Jakarta, infoDKJ.com | Senin, 26 Januari 2026
Pandemi dan era digital telah membawa perubahan besar dalam wajah pendidikan. Ruang kelas yang biasanya riuh oleh tawa dan interaksi siswa kini berpindah ke layar gawai di sudut-sudut rumah. Namun, transisi menuju Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tidak berjalan mulus. Di balik layar laptop dan ponsel pintar, tersimpan dilema besar yang dihadapi para orang tua: membagi peran antara pencari nafkah dan “guru dadakan” bagi anak-anaknya.
Keluhan dan Realitas Peran Tambahan Orang Tua
Tak sedikit orang tua mengeluhkan beratnya beban selama PJJ. Mereka tidak hanya dituntut memastikan koneksi internet stabil dan perangkat siap digunakan, tetapi juga harus mendampingi anak menghadapi tugas-tugas sekolah yang terasa tiada henti. Di tengah tuntutan pekerjaan kantor atau usaha harian, orang tua kerap kelelahan saat harus kembali membuka buku pelajaran yang mungkin sudah puluhan tahun tak disentuh.
Rasa penat, bingung, bahkan frustrasi menjadi bagian dari keseharian. PJJ pun sering dipersepsikan sebagai beban domestik tambahan yang menyita energi dan waktu.
Hikmah di Balik Sulitnya Mengajar
Namun, di balik keluhan itu, tersimpan pelajaran berharga. PJJ membuka mata banyak orang tua tentang betapa beratnya tugas seorang guru. Mengajar ternyata bukan sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi juga soal kesabaran, empati, dan ketelatenan dalam menghadapi beragam karakter anak.
Momentum ini sejatinya menjadi kesempatan emas bagi orang tua untuk kembali pada peran fitrahnya sebagai Madrasah Pertama (Al-Madrasatul Ula) bagi anak-anaknya. Rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan nilai kehidupan.
Ada beberapa peran krusial yang kini kembali berada di tangan orang tua:
-
Menanamkan Disiplin Waktu
Mengatur jadwal belajar di rumah melatih anak untuk tetap menghargai waktu dan tanggung jawab, meski proses belajar tidak berlangsung di sekolah. -
Pendidikan Akhlak dan Adab
Orang tua memiliki kesempatan lebih besar untuk memantau langsung perilaku, tutur kata, serta sikap anak dalam keseharian. -
Mengenali Potensi Anak
Kedekatan selama PJJ membuat orang tua lebih peka terhadap kesulitan belajar anak sekaligus mampu melihat bakat terpendam yang sebelumnya luput dari perhatian.
Sinergi: Bukan Menuntut, Melainkan Mendukung
PJJ seharusnya menyadarkan kita bahwa pendidikan anak bukan semata tanggung jawab sekolah. Orang tua tidak bisa hanya “menitipkan” anak lalu menuntut hasil yang sempurna tanpa keterlibatan aktif.
Pendidikan yang berkualitas lahir dari sinergi yang kuat antara guru dan orang tua. Guru berperan sebagai fasilitator kurikulum dan pembimbing akademik, sementara orang tua menjadi pendamping emosional, teladan karakter, dan pengawas langsung di rumah. Ketika keduanya berjalan seiring dan saling mendukung, proses mencerdaskan anak bangsa akan terasa lebih ringan, manusiawi, dan bermakna.
Abdul Hamid Qodarullah“Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Sekolah mengajarkan ilmu, namun rumah menanamkan jiwa.”
Sekretaris MGMP PAI Jakarta Pusat 1


