Jakarta, infoDKJ.com | Jum'at, 9 Januari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Kebanyakan manusia menghabiskan hidupnya untuk mencari kebahagiaan, namun justru merasa semakin jauh darinya. Ada yang mencarinya dalam harta, jabatan, pujian, dan kenyamanan dunia. Namun setelah semua itu diraih, hati tetap terasa kosong. Bukan karena nikmat itu kurang, tetapi karena makna bahagia belum dipahami dengan benar.
Bahagia sering disalahartikan sebagai senang. Padahal, senang dan bahagia adalah dua hal yang berbeda.
Senang Bukanlah Bahagia
Senang adalah kondisi ketika kita menerima sesuatu yang kita sukai: harta bertambah, keinginan tercapai, tubuh dimanjakan, ego dipuaskan. Senang bersifat reaktif, sementara, dan sangat bergantung pada keadaan di luar diri.
Sedangkan bahagia adalah keadaan hati yang memberi, bukan sekadar menerima. Bahagia lahir dari keluasan jiwa ketika kita mampu menghadirkan kebaikan bagi orang lain, meski kadang harus mengorbankan kenyamanan diri sendiri.
Inilah sebabnya mengapa seseorang bisa tertawa namun hatinya kosong, dan ada pula yang hidup sederhana namun hatinya damai.
Esensi Bahagia: Memberi dan Berkorban
Esensi kebahagiaan sejati adalah senangnya hati ketika mampu membahagiakan orang lain. Di dalamnya terdapat nilai pengorbanan: rela lelah agar orang lain ringan, rela susah agar orang lain bahagia, rela berkurang agar orang lain tercukupi.
Allah ï·» menggambarkan kebahagiaan orang-orang yang memberi dengan sangat indah:
“Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.”
(QS. Al-Hasyr: 9)
Ayat ini tidak memuji orang yang hidup tanpa masalah, tetapi memuji mereka yang tetap memberi meski sedang kekurangan. Di situlah kebahagiaan hakiki tumbuh—bukan dari memiliki, melainkan dari mengalahkan ego.
Bahagia dalam Pandangan Rasulullah ï·º
Rasulullah ï·º menegaskan bahwa nilai manusia bukan pada apa yang ia kumpulkan, tetapi pada apa yang ia berikan:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Hadits ini menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari kenikmatan pribadi, tetapi dari manfaat yang dirasakan orang lain melalui kehadiran kita.
Dalam hadits lain, Rasulullah ï·º bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kaya hati inilah yang melahirkan kebahagiaan: hati yang lapang untuk memberi, ikhlas berkorban, dan ridha atas ketentuan Allah.
Tasawuf: Bahagia Saat Ego Mengecil
Dalam perspektif tasawuf, bahagia adalah saat ego melemah dan cinta menguat. Selama manusia masih menjadikan dirinya pusat segalanya, selama itu pula ia sulit bahagia. Tetapi ketika hati mulai hidup untuk Allah dan sesama, kebahagiaan hadir tanpa dicari.
Imam Al-Ghazali رØÙ…Ù‡ الله menyiratkan bahwa penderitaan terbesar manusia bukan pada kurangnya nikmat, tetapi pada besarnya keakuan (nafs). Saat nafs ditundukkan, hati menjadi ringan, dan kebahagiaan pun mengalir.
Allah ï·» berfirman:
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Hati yang tenang karena Allah akan mudah memberi, dan hati yang mudah memberi akan mudah bahagia.
Penutup
Bahagia bukan tentang seberapa banyak yang kita terima, tetapi seberapa tulus kita memberi.
Bahagia bukan tentang hidup tanpa luka, tetapi tentang rela terluka demi senyum orang lain.
Bahagia bukan soal dunia yang memuaskan diri, tetapi hati yang menemukan makna penghambaan.
Maka jika hari ini kita merasa sulit bahagia, mungkin bukan karena hidup terlalu berat—tetapi karena hati masih terlalu sibuk menuntut, belum belajar memberi.
Semoga Allah ï·» menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang kaya hati, ringan tangan, dan merasakan kebahagiaan sejati yang tidak bergantung pada dunia, tetapi bertaut erat dengan-Nya. Aamiin.


