Jakarta, infoDKJ.com | Selasa, 30 September 2026
Oleh : Ibrahim Al-Attas
Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S PKI) merupakan salah satu catatan sejarah paling kelam dalam perjalanan bangsa Indonesia. Tragedi ini tidak hanya menjadi ujian besar bagi kedaulatan negara, tetapi juga menyisakan luka mendalam bagi umat Islam dan institusi militer. Dalam rentetan peristiwa tersebut, para ulama, santri, dan prajurit TNI berdiri di garis depan untuk mempertahankan ideologi Pancasila serta menjaga eksistensi agama dari ancaman paham penganut ateisme radikal.
Memahami kembali tragedi G30S PKI bukan bertujuan untuk memelihara dendam sejarah, melainkan sebagai sarana refleksi spiritual dan kebangsaan. Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa mengambil pelajaran ('ibrah) dari peristiwa masa lalu agar tidak terperosok ke dalam lubang kesalahan yang sama.
Landasan Syariat: Menjaga Agama dan Tanah Air
Dalam pandangan Islam, mempertahankan kemerdekaan, kedaulatan negara, dan keselamatan jiwa dari ancaman ideologi merusak merupakan kewajiban syar'i. Landasan ini selaras dengan firman Allah SWT:
"Dan peliharalah dirimu dari fitnah (siksaan/kekacauan) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu secara khusus. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya."
(QS. Al-Anfal: 25)
Ayat ini mengingatkan bahwa konflik ideologi dan kekacauan politik yang tidak diantisipasi akan berdampak buruk bagi seluruh lapisan masyarakat, baik orang zalim maupun warga yang tidak berdosa.
Pengorbanan para ulama dan prajurit tentara yang gugur dalam mempertahankan kedaulatan bangsa juga memiliki derajat mulia dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda mengenai pentingnya menjaga benteng pertahanan dan keamanan tanah air:
"Berjaga-jaga (membentengi negeri) sehari semalam lebih baik daripada puasa dan shalat malam sebulan. Jika ia meninggal (saat bertugas), maka amalnya yang biasa ia kerjakan akan terus mengalir pahalanya, rezekinya dicukupkan, dan ia aman dari fitnah kubur."
(HR. Muslim)
Darah Ulama dan Perjuangan Melawan Paham Anti-Tuhan
Sejarah mencatat bahwa sebelum puncak peristiwa tahun 1965, ketegangan antara kelompok Komunis dan ulama telah berlangsung lama di berbagai daerah. Para kyai/habaib dan santri seperti:
- Kiai Imam Mursyid Muttaqien (Pemimpin Pesantren Sabilil Muttaqien/PSM Takeran, Magetan) — Diculik dan jasadnya tidak pernah ditemukan hingga kini.
- KH Sulaiman Zuhdi (Ulama Magetan) — Ditemukan gugur di sumur pembantaian Monumen Soco.
- KH Imam Shofwan (Ulama Ponorogo) — Dikubur hidup-hidup oleh pasukan pemberontak bersama anak-anaknya.
- KH Hamid Dimyati (Wonogiri) — Pemimpin Islam yang dicegat dan dibunuh bersama belasan santrinya.
- KH Jufri Marzuki (Pamekasan, Madura) — Beliau adalah Pengasuh Pondok Pesantren As-Syahidul Kabir sekaligus Rais Syuriah PCNU Pamekasan yang dikenal sebagai singa podium anti-komunis. Beliau dikhianati dan dibunuh secara keji dalam perjalanan pulang setelah berdakwah pada tahun 1965.
- KH Tartibi (Klaten, Jawa Tengah) — Seorang ulama dari Desa Puluhan, Kecamatan Trucuk, Klaten, yang menjadi korban penyerangan dan pembunuhan oleh simpatisan PKI di daerahnya pada era 1960-an.
- Habib Ali bin Abdullah Alhamid (Jember) — Beliau merupakan Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jember. Pada masa pergolakan sekitar tahun 1965, beliau dijebak oleh seorang tamu suruhan PKI, diculik, dan kemudian dibunuh secara keji di kawasan Gunung Kumitir (perbatasan Jember-Banyuwangi).
- Habib Salim bin Djindan (Betawi) — Sebagai ulama besar Betawi yang sangat tegas dan berani melawan propaganda PKI di Jakarta, beliau kerap mendapatkan intimidasi, ancaman, serta provokasi fisik dari simpatisan PKI sebelum meletusnya G30S.
Mereka semua menjadi sasaran utama karena penganut ideologi Komunisme memandang agama sebagai doktrin yang menghambat kemajuan.
Sikap tegas ulama dalam menolak paham yang mengingkari keberadaan Tuhan sejalan dengan pandangan para ulama pakar syariat (fuqaha). Imam Abu Al-Hasan Al-Mawardi (450 H), seorang ulama besar mazhab Syafi'i, menekankan pentingnya peran kepemimpinan dan pertahanan dalam menjaga agama:
"Kepemimpinan politik itu dibentuk untuk menggantikan peran kenabian dalam menjaga agama dan mengelola urusan dunia."
(Al-Ahkam As-Sultaniyyah)
Ketika negara dan agama berada dalam ancaman, pertumpahan darah para ulama menjadi bukti nyata komitmen makhraj perjuangan umat. Pengorbanan para kyai dan santri di pesantren-pesantren merupakan wujud nyata penerapan prinsip Hifz ad-Din (menjaga agama) dan Hifz an-Nafs (menjaga jiwa), dua komponen utama dalam maqashid syariah (tujuan-tujuan utama hukum Islam).
Pengorbanan Tentara: Sinergi ABRI (TNI-POLRI) dan Umat
Di sisi lain, jajaran militer (TNI-POLRI/ABRI) menjadi benteng pertahanan fisik negara. Gugurnya para perwira tinggi dan prajurit:
- Jenderal TNI (Anumerta) Ahmad Yani
- Letjen TNI (Anumerta) R. Suprapto
- Letjen TNI (Anumerta) M.T. Haryono
- Letjen TNI (Anumerta) S. Parman
- Mayjen TNI (Anumerta) D.I. Panjaitan
- Mayjen TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo
- Brigjen TNI (Anumerta) Katamso
- Kolonel (Anumerta) Sugiyono
- Kapten Czi. (Anumerta) Pierre Tendean
- Aipda (Anumerta) K.S. Tubun
Serta perjuangan seorang polisi bernama Soekitman untuk membawa informasi dalam peristiwa G30S PKI memperlihatkan besarnya harga yang harus dibayar untuk menjaga keutuhan NKRI.
Sinergi antara ulama dan TNI-POLRI dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa mencerminkan konsep Tawazun (keseimbangan) antara kekuatan spiritual dan pertahanan fisik. Syaikh Dr. Said Ramadan Al-Bouthi (1929–2013 M), seorang ulama kontemporer terkemuka asal Suriah, menegaskan pentingnya menjaga kesatuan nasional dan membendung pemikiran merusak:
"Bahwa mempertahankan tanah air dari fitnah kekacauan dan pemikiran-pemikiran radikal, atheistik, & neoliberalisme, merupakan bagian tak terpisahkan dari perlindungan terhadap akidah."
(Al-Jihad fi Al-Islam)
Pengorbanan para prajurit yang gugur menegaskan bahwa pertahanan negara bukan sekadar tugas birokrasi, melainkan pengabdian luhur demi kemaslahatan masyarakat luas (maslahah 'ammah).
Pelajaran Sejarah untuk Masa Depan Bangsa
Refleksi atas peristiwa G30S PKI memberikan beberapa pelajaran penting bagi generasi penerus:
- Menjaga Persatuan Nasional: Sinergi antara elemen keagamaan dan militer harus terus dipelihara untuk menjaga stabilitas negara dari berbagai ancaman ideologi radikal modern.
- Memperkuat Literasi Sejarah: Generasi muda perlu memahami sejarah secara objektif agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memutarbalikkan fakta.
- Mengedepankan Kebijaksanaan dan Keadilan: Mengingat sejarah kelam harus diimbangi dengan komitmen untuk menjaga perdamaian, penegakan hukum yang adil, serta mencegah berulangnya kekerasan di masa depan.
Melalui peringatan G30S PKI, masyarakat diajak untuk mendoakan para pahlawan, ulama, dan prajurit yang telah gugur mendahului kita. Semoga pengorbanan mereka menjadi amal jariyah yang diridhai oleh Allah SWT.
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah perjuangan para ulama dan prajuritnya. Dari darah yang tercurah dan jiwa yang terkorbankan, lahir kewajiban bagi kita untuk merawat kedamaian, menegakkan keadilan, dan menjaga keutuhan tanah air."


