Jakarta, infoDKJ.com | Selasa, 27 Januari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim)
Sekilas, hadis ini mengundang perenungan mendalam bagi seorang mukmin.
Bagaimana mungkin Allah ﷻ—Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Mutlak, dan Maha Menentukan—mengaitkan ridha dan murka-Nya dengan makhluk, yakni orang tua?
Apakah ini berarti orang tua “menentukan” ridha dan murka Allah?
Pertanyaan ini bukanlah bentuk keraguan, melainkan tanda akal dan hati yang sedang bertadabbur.
Allah Maha Kuasa, Namun Maha Bijaksana Menetapkan Sunnah
Pertama-tama, harus ditegaskan:
Allah ﷻ tidak bergantung kepada siapa pun.
Allah berfirman:
“Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Hajj: 18)
Namun Allah juga menetapkan hukum sebab-akibat sebagai bagian dari pendidikan ruhani manusia:
“Dan Allah menjadikan bagi segala sesuatu sebab-sebab.”
(QS. Al-Kahfi: 84)
Artinya, Allah Maha Berkuasa secara mutlak, tetapi Dia memilih mengaitkan sebagian ketetapan-Nya dengan sebab tertentu—bukan karena keterbatasan, melainkan karena hikmah dan tarbiyah (pendidikan jiwa).
Orang Tua: Jalan Awal Pengenalan Hamba kepada Rabb-Nya
Orang tua adalah sebab pertama kehadiran manusia di dunia.
Melalui mereka, seorang anak belajar:
- Kasih sayang
- Ketaatan dan hormat
- Makna pengorbanan
- Rasa ketergantungan dan kebutuhan
Karena itu, Allah menggandengkan tauhid dengan bakti kepada orang tua:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.”
(QS. Al-Isra’: 23)
Perhatikan urutannya:
Tauhid → Birrul walidain
Ini bukan kebetulan, melainkan isyarat spiritual yang dalam:
Siapa yang gagal bersikap lurus kepada sebab jasmaninya, sulit bersikap lurus kepada sebab ketuhanannya.
Ridha Allah Digantungkan: Bukan Kelemahan, Tapi Ujian Kerendahan Hati
Allah ﷻ tidak menjadikan ibadah sebatas ritual vertikal.
Shalat, puasa, dan dzikir bisa dilakukan dengan tubuh,
namun berbakti kepada orang tua menguji ego, kesabaran, dan keikhlasan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Celaka, celaka, celaka!”
Para sahabat bertanya: “Siapa wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya di usia tua, namun ia tidak masuk surga.”
(HR. Muslim)
Maknanya jelas:
Pintu surga seringkali dibuka melalui manusia terdekat, bukan melalui jalan yang jauh dan abstrak.
Rahasia Besarnya: Membersihkan Tauhid dari Keangkuhan
Banyak orang mengaku mencintai Allah,
namun gagal mencintai orang tua yang nyata di hadapannya.
Allah menggantungkan ridha-Nya pada ridha orang tua untuk meruntuhkan kesombongan spiritual, agar manusia sadar:
“Engkau tidak sampai kepada-Ku kecuali melalui adab.”
Allah berfirman:
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku tempat kembali.”
(QS. Luqman: 14)
Syukur kepada Allah tidak sempurna jika terputus dari syukur kepada orang tua.
Apakah Ridha Orang Tua Bersifat Mutlak?
Para ulama menjelaskan:
Ridha orang tua berlaku selama tidak bertentangan dengan syariat Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Khalik.”
(HR. Ahmad)
Namun dalam urusan dunia, adab, sikap, pelayanan, dan penghormatan—selama bukan maksiat—keridhaan orang tua adalah ladang besar ridha Allah.
Kesimpulan: Bukan Ketergantungan, Melainkan Pendidikan Jiwa
Allah ﷻ menggantungkan ridha-Nya pada ridha orang tua bukan karena Dia membutuhkan makhluk, melainkan karena:
- Allah mendidik hamba-Nya melalui jalan adab
- Allah menguji keikhlasan, bukan sekadar ritual
- Allah membersihkan tauhid dari ego dan klaim kosong
- Allah menjadikan orang tua sebagai cermin ketaatan yang nyata
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu berbakti kepada orang tua, selama mereka masih hidup maupun setelah wafat, dan mengantarkan kita pada ridha-Nya.


