Jakarta, infoDKJ.com | Di sebuah kediaman yang sederhana namun penuh sejarah, langkah-langkah tamu disambut hangat, bukan hanya oleh senyum tuan rumah, tetapi oleh kenangan yang seakan belum pernah pergi. Senin siang (5/1/2026), Komisaris Dragon Law Firm Lana Kartasasmita bersama pengurus Forum Wartawan Jaya (FWJ) Indonesia wilayah Jakarta Barat dan Tangerang Selatan hadir untuk sebuah silaturahmi istimewa: bertemu langsung dengan Asido “Sido” Panjaitan, drummer sekaligus pendiri grup musik legendaris Indonesia, Panbers.
Tidak ada panggung megah. Tidak ada sorot lampu konser. Tetapi suasana yang tercipta jauh lebih bernilai: sebuah ruang keluarga yang menjadi saksi perjalanan panjang musik Indonesia, dan seorang musisi yang telah menaburkan harmoni selama puluhan tahun.
Silaturahmi itu dimulai dengan makan siang bersama. Obrolan mengalir ringan—tentang kehidupan, tentang masa-masa kejayaan, dan tentang musik yang dulu menghidupkan satu generasi penuh. Namun, di balik tawa dan nostalgia, tersimpan rasa haru: karena tidak setiap hari kita bisa duduk sedekat itu dengan seorang legenda.
Saat Studio Menjadi “Mesin Waktu”
Usai makan siang, rombongan diajak masuk ke studio rekaman milik Panbers. Di ruangan itulah waktu seakan berputar balik.
Nada-nada lama mulai dimainkan. Lagu-lagu kenangan era 1970-an kembali mengalun. Ketukan drum terdengar mantap. Rasanya seperti membuka lemari ingatan yang lama tertutup: “Akhir Cinta”, “Gereja Tua”, “Kami Cinta Perdamaian”—semuanya bukan sekadar lagu, tetapi potongan hidup banyak orang.
Wajah-wajah yang hadir terlihat larut. Ada yang tersenyum, ada yang mengangguk pelan, ada juga yang diam sejenak seperti menahan sesuatu di dada: sebab musik Panbers bukan hanya hiburan—ia adalah suara masa muda, suara keluarga, dan suara zaman yang pernah kita lalui.
Panbers: Bukan Sekadar Band, Tapi Harmoni Persaudaraan
Panbers bukan grup biasa. Ia lahir dari darah persaudaraan. Dulu mereka adalah “Panjaitan Bersaudara”—empat saudara kandung yang memilih jalan musik sebagai bahasa hidup: Hans, Benny, Doan, dan Asido Panjaitan.
Dari Surabaya ke Jakarta, dari panggung kecil ke layar televisi, dari masa awal yang penuh keterbatasan hingga menjadi legenda musik nasional—Panbers menempuh perjalanan yang tidak mudah, namun penuh kesungguhan.
Mereka dikenal produktif dan kuat secara karakter. Karya-karya mereka bukan hanya populer, tetapi juga bernyawa. Lagu mereka membawa pesan: tentang cinta, kehilangan, kesederhanaan, dan perdamaian—pesan yang hingga kini masih relevan.
Sido Panjaitan: “Kami Bermusik untuk Menyampaikan Pesan”
Di sela pertemuan itu, Asido “Sido” Panjaitan menyampaikan kalimat yang membuat suasana terasa semakin dalam. Ia berbicara bukan sebagai selebritas, tetapi sebagai manusia yang telah menua bersama musiknya.
“Bersama tiga saudara kandung saya membangun Panbers bukan hanya untuk mengejar impian dalam musik, melainkan untuk menyampaikan pesan cinta, perdamaian, dan kebersamaan melalui setiap irama dan lagu yang kami ciptakan,” ujar Sido.
Ia juga menegaskan bahwa meski waktu berganti, formasi berubah, dan berbagai masa sulit pernah dilewati, namun ruh Panbers tidak pernah hilang.
“Semangat harmoni saudara dalam musik Panbers akan tetap hidup dan tak pernah pudar,” tambahnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi banyak orang, itulah definisi legenda: tetap hidup meski zaman berganti.
“Menjadi Top Itu Mudah, Menjadi Legenda Itu Sulit”
Tak hanya Sido, Maxi Pandelaki, bassist Panbers, juga menyampaikan pandangannya tentang arti menjadi legenda. Ia menyebut bahwa sebelum terbentuk Panbers, keluarga Panjaitan sudah bermusik sejak kecil, bahkan sempat membentuk band anak-anak bernama Turuna Boys ketika tinggal di Palembang.
“Band bocah waktu itu punya delapan personel, bahkan pernah manggung di kantor gubernur,” ujar Maxi.
Maxi lalu mengatakan sesuatu yang membuat ruangan hening sejenak.
“Menjadi top itu mudah, namun menjadi legenda itu sulit karena harus abadi. Dan kini kami bisa mengatakan bahwa kami adalah legenda musik lawas Indonesia.”
Penutup: Legenda Itu Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi, tetapi sebuah penghormatan. Sebab di balik lagu-lagu yang sering kita dengar, ada manusia-manusia yang menanamkan hidupnya untuk membuat karya yang bertahan puluhan tahun.
Dan hari itu, di sebuah studio yang sederhana, Panbers kembali hidup—bukan hanya melalui musik, tetapi melalui cerita, persaudaraan, dan ketulusan yang tak bisa dibeli oleh zaman.
Karena legenda sesungguhnya tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya menunggu kita untuk kembali mengingatnya.
(Dani)


