Jakarta, infoDKJ.com | Sabtu, 3 September 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Ada kalanya Allah mengajarkan sesuatu kepada hamba-Nya bukan melalui ceramah, bukan melalui nasihat seorang guru, dan bukan pula melalui ayat yang sedang dibaca.
Kadang pelajaran itu datang melalui sebuah peristiwa sederhana yang membuat hati bertanya.
Seorang santri pernah mengalami sesuatu yang demikian.
Dalam waktu yang relatif singkat, hampir seluruh buku dan kitab yang selama bertahun-tahun dikumpulkannya rusak dimakan rayap. Padahal buku-buku itu tersimpan di dalam lemari yang rapi dan tidak berada di tempat yang lembap.
Awalnya ia merasa kehilangan.
Bagaimana tidak?
Buku-buku itu adalah bagian dari perjalanan intelektualnya. Ada kitab yang diperoleh dari guru, ada yang dibeli dengan susah payah, ada yang penuh catatan tangan, dan ada pula yang telah menemaninya bertahun-tahun dalam perjalanan mencari ilmu.
Namun setelah rasa kehilangan itu perlahan reda, ia memilih duduk dalam keheningan.
Ia tidak lagi bertanya,
"Mengapa buku-bukuku dimakan rayap?"
Tetapi ia mengubah pertanyaannya menjadi:
"Apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku melalui peristiwa ini?"
Di situlah muhasabah bermula.
Ilmu Bisa Menjadi Cahaya, Bisa Pula Menjadi Hijab
Ia kemudian melihat kembali lemari kaca tempat buku-bukunya selama ini tersusun.
Deretan kitab itu tampak jelas ketika tamu datang ke rumah.
Tidak ada yang salah dengan memiliki banyak buku.
Tidak ada yang salah pula dengan memiliki perpustakaan pribadi.
Yang membuatnya gelisah adalah sesuatu yang lebih halus:
Bagaimana keadaan hatinya ketika orang lain melihat semua itu?
Apakah ia senang karena buku-buku tersebut bermanfaat?
Ataukah ada rasa senang karena orang lain melihat dirinya sebagai orang yang banyak membaca dan berilmu?
Pertanyaan itu terasa tajam.
Sebab penyakit hati sering kali tidak datang dalam bentuk yang kasar.
Kesombongan tidak selalu berupa ucapan, "Aku lebih baik daripada kamu."
Kadang ia hanya berupa perasaan kecil:
"Aku lebih tahu."
"Aku lebih banyak membaca."
"Aku lebih mengerti agama."
"Aku lebih dekat kepada guru."
"Aku lebih memahami hakikat."
Bahkan seseorang dapat merasa rendah hati karena ia mengetahui bahwa dirinya memiliki ilmu tentang kerendahan hati.
Inilah penyakit yang sangat halus.
Ilmu yang seharusnya menjadi jalan menuju Allah justru dapat menjadi hijab apabila ilmu tersebut melahirkan rasa memiliki kelebihan atas orang lain.
Imam Al-Ghazali banyak mengingatkan tentang penyakit-penyakit batin yang dapat menyertai amal dan ilmu. Sebab persoalan seorang salik bukan hanya apakah ia telah melakukan amal, tetapi juga siapa yang hadir di balik amal tersebut: Allah atau dirinya sendiri.
Ketika "Aku" Mulai Bersembunyi di Balik Ilmu
Tasawuf mengajarkan manusia untuk mencurigai ego yang bersembunyi di dalam dirinya.
Kadang kita telah meninggalkan kesombongan karena harta, tetapi kesombongan itu berpindah kepada ilmu.
Kita tidak lagi membanggakan rumah, tetapi membanggakan kitab.
Tidak lagi membanggakan kendaraan, tetapi membanggakan wawasan.
Tidak lagi membanggakan jabatan, tetapi membanggakan kedekatan dengan orang-orang alim.
Bahkan tidak lagi membanggakan amal secara terang-terangan, tetapi diam-diam menikmati ketika orang lain menganggap kita sebagai orang saleh.
Ego hanya berganti pakaian.
Karena itu, semakin seseorang berjalan dalam kehidupan spiritual, semakin ia perlu berhati-hati terhadap dirinya sendiri.
Bukan berarti ia harus membenci ilmu.
Justru sebaliknya.
Ia harus mencintai ilmu, tetapi tidak menjadikan ilmu sebagai alasan untuk mencintai dirinya sendiri.
Ia harus membaca banyak kitab, tetapi jangan sampai kitab-kitab itu membuatnya merasa lebih tinggi daripada orang yang tidak sempat membacanya.
Ia harus belajar sebanyak mungkin, tetapi semakin banyak belajar seharusnya semakin kuat kesadarannya bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas.
Allah berfirman:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
"Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan, ada Yang Maha Mengetahui." (QS. Yusuf: 76)
Ayat ini seperti menempatkan manusia kembali pada tempatnya.
Seberapa banyak pun kita membaca, masih ada yang belum kita ketahui.
Seberapa dalam pun kita memahami sesuatu, masih ada lautan ilmu Allah yang tidak akan pernah selesai dijangkau manusia.
Maka ilmu yang benar bukan membuat seseorang berkata,
"Aku sudah tahu."
Tetapi membuatnya mampu berkata,
"Ternyata masih banyak yang belum aku ketahui."
Rayap Tidak Bisa Memakan Ilmu yang Diamalkan
Santri itu kemudian mendapatkan kesadaran lain.
Yang dimakan rayap hanyalah kertas.
Tinta mungkin hilang.
Sampul mungkin rusak.
Kitab mungkin tidak lagi bisa dibaca.
Tetapi ilmu yang telah menjelma menjadi akhlak tidak akan dimakan rayap.
Jika seseorang belajar tentang sabar, lalu ia menjadi lebih sabar, maka ilmu itu telah hidup.
Jika ia belajar tentang tawadhu, lalu ia semakin mudah menghormati orang lain, maka ilmu itu telah hidup.
Jika ia membaca tentang ikhlas, lalu ia mampu berbuat baik tanpa menunggu pujian, maka ilmu itu telah hidup.
Jika ia belajar tentang kasih sayang Allah, lalu ia menjadi lebih penyayang kepada makhluk-Nya, maka ilmu itu telah menemukan buahnya.
Sebab nilai ilmu bukan hanya pada berapa banyak yang tersimpan di rak, tetapi berapa banyak yang turun ke dalam hati dan menjelma menjadi perilaku.
Kitab yang tersimpan di lemari dapat menjadi koleksi.
Tetapi ilmu yang masuk ke hati harus menjadi transformasi.
Mungkin yang Hilang Bukan Ilmunya, Tetapi Keterikatannya
Dari sana ia mulai memandang kehilangan dengan cara yang berbeda.
Barangkali yang sedang diuji bukan ilmunya.
Barangkali yang sedang disentuh adalah keterikatannya kepada ilmu sebagai identitas diri.
Sebab manusia sering berkata:
"Ini bukuku."
"Ini ilmuku."
"Ini koleksiku."
"Ini hasil belajarku."
Padahal semuanya bermula dari Allah.
Allah yang memberi umur untuk belajar.
Allah yang memberi kesempatan bertemu guru.
Allah yang memberi kemampuan membaca.
Allah yang memberi kemampuan memahami.
Allah yang memberi rezeki untuk membeli kitab.
Bahkan kemampuan untuk berpikir pun bukan milik mutlak manusia.
Maka ketika seseorang berkata, "Aku berilmu," sesungguhnya ia perlu mengingat bahwa ilmu itu amanah.
Bukan mahkota.
Bukan alasan untuk merasa lebih tinggi.
Menerima Bukan Berarti Pasrah Tanpa Makna
Santri itu akhirnya belajar menerima.
Menerima bukan berarti mengatakan bahwa ia tidak boleh sedih.
Ia tetap manusia.
Ia tetap merasa kehilangan.
Tetapi ia tidak berhenti pada kehilangan.
Ia membawa kehilangan itu menuju Allah.
Ia berkata dalam hatinya:
"Ya Allah, jika selama ini ilmu yang hamba miliki telah membuat hati hamba diam-diam merasa lebih tinggi, maka ampuni hamba. Jika buku-buku itu pernah menjadi jalan tumbuhnya ujub dalam diri hamba, maka bersihkanlah hati hamba. Jadikan ilmu yang tersisa sebagai ilmu yang bermanfaat, dan jadikan kehilangan ini sebagai jalan agar hamba lebih mengenal kelemahan diri."
Di situlah kehilangan berubah menjadi tarbiyah.
Peristiwa yang semula hanya terlihat sebagai kerusakan benda berubah menjadi pelajaran batin.
Bukan karena ia memastikan bahwa rayap itu dikirim Allah sebagai hukuman.
Tidak.
Ia hanya mengambil hikmah dari peristiwa yang terjadi.
Sebab seorang mukmin tidak harus mengetahui secara pasti maksud Allah di balik setiap kejadian untuk dapat mengambil pelajaran darinya.
Yang penting adalah bagaimana peristiwa itu membuat hati semakin dekat kepada-Nya.
Jangan Sampai Ilmu Menjadi Berhala yang Halus
Ada berhala yang terbuat dari batu.
Ada pula berhala yang tidak terlihat.
Ia bernama "aku."
Aku yang paling tahu.
Aku yang paling mengerti.
Aku yang paling banyak membaca.
Aku yang paling lama belajar.
Aku yang lebih dekat kepada guru.
Aku yang lebih memahami agama.
Ketika "aku" mulai menjadi pusat perhatian, bahkan ilmu agama pun dapat berubah menjadi alat untuk memperbesar ego.
Maka perjalanan spiritual bukan sekadar menambah pengetahuan.
Perjalanan spiritual adalah perjalanan mengurangi "aku".
Semakin dekat seorang hamba kepada Allah, semestinya semakin kecil dirinya di hadapan kebesaran Allah.
Ibn 'Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan bahwa salah satu tanda seseorang terlalu bergantung kepada amalnya adalah ketika ia kehilangan harapan kepada Allah saat melakukan kesalahan.
Pesan ini dapat diperluas dalam perjalanan ilmu: jangan sampai seorang hamba bergantung kepada banyaknya ilmu sehingga ia lupa kepada Pemilik ilmu.
Karena bukan banyaknya kitab yang menyelamatkan seseorang.
Bukan pula banyaknya hafalan yang otomatis membuat seseorang mulia.
Yang menyelamatkan adalah rahmat Allah, disertai iman, amal saleh, dan hati yang terus dibersihkan.
Yang Harus Diselamatkan Adalah Hati
Akhirnya santri itu tidak lagi terlalu sibuk menghitung berapa banyak buku yang rusak.
Ia justru menghitung sesuatu yang lebih penting:
Berapa banyak kesombongan yang masih tersisa di dalam dirinya?
Ia mulai memahami bahwa ada buku yang rusak tetapi hati menjadi lebih baik.
Ada harta yang hilang tetapi jiwa menjadi lebih dekat kepada Allah.
Ada rencana yang gagal tetapi ego menjadi lebih tunduk.
Ada kehilangan yang menyakitkan tetapi dari sana seseorang menemukan jalan pulang.
Mungkin inilah salah satu cara seorang hamba belajar mengenal kasih sayang Allah.
Bukan dengan memastikan setiap musibah sebagai hukuman.
Tetapi dengan menjadikan setiap kejadian sebagai kesempatan untuk kembali kepada-Nya.
Sebab bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan keadaan di luar diri kita, melainkan keadaan di dalam diri kita.
Buku-buku boleh memenuhi lemari, tetapi jangan biarkan kesombongan memenuhi hati.
Kitab boleh tersusun tinggi, tetapi jangan sampai "aku" ikut meninggi.
Ilmu boleh semakin luas, tetapi hati harus semakin tunduk.
Dan jika suatu hari sebagian dari apa yang kita miliki harus hilang, semoga kita mampu bertanya bukan hanya,
"Apa yang telah hilang dariku?"
Tetapi juga:
"Apa yang Allah sedang selamatkan di dalam diriku?"
Barangkali yang hilang hanyalah beberapa lembar kertas.
Namun melalui kehilangan itu, Allah menyelamatkan hati dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya:
Kesombongan yang tumbuh diam-diam di balik ilmu.
Semoga Allah menjadikan ilmu kita ilmu yang bermanfaat, amal kita amal yang ikhlas, dan hati kita hati yang senantiasa tunduk kepada-Nya.
Karena pada akhirnya, tujuan mencari ilmu bukan agar manusia melihat betapa tinggi pengetahuan kita, tetapi agar kita semakin sadar betapa agung Allah dan betapa kecil diri kita.
Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin.


