Jakarta, infoDKJ.com | Rabu, 15 Oktober 2025
Penulis: Ahmad Hariyansyah (Yansen)
Bersholawat kepada Nabi Muhammad ï·º telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat Islam. Banyak orang memahami sholawat sebatas melafalkan kalimat pujian dan doa kepada beliau. Padahal, hakikat sholawat tidak berhenti pada ucapan lisan semata, tetapi juga mencakup pemahaman, penghayatan, dan peneladanan terhadap akhlak Rasulullah ï·º dalam setiap aspek kehidupan.
Perintah Bersholawat
Allah SWT secara tegas memerintahkan kaum muslimin untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad ï·º dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab: 56)
Ayat ini menegaskan betapa mulianya kedudukan Rasulullah ï·º di sisi Allah SWT. Namun, perintah bersholawat bukan hanya sekadar melafalkan doa dan salam, melainkan juga ajakan untuk menumbuhkan cinta, penghormatan, dan pengamalan terhadap nilai-nilai yang beliau ajarkan.
Sholawat dengan Lisan, Akal, Hati, dan Amal Perbuatan
Dengan Lisan
Mengucapkan sholawat adalah wujud cinta kepada Rasulullah ï·º serta bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Lisan yang senantiasa bersholawat akan menjadi lembut, terjaga dari ucapan buruk, dan senantiasa mengingat suri teladan Nabi.Dengan Akal
Sholawat juga perlu dipahami dengan akal. Seorang muslim hendaknya merenungi makna dan tujuan sholawat, serta memahami perjuangan Rasulullah ï·º dalam menyebarkan risalah Islam dengan penuh kasih dan kebijaksanaan.Dengan Hati
Hati yang bersholawat adalah hati yang hidup dengan cinta dan kerinduan kepada Rasulullah ï·º. Dari hati yang mencintai, lahir ketaatan kepada Allah dan semangat untuk meneladani setiap perilaku Nabi dalam kehidupan sehari-hari.Dengan Amal Perbuatan
Hakikat sholawat yang sempurna adalah pembuktian cinta kepada Nabi melalui amal nyata. Rasulullah ï·º bersabda:“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia menjadikan aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)Cinta sejati kepada Rasulullah ï·º harus diwujudkan dalam tindakan nyata — dengan mengikuti sunnah, menegakkan kebenaran, dan berakhlak sebagaimana beliau.
Akhlak Nabi sebagai Teladan
Allah SWT menegaskan bahwa akhlak Rasulullah ï·º adalah teladan terbaik bagi seluruh umat Islam:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Ummul Mukminin Aisyah RA menjelaskan bahwa akhlak Rasulullah ï·º adalah Al-Qur’an yang hidup:
“Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an.”
(HR. Muslim)
Dengan meneladani akhlak beliau, seorang muslim menjadikan sholawat bukan sekadar lafaz di bibir, tetapi juga jalan hidup yang mencerminkan cinta sejati kepada Rasulullah ï·º.
Bersholawat bukan hanya ritual lisan, melainkan pernyataan cinta yang hidup — disertai pemahaman akal, getaran hati, dan amal perbuatan.
Menyebut nama Nabi dengan lisan, memahami risalahnya dengan akal, merasakan cintanya dengan hati, serta meneladani akhlaknya dalam tindakan adalah wujud nyata menjadi umat beliau yang sesungguhnya.
Semoga kita termasuk hamba Allah yang senantiasa bersholawat dengan penuh makna, sehingga kelak berhak memperoleh syafaat Rasulullah ï·º di hari kiamat.


