Jakarta, infoDKJ.com | Senin, 13 Oktober 2025
Oleh: Ahmad Hariyansyah (Yansen)
Dalam perjalanan hidup, sering kali kita beranggapan bahwa kebahagiaan maupun kesedihan kita akan mendapat respon yang sama dari orang-orang di sekitar. Kita berharap, saat kita bahagia mereka ikut bergembira, dan ketika kita bersedih, mereka turut berempati.
Namun kenyataannya, hidup tidak selalu seindah itu. Tidak semua orang akan ikut bahagia atas kebahagiaan kita, dan tidak semua akan peduli terhadap kesedihan kita. Bahkan, ada kalanya kegagalan kita justru menjadi hal yang dinanti sebagian orang, sementara keberhasilan kita menjadi sesuatu yang membuat mereka gelisah.
Pandangan Sosial dan Agama
1. Iri Hati dan Persaingan
Al-Qur’an telah memperingatkan manusia tentang penyakit hati bernama iri dan dengki. Allah berfirman:
“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?”
(QS. An-Nisa: 54)
Sifat iri membuat seseorang sulit merasakan kebahagiaan orang lain. Bagi mereka, keberhasilan orang lain terasa seperti ancaman, bukan inspirasi.
2. Tidak Semua Orang Tulus
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang mukmin itu bersaudara bagi mukmin yang lain; ia tidak menzhaliminya, tidak merendahkannya, dan tidak menghinanya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa seorang mukmin sejati akan hadir dalam suka maupun duka saudaranya. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki ketulusan seperti itu.
3. Mengukur Ketulusan Sahabat
Kesulitan hidup sering kali menjadi ujian yang membongkar siapa yang benar-benar tulus mendukung kita. Rasulullah SAW bersabda:
“Perumpamaan persahabatan yang baik dan yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi...”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari hadis ini kita belajar, memilih teman yang baik sangat penting, karena mereka akan memengaruhi kebahagiaan, ketenangan, dan keteguhan hati kita.
Sikap yang Harus Kita Ambil
1. Menyadari Realita
Jangan berharap semua orang akan selalu mendukung. Dengan menyadari kenyataan ini, hati kita menjadi lebih siap menghadapi berbagai reaksi, baik yang positif maupun sebaliknya.
2. Bersyukur dalam Setiap Keadaan
Kebahagiaan sejati tidak bergantung pada seberapa banyak orang yang ikut merayakan keberhasilan kita, melainkan pada rasa syukur kepada Allah.
Allah berfirman:
“Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu...”
(QS. Ibrahim: 7)
3. Menjaga Hati dari Iri dan Benci
Rasulullah SAW bersabda:
“Janganlah kalian saling hasad (iri), saling membenci, saling membelakangi, dan jangan pula saling menjual di atas penjualan saudaranya. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
(HR. Muslim)
Menjaga hati agar bersih dari iri dan dengki adalah bentuk ibadah yang tinggi nilainya di sisi Allah.
4. Teguh dan Rendah Hati
Keberhasilan tidak perlu dipamerkan secara berlebihan, cukup dinikmati dan disyukuri. Begitu pula kegagalan—jangan dianggap sebagai kelemahan, karena setiap ujian adalah cara Allah menguatkan kita.
Penutup
Hidup adalah perjalanan panjang yang penuh ujian. Akan selalu ada yang ikut bahagia melihat kita sukses, dan ada pula yang merasa tersaingi. Akan ada yang peduli ketika kita jatuh, tetapi ada juga yang justru senang melihat kita gagal.
Jangan biarkan realita ini melemahkan semangat. Jadikan sebagai pelajaran untuk lebih bijak menaruh harapan dan menilai ketulusan.
Yang pasti, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Selama kita menjaga hati, bersyukur, dan tetap berbuat baik, maka keberhasilan sejati akan selalu berada di sisi Allah — bukan pada pandangan manusia.


