Jakarta, infoDKJ.com | Selasa, 16 Desember 2025
Karya: Ahmad Hariyansyah
Setiap anak menyimpan kenangan tersendiri tentang sosok ayah. Ia sering hadir sebagai pribadi yang tegar, tak banyak bicara, namun penuh kasih dalam perbuatan. Ayah bekerja tanpa keluh, menjaga tanpa pamrih, dan mencintai tanpa banyak kata. Baru ketika ia berpulang menghadap Allah, kita benar-benar menyadari betapa dalam cinta dan pengorbanannya.
Lirik lagu “Ayah, ku kirimkan doa, semoga engkau tenang di alam surga” mewakili rindu yang tak terucap. Namun di balik rindu itu, tersimpan pesan spiritual yang mendalam: setiap kehilangan adalah panggilan untuk kembali mengingat Allah dan hakikat kehidupan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Kematian ayah—atau siapa pun yang kita cintai—bukan sekadar perpisahan. Ia adalah pengingat agar kita menata ulang arah hidup. Selama ini, mungkin kita terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan, dan suatu saat akan diminta kembali oleh Pemiliknya.
Ketika tangan menaburkan bunga di atas pusara, seharusnya hati pun menaburkan doa, bukan hanya air mata. Sebab doa anak saleh adalah amal yang tak pernah terputus bagi orang tua di alam barzakh. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Karena itu, rindu terbaik bukanlah dengan tangisan yang panjang, melainkan dengan amal kebaikan yang kita persembahkan sebagai bukti cinta. Shalat yang khusyuk, sedekah yang tulus, akhlak yang baik, dan hidup yang bermanfaat—semuanya menjadi hadiah untuk ayah di alam sana.
Kadang Allah mengambil orang yang paling kita cintai bukan untuk menyiksa, melainkan untuk mengajarkan kita mencintai tanpa memiliki, bersyukur tanpa syarat, dan berdoa tanpa henti. Sebab doa adalah jembatan yang menghubungkan dunia dan akhirat.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang telah meninggal bahwa mereka mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dan mendapat rezeki.”
(QS. Al-Baqarah: 154)
Kini tugas kita bukan lagi menangisi kepergian, melainkan melanjutkan perjuangan yang ayah tanamkan: menjadi manusia yang berguna, menjaga amanah keluarga, dan tetap berpegang pada iman.
Ayah, kami kirimkan doa.
Semoga engkau tenang di alam surga.
Bukan hanya dengan kata, tetapi dengan amal yang terus mengalir—
hingga suatu hari nanti, insyaAllah, Allah pertemukan kita kembali dalam naungan rahmat-Nya.


