Puasa disebut oleh Allah sebagai amalan umat-umat terdahulu. Artinya, ketika umat Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan berpuasa, itu bukanlah syariat yang baru dan memberatkan. Puasa adalah syariat universal. Demikian pula dengan shalat.
Allah ﷻ berfirman:
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ
“Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.”
(QS. Al-Anbiya: 73)
Shalat Amalan yang Paling Dicintai Allah
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ:
أَيَّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ؟
Beliau menjawab: « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا »“Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?”
Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.”Ibnu Mas’ud bertanya lagi, “Kemudian apa?”
Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.”“Kemudian apa lagi?”
Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.”
Shalat adalah amalan paling utama setelah iman.
Apa Artinya Puasa Tanpa Shalat?
Puasa tidak akan sempurna tanpa shalat. Bahkan meninggalkan shalat dengan sengaja adalah perkara yang sangat berat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
« بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ »
“Perbedaan antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.”
(HR. Muslim)
Karena itu, jangan sampai seseorang rajin berpuasa namun meninggalkan shalat.
Shalat Harus Khusyuk dan Dijaga Konsistensinya
Allah ﷻ menyebut ciri orang beriman:
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya
(QS. Al-Mukminun: 2)
Dan juga:
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ
“Dan orang-orang yang memelihara salatnya.”
(QS. Al-Mukminun: 9)
Artinya, shalat tidak boleh bolong-bolong. Harus dijaga waktunya dan kekhusyukannya.
Keutamaan Shalat Subuh dan Ashar
Allah ﷻ berfirman:
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
“Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”
(QS. Al-Isra’: 78)
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ
“Peliharalah semua salat dan salat wustha (Ashar).”
(QS. Al-Baqarah: 238)
Rasulullah ﷺ menjelaskan:
“Para malaikat malam dan malaikat siang bergantian mengawasi kalian. Mereka berkumpul pada shalat Subuh dan shalat Ashar…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa agung dua waktu ini. Malaikat menyaksikan dan melaporkan keadaan hamba kepada Allah.
Bekal Menuju Akhirat
Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berpesan:
“Shalatlah di tengah malam sebagai persiapan menghadapi gelapnya kubur.
Berpuasalah di hari yang terik untuk menghadapi panasnya mahsyar.
Bersedekahlah untuk menghindari kesulitan di akhirat.”
Sebagian ulama salaf berkata:
“Shalatmu akan menghantarkanmu setengah perjalanan menuju surga.
Puasamu akan menghantarkanmu ke depan pintu surga.
Sedekahmu akan memasukkanmu ke dalam surga.”
Penutup
Jangan pernah meninggalkan shalat dalam keadaan apa pun, kecuali ada uzur syar’i. Terlebih bagi laki-laki, shalat berjamaah di masjid bernilai 27 derajat lebih utama.
Apalagi di bulan Ramadhan, pahala dilipatgandakan tanpa batas.
Betapa indah keserasian antara puasa, shalat, dan sedekah. Mari kita siapkan bekal untuk perjalanan panjang menuju kampung akhirat. Kita mungkin mudik ke kampung halaman, tetapi pada akhirnya kita semua akan kembali kepada Allah dan mempertanggungjawabkan kehidupan kita di dunia.
Semoga kita semua selamat di akhirat kelak.
Aamiin.


