Jakarta, infoDKJ.com | Rabu, 12 November 2025
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali tergoda untuk menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya. Misalnya, ketika melihat seorang muslim yang lalai dalam menjalankan shalat, kita mudah memberi cap buruk kepadanya. Padahal, dalam Islam kita diajarkan untuk berhati-hati dalam menilai orang lain.
Shalat memang merupakan kewajiban utama setiap muslim, dan meninggalkannya jelas termasuk dosa besar. Namun, hal itu tetap menjadi urusan pribadi antara seorang hamba dan Tuhannya. Tugas kita sebagai sesama muslim bukanlah menghakimi atau merendahkan, melainkan saling mengingatkan dengan penuh kelembutan.
Allah Swt. berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
(QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini menegaskan bahwa dalam berdakwah, kita diperintahkan untuk menggunakan hikmah (kebijaksanaan), mau‘izhah hasanah (nasihat yang baik), dan berdialog dengan cara yang santun. Artinya, cara penyampaian sering kali jauh lebih penting daripada sekadar isi nasihat.
Rasulullah ï·º juga bersabda:
“Agama itu adalah nasihat.”
Para sahabat bertanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin, dan untuk kaum muslimin pada umumnya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa nasihat adalah inti dari agama. Namun, memberi nasihat bukan berarti memarahi, menghina, atau merendahkan orang lain. Nasihat yang baik lahir dari kasih sayang, bukan dari ego atau amarah.
Selain lewat ucapan, cara terbaik dalam berdakwah adalah dengan perbuatan nyata atau dakwah bil hal. Rasulullah ï·º menjadi teladan utama dalam hal ini. Beliau berhasil mengubah hati manusia bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga lewat akhlak yang lembut dan penuh kasih. Allah sendiri memuji kelembutan beliau dalam firman-Nya:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu...”
(QS. Ali Imran: 159)
Kesimpulan
Melihat saudara seiman lalai dari kewajiban memang membuat hati kita prihatin. Namun, sikap yang benar bukanlah menghakimi atau memaki, melainkan menasihati dengan santun dan penuh kasih sayang. Dakwah yang disampaikan dengan kelembutan hati, disertai keteladanan dalam perbuatan, akan jauh lebih berkesan dan menyentuh hati orang yang dinasihati.
Semoga kita semua menjadi bagian dari orang-orang yang saling menasihati dalam kebaikan dengan cara yang mulia, sebagaimana diperintahkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah ï·º.


