Jakarta Barat, infoDKJ.com | Sabtu malam itu, 10 Januari 2026, udara di kawasan Jl. Anggrek Cakra No.12A, Kelurahan Kebon Jeruk, terasa berbeda. Bukan karena keramaian lalu lintas atau hiruk-pikuk kota, melainkan karena hadirnya semangat kebersamaan yang meneduhkan. Sejak pukul 19.00 WIB, satu per satu pengurus NU dari berbagai struktur mulai berdatangan. Mereka datang dengan satu niat yang sama: khidmah, dan satu tujuan: menguatkan jam’iyyah.
Malam itu, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Kebon Jeruk menggelar silaturahim dan musyawarah bersama pengurus 7 Ranting NU se-Kecamatan Kebon Jeruk, serta unsur Badan Otonom (Banom) seperti GP Ansor, Rijalul Ansor, Banser, IPNU–IPPNU, Muslimat NU, dan Fatayat NU.
Pertemuan ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ia menjadi semacam “titik temu awal”—tempat seluruh elemen NU Kebon Jeruk saling menyapa, memperkenalkan diri, serta memperkuat niat untuk bergerak bersama.
Ta’aruf yang Menghangatkan, Kekeluargaan yang Mengikat
Agenda diawali dengan ta’aruf dan saling perkenalan. Namun, bukan ta’aruf yang kaku seperti forum formal, melainkan perkenalan yang terasa hangat, penuh canda ringan, dan sesekali diiringi senyum-senyum yang membuat suasana semakin cair.
Nama demi nama disebutkan, latar belakang disampaikan, amanah organisasi disebutkan. Dari sinilah hubungan jam’iyyah dirajut: dari saling mengenal menjadi saling menguatkan.
Dalam setiap perkenalan itu, terselip satu pesan yang nyaris sama dari semua peserta: NU harus bergerak dengan akhlak, dengan ilmu, dan dengan semangat yang merangkul.
Malam itu, nilai Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah tidak hanya disebut sebagai konsep, tetapi hidup dalam suasana yang menghargai perbedaan, merawat persaudaraan, dan meneguhkan prinsip tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal.
Amru Zuhri: Silaturahim Bukan Formalitas, Tetapi Fondasi Kekompakan
Ketua MWC NU Kebon Jeruk, H. M. Amru Zuhri, menyampaikan sambutan yang menjadi inti arah pertemuan. Ia menegaskan bahwa silaturahim bukan sebatas seremoni, melainkan fondasi paling penting dalam membangun kekuatan NU.
“Silaturahim ini bukan sekadar pertemuan formal, tetapi fondasi kebersamaan dan kekompakan seluruh unsur NU — baik MWC, Ranting, maupun Banom. Dengan saling mengenal dan menyatukan niat sejak awal, insyaAllah khidmah NU di Kebon Jeruk akan semakin kuat dan terarah,” ujar H. M. Amru Zuhri.
Bagi MWC NU, silaturahim adalah pintu masuk menuju kerja-kerja besar. Tanpa silaturahim, program hanya tinggal agenda. Tetapi dengan silaturahim, program menjadi gerakan yang terasa oleh umat.
Menuju Pelantikan dan Raker: Dari Niat Menuju Program Nyata
Setelah perkenalan, suasana forum beralih menjadi lebih fokus. Musyawarah mulai memasuki agenda strategis: persiapan Pelantikan Pengurus MWC NU Kebon Jeruk, serta pembahasan awal Rapat Kerja (Raker).
Pembahasan tidak hanya soal teknis acara, tetapi juga soal “ruh” yang ingin dibangun. Program kerja tidak boleh hanya sekadar banyak, tetapi harus maslahat, membumi, dan menyentuh kebutuhan warga.
Amru Zuhri kembali menegaskan, pelantikan dan raker harus dimaknai sebagai titik awal tanggung jawab besar, bukan sekadar agenda formal.
“Pelantikan dan rapat kerja nanti tidak boleh berhenti pada seremonial. Ini harus menjadi titik awal lahirnya program-program yang maslahat, membumi, dan menjawab kebutuhan umat. NU hadir untuk berkhidmah, melayani masyarakat, serta menjaga harmoni kehidupan berbangsa,” tambahnya.
Di titik ini, musyawarah menjadi simbol bahwa NU tidak bergerak dengan ego perorangan, tetapi dengan prinsip jam’iyyah: berpikir bersama, berikhtiar bersama, dan bertanggung jawab bersama.
Doa Penutup: Meneguhkan Langkah, Menguatkan Ikhtiar
Saat forum berakhir, tidak ada tepuk tangan panjang yang dibuat-buat. Yang ada adalah suasana tenang, sekaligus keyakinan: langkah NU Kebon Jeruk baru saja dimulai.
Pertemuan kemudian ditutup dengan doa bersama, memohon kepada Allah SWT agar amanah pengurus diberi kemudahan, keberkahan, dan istiqamah dalam mengabdi kepada agama, umat, dan bangsa.
Malam itu, di Anggrek Cakra, NU Kebon Jeruk sedang merajut sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pertemuan: sebuah komitmen kolektif untuk bergerak bersama, merawat umat, dan menjaga harmoni.
(Yansen)


