JAKARTA BARAT, infoDKJ.com | Dentingan rebana dan lantunan puji-pujian kepada Rasulullah SAW menjadi salah satu warna yang menghidupkan suasana Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Musholla Walisongo, Jalan Pintu Air, RT 12, RW 05, Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Ahad (6/9/2026).
Di balik khidmatnya rangkaian acara tersebut, Tim Qasidah Rebana Musholla Walisongo pimpinan Ustazah Eka mengambil peran penting. Mereka tidak hanya tampil sebagai pengiring acara, tetapi turut menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi syiar Islam melalui seni qasidah dan rebana.
Kehadiran Qasidah Rebana Walisongo memberikan warna tersendiri dalam peringatan yang digelar Majelis Ta’lim Al-Barokah tersebut. Melalui lantunan Maulid dan iringan rebana, jamaah diajak menghayati kembali kisah, perjuangan serta keteladanan Nabi Muhammad SAW.
Mengusung tema “Membangun Generasi Berakhlak Mulia dengan Meneladani dan Mencintai Rasulullah SAW,” kegiatan berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 11.30 WIB dan dihadiri jamaah serta masyarakat sekitar.
Rebana sebagai Media Syiar dan Pendidikan Akhlak
Bagi Qasidah Rebana Walisongo, penampilan dalam kegiatan Maulid bukan semata-mata persoalan seni dan musikalitas. Rebana menjadi sarana untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan dengan pendekatan yang dekat dengan masyarakat.
Di bawah pimpinan Ustazah Eka, tim qasidah turut mengambil bagian dalam pembacaan Kitab Maulid. Lantunan pujian kepada Rasulullah SAW berpadu dengan tabuhan rebana, menciptakan suasana religius sekaligus menghidupkan semangat jamaah untuk bershalawat.
Peran tersebut menjadi semakin penting di tengah kebutuhan untuk mengenalkan tradisi keagamaan kepada generasi muda. Seni qasidah dan rebana dapat menjadi jembatan antara tradisi, dakwah dan pembinaan karakter.
Pesan yang dibawa pun sejalan dengan tema Maulid: membangun generasi yang mencintai Rasulullah SAW bukan hanya melalui ucapan, tetapi juga dengan mengenal, menghayati dan meneladani akhlak beliau.
Dari Panggung Maulid untuk Menjaga Tradisi
Keterlibatan Qasidah Rebana Walisongo juga menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan di tingkat lingkungan memiliki ruang yang luas untuk menjaga warisan budaya Islam.
Tradisi membaca Maulid yang diiringi rebana telah lama menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat. Ketika tradisi tersebut terus dirawat dan diberikan ruang kepada generasi penerus, maka syiar Islam sekaligus nilai-nilai kebersamaan dapat terus hidup di tengah masyarakat.
Karena itu, kontribusi kelompok qasidah seperti Qasidah Rebana Walisongo patut dipandang sebagai bagian dari kegiatan sosial-keagamaan, bukan sekadar hiburan dalam sebuah acara.
Ustazah Eka bersama timnya menunjukkan bahwa seni dapat menjadi sarana dakwah ketika diarahkan untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dan memperkuat nilai-nilai keagamaan.
Maulid Diisi Tawasulan, Santunan Yatim hingga Tausiah
Sebelum pembacaan Kitab Maulid, rangkaian kegiatan diawali dengan tawasulan dan tahlilan yang dipimpin Ustaz Rasdi.
Selanjutnya, Tim Qasidah Rebana Musholla Walisongo pimpinan Ustazah Eka mengambil bagian dalam pembacaan Kitab Maulid.
Acara kemudian dilanjutkan sambutan Ketua Musholla Walisongo Ustaz Nasrullah, pembacaan Kalam Ilahi oleh qari Ustaz Uci Sanusi Albantani, serta santunan kepada 10 anak yatim.
Acara puncak diisi tausiah oleh KH Nawali, BA. dan Ustaz Abdul Zahir.
KH Nawali mengingatkan jamaah bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW membutuhkan pembuktian dan pengorbanan. Sementara Ustaz Abdul Zahir mengajak jamaah meneladani tiga sifat Rasulullah SAW, yakni dermawan, memiliki hati yang bersih serta memiliki kasih sayang kepada sesama.
Sinergi Majelis Ta’lim dan Musholla
Kegiatan tersebut turut dihadiri Bapak Erpan selaku Ketua Majelis Ta’lim Al-Barokah, serta perwakilan pengurus MWC NU Kebon Jeruk, A. Hariyansyah dan Haerudin.
Doa penutup dipimpin KH Bukhori Muslim. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan foto bersama dan ramah tamah.
Sekitar pukul 11.30 WIB, seluruh rangkaian kegiatan selesai dalam keadaan aman, lancar dan kondusif.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Musholla Walisongo menjadi bukti bahwa syiar Islam dapat tumbuh dari lingkungan masyarakat melalui berbagai bentuk kontribusi. Salah satunya melalui Qasidah Rebana Walisongo pimpinan Ustazah Eka, yang turut menjaga tradisi pembacaan Maulid sekaligus menjadikan seni rebana sebagai media untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Sebab ketika rebana ditabuh dengan niat syiar, dan shalawat dilantunkan dengan penuh cinta, yang dijaga bukan hanya sebuah tradisi, tetapi juga ingatan dan kecintaan umat kepada Rasulullah Muhammad SAW.
(Yansen)



