Jakarta, infoDKJ.com | Kamis, 18 Desember 2025
Karya: Ahmad Hariyansyah
Di era media sosial hari ini, nasihat agama bertebaran hampir setiap waktu di berbagai platform—Facebook, WhatsApp, TikTok, X, dan lainnya. Banyak orang dengan mudah membagikan tausiyah, tulisan, atau video pendek, terkadang sekadar copy-paste dari grup lain tanpa memahami maknanya secara mendalam.
Sebagian orang memandang hal ini sebagai sesuatu yang positif. Bukankah menyampaikan nasihat adalah kebaikan? Bukankah berbagi ilmu agama juga bernilai pahala? Rasulullah ï·º bersabda:
“Sampaikan dariku walau satu ayat.”
(HR. Bukhari)
Namun di sisi lain, ada pula yang mengingatkan bahwa nasihat tidak hanya ditujukan untuk orang lain, tetapi pertama-tama untuk diri sendiri. Jangan sampai seseorang rajin menyebarkan pesan kebaikan, sementara perilakunya justru jauh dari apa yang ia sampaikan.
Allah ï·» memberi peringatan yang sangat tegas dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. Ash-Shaff: 2–3)
Ayat ini menjadi tamparan keras bagi siapa pun yang gemar menasihati, tetapi enggan memulai perbaikan dari dirinya sendiri.
Dua Sikap yang Perlu Dipahami
1. Menyampaikan nasihat tetaplah kebaikan
Dalam Islam, menyampaikan kebaikan tidak harus menunggu seseorang menjadi sempurna. Tidak ada manusia yang bebas dari kekurangan. Selama nasihat yang disampaikan benar dan bersumber dari ajaran Islam, ia tetap bernilai amal.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.”
(HR. Muslim)
Karena itu, jangan berhenti menyebarkan kebaikan hanya karena merasa diri belum sempurna.
2. Namun yang lebih utama adalah mengamalkannya terlebih dahulu
Para ulama menegaskan bahwa nasihat sejatinya ditujukan pertama kali untuk diri sendiri, lalu kepada orang lain. Setiap nasihat yang dibagikan seharusnya menjadi cermin dan pengingat bagi penyampainya.
Imam Malik رØÙ…Ù‡ الله berkata:
“Ilmu itu bukanlah banyaknya riwayat, tetapi ilmu adalah cahaya yang Allah letakkan di dalam hati.”
Ukuran keberhasilan bukanlah seberapa sering kita membagikan nasihat, melainkan sejauh mana nasihat itu mengubah hati dan perilaku kita.
Penutup
Menyebarkan nasihat agama di media sosial adalah perbuatan yang baik, selama dilakukan dengan sumber yang benar dan niat yang lurus. Namun jangan lupa, nasihat yang paling kuat bukan hanya yang diucapkan atau dibagikan, melainkan yang diwujudkan dalam sikap dan perbuatan.
Sikap terbaik adalah menggabungkan keduanya:
terus menyebarkan kebaikan, dan terus bersungguh-sungguh mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah ï·» menjadikan setiap nasihat yang kita baca dan kita bagikan sebagai jalan perubahan diri menuju ridha-Nya.
Aamiin.


