Jakarta, infoDKJ.com | Jum'at, 28 Agustus 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Tidak semua orang yang meninggal dunia meninggalkan harta. Tidak semua orang yang pergi meninggalkan nama besar. Namun ada manusia-manusia sederhana yang setelah kepergiannya, justru semakin terasa betapa besar warisan yang pernah mereka tinggalkan: warisan berupa ilmu, keteladanan, dan akhlak yang diam-diam tumbuh dalam diri orang-orang yang pernah mengenalnya.
Seorang guru mungkin telah tiada. Suaranya tidak lagi terdengar di masjid. Langkahnya tidak lagi terlihat berjalan menuju tempat mengajar. Namun ternyata, kepergiannya tidak serta-merta mengakhiri pengajarannya.
Sebab ada pelajaran yang tidak pernah tertulis di papan tulis. Ada nasihat yang mungkin hanya diucapkan sekali, tetapi tinggal sepanjang hidup. Dan ada keteladanan yang baru benar-benar dipahami oleh murid-muridnya setelah sang guru tidak lagi berada di tengah mereka.
Suatu hari, dalam sebuah obrolan santai yang penuh kehangatan dan kenangan, anak dari seorang guru agama duduk bersama beberapa jamaah yang dahulu pernah menjadi murid almarhum ayahnya.
Dengan penuh rasa ingin tahu, sekaligus kerinduan kepada sosok ayah yang telah tiada, sang anak mengajukan sebuah pertanyaan sederhana.
“Apa pelajaran yang paling kalian ingat dari ayah saya?”
Pertanyaan itu membuat suasana sejenak hening.
Bukan karena mereka tidak memiliki jawaban.
Justru karena terlalu banyak kenangan yang tiba-tiba kembali. Tentang malam-malam mengaji, tentang nasihat sederhana, tentang kesabaran yang mungkin dahulu dianggap biasa, dan tentang seorang guru yang ternyata telah mengajarkan banyak hal—bukan hanya dengan lisannya, tetapi dengan seluruh cara ia menjalani hidup.
Lalu, satu per satu dari mereka mulai membuka lembaran kenangan.
Dan dari cerita Si A hingga Si D, terungkaplah sebuah potret tentang seorang guru sederhana yang mungkin tidak terkenal di banyak tempat, tetapi telah meninggalkan jejak yang begitu dalam di hati murid-muridnya.
Jejak tentang keikhlasan, kesabaran, kerendahan hati, perjuangan mencari nafkah yang halal, serta keyakinan bahwa kehidupan dunia hanyalah jalan menuju kehidupan yang lebih kekal.
Mengajar Walau Hanya Seorang Murid
Si A menjadi orang pertama yang bercerita.
Menurutnya, almarhum adalah seorang guru yang benar-benar memahami makna keikhlasan. Bukan karena beliau sering berbicara tentang ikhlas, melainkan karena kehidupannya sendiri menjadi pelajaran tentang keikhlasan.
Ia masih mengingat suatu malam ketika hujan turun deras. Kilat menyambar dan suara petir menggelegar. Jalanan basah dan banyak murid memilih tidak datang ke masjid untuk mengaji.
Namun sang guru tetap berangkat.
Dengan sebuah payung, beliau berjalan menuju masjid. Ketika tiba, ternyata hanya Si A seorang yang hadir.
Tidak ada wajah kecewa. Tidak ada keluhan. Tidak ada ucapan, “Untuk apa saya datang kalau muridnya hanya satu?”
Beliau tetap duduk, membuka Al-Qur'an, lalu mengajarkan muridnya seperti biasa.
Bahkan, bukan hanya sekali hal itu terjadi. Berkali-kali, dari sekitar sepuluh murid yang belajar, hanya satu atau dua orang yang hadir. Namun semangat beliau tidak pernah berubah.
Suatu ketika beliau berpesan kepada muridnya,
“'Nak, suatu saat nanti, kalau kamu punya murid yang ingin belajar agama, entah belajar membaca Al-Qur'an atau kitab lainnya, tetaplah ajarkan walaupun hanya satu orang yang datang. Dan teruslah istiqamah.'”
Pesan itu sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam. Sebab seorang yang ikhlas tidak menjadikan banyaknya manusia sebagai ukuran semangatnya dalam beramal.
Ia memahami bahwa tugas manusia adalah menanam, sedangkan tumbuh atau tidaknya tanaman itu adalah urusan Allah SWT.
Boleh jadi satu murid yang datang hari ini akan menjadi jalan tersebarnya ilmu kepada banyak orang di kemudian hari. Dan boleh jadi, satu huruf Al-Qur'an yang diajarkan dengan ikhlas akan terus mengalir pahalanya hingga sang guru telah lama meninggalkan dunia.
Sabar Ketika Difitnah
Cerita kemudian dilanjutkan oleh Si B.
Ia pernah menyaksikan bagaimana gurunya menghadapi sebuah fitnah. Beliau pernah dituduh oleh rekan sesama ustaz melakukan penggalangan dana dan mengedarkan amplop cari bantuan atas nama guru besarnya tanpa izin.
Tuduhan itu sampai kepada sang guru besar. Almarhum pun mendapat teguran dan kemarahan, padahal beliau sama sekali tidak melakukan apa yang dituduhkan.
Bagi sebagian orang, tuduhan seperti itu mungkin cukup untuk membakar amarah. Membela diri dengan keras. Membalas tuduhan. Bahkan memutuskan hubungan persaudaraan.
Namun beliau memilih jalan yang berbeda.
Beliau tidak membalas dengan kemarahan. Tidak pula menyebarkan keburukan orang yang telah memfitnahnya. Dengan hati yang lapang, beliau mencoba menerima dan menjalani semuanya dengan kesabaran.
Inilah pelajaran yang semakin mahal pada zaman ketika manusia begitu mudah tersulut oleh satu kalimat dan begitu cepat membalas setiap luka.
Sabar bukan berarti tidak merasa sakit. Sabar adalah kemampuan menahan diri agar rasa sakit tidak berubah menjadi dosa.
Orang yang sabar tidak selalu menang di hadapan manusia. Tetapi ia sedang menjaga dirinya agar tetap menjadi orang yang menang di hadapan Allah SWT.
Tidak Membalas Gunjingan dengan Dendam
Si C pun ikut membuka kenangannya.
Ia pernah mendengar bagaimana almarhum sering menjadi bahan gunjingan di lingkungan tempat beliau mengabdi. Bahkan, ada stigma yang disematkan kepadanya: “ustaz kampung”, atau “ustaz besek”, sebuah sebutan yang merendahkan karena beliau dianggap hanya mampu memimpin tahlilan dan pulang membawa besek.
Almarhum mengetahui semua ucapan itu.
Namun lagi-lagi, beliau memilih diam.
Tidak ada dendam. Tidak ada keinginan membalas. Tidak ada usaha menjatuhkan mereka yang telah mengucilkannya.
Barangkali di situlah letak kematangan jiwa seseorang. Tidak semua perkataan harus dijawab. Tidak semua penghinaan harus dibalas. Tidak semua manusia harus diyakinkan bahwa kita adalah orang baik.
Sebab manusia yang hidup dengan pujian akan mudah sedih ketika dicela. Tetapi manusia yang hidup karena Allah akan berusaha tetap berjalan, baik ketika dipuji maupun ketika direndahkan.
Dalam jalan tasawuf, salah satu perjuangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan menundukkan ego dalam diri sendiri.
Betapa sering kita merasa harus membela nama dan kehormatan kita dalam setiap keadaan. Padahal, kadang-kadang diam adalah cara terbaik untuk menyelamatkan hati.
Bukan karena kita lemah, tetapi karena kita tidak ingin hidup dikendalikan oleh penilaian manusia.
Guru Ngaji yang Tidak Gengsi Bekerja Kasar
Cerita berikutnya datang dari Si D.
Ia pernah membersamai almarhum dalam kehidupan sehari-hari. Sang guru mengajar Al-Qur'an pada malam hari. Sementara pagi hingga sore, beliau memiliki waktu untuk berikhtiar mencari nafkah melalui pekerjaan apa saja yang halal.
Suatu ketika, seorang jamaah masjid yang juga sahabatnya meminta bantuan untuk memperbaiki pompa air.
Beliau menerima pekerjaan itu tanpa ragu.
Tidak ada gengsi karena statusnya sebagai guru ngaji. Tidak ada perasaan bahwa pekerjaan kasar tidak pantas dilakukan oleh seorang ustaz.
Beliau bahkan turun ke dalam lubang sumur pompa untuk memperbaiki pipa saluran air. Dengan tubuh yang sebagian terendam air, beliau bekerja dengan tangannya sendiri. Si D hanya membantu mengirimkan peralatan yang dibutuhkan menggunakan tambang.
Setelah pekerjaan selesai, sang guru memberikan pesan yang tak pernah dilupakannya.
“Janganlah gengsi mencari nafkah untuk anak dan istri. Yang penting halal dan baik. Jangan merasa sebagai guru ngaji lalu tidak mau melakukan pekerjaan kasar.”
Beliau juga mengingatkan agar jangan menjadikan ilmu agama sebagai semata-mata jalan untuk mencari keuntungan duniawi. Mengajar Al-Qur'an adalah ibadah dan pengabdian. Jangan sampai seorang guru terlalu menggantungkan harapan kepada murid-muridnya, apalagi menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang menghilangkan keberkahan.
Pesan itu bukan berarti seorang guru agama tidak boleh menerima pemberian atau penghargaan. Tetapi ada perbedaan antara menerima rezeki dengan penuh syukur dan menjadikan agama sebagai alat untuk menuntut dunia.
Seorang alim tidak menjadi hina karena bekerja dengan tangannya. Justru kemuliaan seseorang sering kali tampak ketika ia tidak membiarkan gengsi menghalangi dirinya dari pekerjaan yang halal.
Tuntut Akhirat, Dunia Akan Mengikuti
Setelah semua murid selesai bercerita, sang anak kemudian menyampaikan pelajaran yang paling sering ia terima langsung dari ayahnya.
Orang tuanya selalu berpesan agar dalam menjalani kehidupan, seseorang harus mengutamakan nilai-nilai akhirat. Bukan berarti dunia harus ditinggalkan, sebab manusia tetap membutuhkan pekerjaan, harta, dan kehidupan yang layak.
Namun dunia jangan sampai menjadi tujuan utama, sedangkan akhirat hanya menjadi urusan yang dikerjakan jika ada waktu tersisa.
Almarhum sering menyampaikan sebuah kalimat sederhana:
“Tuntut akhirat, dunia ngikut. Tuntut dunia, akhirat luput.”
Maknanya bukan bahwa orang yang mengejar akhirat tidak perlu bekerja. Justru bekerja dengan niat yang benar, mencari nafkah yang halal, membesarkan anak, membantu sesama, dan menjalankan amanah dengan baik juga dapat bernilai ibadah.
Ketika akhirat menjadi tujuan, urusan dunia tetap dikerjakan, tetapi semuanya diarahkan untuk mendapatkan keberkahan dan keridaan Allah.
Sebaliknya, ketika dunia menjadi satu-satunya tujuan, belum tentu akhirat ikut diperoleh.
Beliau mengibaratkannya seperti pepatah lama:
“Tanam padi, tumbuh pula rumput. Tetapi menanam rumput, tidak akan tumbuh padi.”
Ketika seseorang menanam padi, rumput mungkin ikut tumbuh di sekitarnya. Tetapi ketika yang ditanam hanya rumput, jangan berharap akan memanen padi.
Begitulah kehidupan. Ketika seseorang mengejar akhirat dengan sungguh-sungguh, dunia bisa datang sebagai bekal dalam perjalanan hidupnya. Tetapi ketika seseorang hanya mengejar dunia, belum tentu ia mendapatkan bekal untuk kehidupan yang kekal.
Warisan yang Tidak Tertulis
Obrolan santai itu akhirnya membuat semua yang hadir menganggukkan kepala.
Mereka menyadari bahwa seorang guru tidak selalu meninggalkan warisan berupa bangunan megah, harta yang melimpah, atau nama besar yang dikenal banyak orang.
Ada warisan yang jauh lebih panjang umurnya: akhlak yang hidup dalam ingatan murid-muridnya.
Keikhlasan seorang guru yang tetap mengajar walau hanya satu murid hadir.
Kesabaran ketika menghadapi fitnah.
Kelapangan hati ketika menjadi bahan gunjingan.
Kerendahan hati untuk bekerja apa saja demi keluarga.
Dan keyakinan bahwa akhirat harus menjadi arah utama dalam perjalanan hidup.
Semua itu mungkin tidak pernah ditulis dalam sebuah buku. Tidak pula tercatat dalam sejarah besar. Namun ia hidup dalam hati orang-orang yang pernah belajar darinya.
Barangkali inilah hakikat pendidikan yang sesungguhnya.
Seorang guru bukan hanya mengajarkan apa yang harus diketahui oleh muridnya, tetapi menunjukkan bagaimana ilmu itu dijalani dalam kehidupan.
Sebab kata-kata mungkin akan terlupakan, tetapi keteladanan akan tinggal lebih lama dalam ingatan.
Dan mungkin, seorang guru yang merasa dirinya hanya “guru kampung” tidak pernah menyadari bahwa di hadapan Allah, setiap langkahnya menuju masjid di tengah hujan, setiap kesabarannya menghadapi fitnah, setiap tetes keringatnya mencari nafkah yang halal, telah menjadi pelajaran yang terus hidup jauh setelah dirinya tiada.
Maka, jangan pernah meremehkan amal yang dilakukan dengan ikhlas.
Jangan pernah merasa kecil hanya karena jalan hidup kita tidak dilihat banyak manusia.
Bisa jadi, yang kita anggap sebagai kehidupan biasa, sesungguhnya sedang menjadi madrasah kehidupan bagi orang-orang di sekitar kita.
Dan pada akhirnya, manusia tidak hanya akan dikenang karena seberapa tinggi kedudukannya di dunia, tetapi juga karena kebaikan apa yang ia tinggalkan di dalam hati sesamanya.
Wallaahu a'lam bishowaab


