Jakarta, infoDKJ.com | Minggu, 30 November 2025
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Alam semesta bukanlah benda mati yang bisu. Ia hidup dengan caranya sendiri. Langit, bumi, air, pepohonan, batu-batu, hingga hembusan angin — semuanya tunduk pada hukum Allah dan bertasbih kepada-Nya.
Allah berfirman:
“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah.
Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.”
(QS. Al-Isra: 44)
Ayat ini menyingkap rahasia besar: seluruh alam senantiasa berada dalam kesadaran Ilahi. Setiap partikel, setiap atom, memiliki “getaran dzikir” yang tak terdengar oleh telinga, namun dapat dirasakan oleh hati yang bersih.
Dalam kesunyian malam, bintang-bintang seolah berdialog dengan Sang Pencipta. Dalam riak air dan desir angin, terdengar simfoni tasbih yang lembut. Bahkan burung-burung pun, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an, mengenal cara mereka sendiri untuk memuji Allah:
“Tidakkah engkau tahu bahwa kepada Allah bertasbih apa yang di langit dan di bumi,
dan juga burung dengan mengembangkan sayapnya?”
(QS. An-Nur: 41)
Manusia sering merasa paling sadar dan paling berakal, namun justru kerap lalai berdzikir. Sementara makhluk yang dianggap tidak berakal — batu, air, pepohonan — tak pernah absen mengingat Rabb-nya.
Di sinilah letak pelajaran agung: alam adalah guru dzikir bagi manusia.
Ia tidak banyak bicara, tetapi setiap geraknya adalah pujian kepada Allah. Ia tidak berdebat tentang Tuhan, karena ia sepenuhnya tunduk kepada-Nya.
Siapa pun yang mau mendengarkan, akan merasakan bahwa alam sedang mengajarkan keheningan sebagai jalan menuju kesadaran Ilahi.
Dalam diamnya malam, dalam teduhnya angin, dalam sejuknya air — semuanya bergetar dalam kalimat yang sama:
Dan ketika manusia mulai menyelaraskan dzikirnya dengan dzikir alam, saat itulah ia menjadi bagian dari harmoni semesta.
Ia tidak lagi merasa terpisah, sebab seluruh keberadaannya hanyalah gema dari satu sumber pujian — Allah, Rabbul ‘Ālamīn.


