Jakarta, infoDKJ.com | Minggu, 14 Desember 2025
Karya: Ahmad Hariyansyah
Suatu ketika, Imam Junaid al-Baghdadi, seorang ulama besar dan ahli tasawuf, melihat seorang laki-laki yang masih tampak kuat secara fisik namun hidup dengan mengemis. Tanpa disadari, terlintas dalam hati beliau prasangka bahwa orang tersebut malas bekerja dan lebih memilih meminta-minta.
Namun pada malam harinya, Imam Junaid mendapatkan sebuah mimpi yang menggugah kesadarannya. Dalam mimpi tersebut, beliau seakan ditegur oleh Allah ï·» atas prasangka yang telah muncul di dalam hatinya. Teguran itu menyentak batin beliau, menyadarkan bahwa lintasan hati pun dapat bernilai dosa apabila tidak dijaga.
Keesokan harinya, Imam Junaid segera mencari laki-laki tersebut. Setelah bertemu, beliau dengan penuh kerendahan hati meminta maaf atas prasangka buruk yang sempat terbersit. Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa prasangka buruk (su’uzhan) dapat menjerumuskan hati ke dalam dosa, meski hanya berupa bisikan yang tak terucap.
Larangan Berburuk Sangka dalam Al-Qur’an
Allah ï·» dengan tegas melarang hamba-Nya berburuk sangka, karena prasangka dapat melahirkan dosa dan merusak ukhuwah Islamiyah. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini menegaskan bahwa prasangka bukan sekadar persoalan pikiran, tetapi bisa berkembang menjadi ghibah, fitnah, dan permusuhan yang merusak hubungan antar sesama.
Hadits tentang Bahaya Su’uzhan
Rasulullah ï·º juga memberikan peringatan keras tentang bahaya prasangka:
“Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu saling mencari-cari kesalahan, saling memata-matai, saling membenci, dan janganlah sebagian kamu membelakangi sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa prasangka merupakan akar dari berbagai penyakit hati yang dapat menghancurkan persaudaraan dan ketenteraman umat.
Pelajaran Penting dari Kisah Imam Junaid
-
Menjaga hati adalah jihad sepanjang hayat
Bahkan seorang alim besar seperti Imam Junaid al-Baghdadi pun diuji dengan lintasan hati. Ini menjadi pengingat bahwa menjaga hati dari prasangka buruk adalah perjuangan yang tidak pernah selesai. -
Segera bertaubat ketika khilaf
Imam Junaid tidak menunda taubatnya. Beliau beristighfar, bermunajat, dan langsung meminta maaf kepada orang yang diprasangkainya. -
Hakikat tidak selalu tampak di permukaan
Apa yang terlihat di mata manusia belum tentu mencerminkan keadaan sebenarnya. Bisa jadi seseorang sedang diuji Allah dengan kondisi yang tidak kita ketahui. -
Membiasakan husnuzhan
Seorang mukmin dituntut untuk berbaik sangka, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia, agar hatinya tetap bersih dan lapang.
Penutup
Kisah Imam Junaid al-Baghdadi mengajarkan kita untuk senantiasa berhati-hati dalam menilai orang lain. Hanya Allah ï·» yang Maha Mengetahui isi hati dan keadaan hamba-Nya. Jangan sampai prasangka buruk menghapus keberkahan amal dan merusak persaudaraan.
Sebaliknya, dengan husnuzhan, hati menjadi lebih tenang, persaudaraan terjaga, dan ibadah terasa lebih ikhlas. Sebagaimana doa Rasulullah ï·º:
“Ya Allah, tunjukilah aku kepada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.”
(HR. Muslim)
Semoga Allah ï·» membersihkan hati kita dari su’uzhan dan menghiasi jiwa kita dengan husnuzhan serta akhlak mulia. Aamiin.


