidak sekadar menjadi momentum mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Kegiatan yang dirangkai dengan Munajat Maulidurrasul dan HUT Kemerdekaan RI ke-81 itu juga menjadi ruang untuk menautkan nilai-nilai keteladanan Nabi dengan semangat menjaga kemerdekaan dan kehidupan berbangsa.
Majelis yang berlangsung di Jalan Madrasah RT 006/RW 02, Kelurahan Kelapa Dua, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, selepas Isya tersebut dihadiri habaib dan ulama dari sejumlah wilayah Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan Depok. Hadir pula tokoh masyarakat, Ketua RW, para Ketua RT di lingkungan RW 02, serta warga sekitar.
Rangkaian acara diawali pembacaan Yasin dan tahlil, kemudian dilanjutkan pembacaan kitab Maulid Nabi Muhammad SAW oleh para santri Darul Aytam.
Momentum Maulid yang bertepatan dengan suasana peringatan HUT RI menjadi penting karena kemerdekaan tidak cukup hanya dikenang sebagai sejarah, tetapi harus diisi dengan akhlak, persatuan, kepedulian, dan amal nyata.
Nilai-nilai tersebut memiliki titik temu kuat dengan keteladanan Rasulullah SAW. Nabi bukan hanya menjadi teladan dalam ibadah, tetapi juga dalam membangun masyarakat yang beradab, menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, menegakkan keadilan, dan mengutamakan kemaslahatan bersama.
Kemerdekaan Harus Diisi dengan Akhlak
Mewakili keluarga besar Yayasan Darul Aytam Sa'adatud-Daarain, Al Habib Husein bin Dja'far Al Haddad menyampaikan sambutan yang sekaligus mengajak jamaah memperkuat kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.
Ia mengingatkan kembali jejak para ulama yang dahulu memiliki hubungan dengan madrasah tersebut. Salah satunya Habib Muhammad bin Ahmad Al Haddad yang disebut sering datang ke madrasah itu pada masa hidupnya.
“Sebab rahmat Allah kita bisa hadir di majelis acara ini. Ini mengingatkan kita pada Habib Muhammad bin Ahmad Al Haddad yang sering datang ke madrasah ini pada masa lalu,” ujarnya.
Bagi masyarakat, kesinambungan tradisi keagamaan tersebut menjadi bagian dari warisan yang harus dijaga. Begitu pula dengan kemerdekaan Indonesia yang diwariskan para pendahulu kepada generasi hari ini.
Karena itu, peringatan Maulid dan HUT RI dapat ditempatkan dalam satu tarikan napas: Maulid mengajarkan bagaimana kemerdekaan diisi dengan akhlak, sedangkan kemerdekaan memberi ruang bagi umat untuk menjalankan dan mengembangkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Mari kita tingkatkan kecintaan kita kepada Baginda Nabi Muhammad SAW,” ajaknya.
Dari Kecintaan kepada Nabi Menuju Pengabdian kepada Negeri
Mau'izhotul hasanah disampaikan Habib Ridho bin Fauzi bin Yahya dari Bandung. Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya memperbaiki hati, memperbanyak amal ibadah, serta menjadikan usia sebagai kesempatan untuk terus berbuat kebaikan.
“Sebaik-baik hamba panjang umurnya dan banyak amal ibadahnya,” pesannya.
Pesan tersebut memiliki relevansi kuat dengan makna kemerdekaan. Sebab, kemerdekaan bukanlah akhir perjuangan, melainkan amanah yang harus diisi dengan amal dan kontribusi.
Jika generasi terdahulu berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk merawat kemerdekaan dengan akhlak, ilmu, persatuan, kepedulian sosial, dan kerja nyata.
Habib Ridho juga mengajak jamaah memohon pertolongan Allah SWT untuk memperbaiki dan membersihkan hati. Menurutnya, perbaikan masyarakat pada akhirnya berawal dari perbaikan pribadi.
Dalam konteks Maulid, ia mengingatkan agar kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak berhenti pada pembacaan kitab Maulid dan shalawat.
“Maulid jangan hanya dibacakan, tapi juga praktikkan akhlak Rasulullah SAW setiap harinya,” tegasnya.
Pesan itu menjadi relevan di tengah momentum HUT Kemerdekaan RI ke-81. Kemerdekaan yang dirayakan dengan meriah akan memiliki makna yang lebih dalam apabila melahirkan masyarakat yang semakin berakhlak, rukun, saling menghormati, dan peduli terhadap sesama.
Merdeka dengan Akhlak, Bersatu dalam Kebajikan
Peringatan di Darul Aytam Sa'adatud-Daarain pada akhirnya bukan sekadar mempertemukan dua agenda, yakni Maulid Nabi dan HUT RI. Lebih dari itu, keduanya dipertemukan melalui satu pesan: kemerdekaan harus diisi dengan nilai-nilai luhur yang membawa masyarakat menuju kebaikan.
Keteladanan Rasulullah SAW menjadi landasan moral bagi umat untuk menggunakan kemerdekaan secara bertanggung jawab. Sementara semangat kemerdekaan menjadi pengingat bahwa kebebasan dan persatuan yang dinikmati hari ini merupakan amanah yang harus dijaga bersama.
Setelah tausiyah, kegiatan dilanjutkan dengan doa dan ramah tamah. Acara berakhir sekitar pukul 23.00 WIB dan jamaah kemudian membubarkan diri dengan tertib.
Dari Kelapa Dua, pesan yang mengemuka malam itu sederhana namun mendalam: mencintai Nabi bukan hanya dengan memperingati kelahirannya, dan mencintai Indonesia bukan hanya dengan merayakan kemerdekaannya. Keduanya harus dibuktikan melalui akhlak, persatuan, kepedulian, dan pengabdian kepada sesama. (Yansen)




