Jakarta, infoDKJ.com | Selasa, 6 Januari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia umumnya sangat perhatian pada penampilan luar. Wajah dibersihkan, dirawat, dan ditata agar terlihat baik di hadapan sesama. Namun, sebagaimana diingatkan para ulama—di antaranya Imam Al-Ghazali—banyak manusia lalai merawat tempat paling penting dalam dirinya: hati.
Manusia menjaga wajah karena wajah adalah tempat pandangan manusia. Tapi hanya sedikit yang menjaga hati, padahal hati adalah tempat pandangan Allah. Sebab Allah tidak menilai rupa, bentuk, atau harta seseorang, melainkan hati dan amal.
Hati adalah Tempat Pandangan Allah
Rasulullah ï·º bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa kebersihan hati lebih utama daripada kebersihan fisik. Wajah yang tampak indah tidak memiliki nilai apa-apa jika hati kotor oleh iri, dengki, riya, sombong, atau buruk sangka.
Allah juga menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa keselamatan di hari kiamat bukan milik orang yang sekadar memiliki harta dan keturunan, melainkan mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.
“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih (qalbun salim).”
(QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)
Qalbun salim adalah hati yang selamat dari penyakit batin dan penuh keikhlasan kepada Allah.
Penyakit Hati Lebih Berbahaya daripada Penyakit Fisik
Allah menyebut sebagian manusia hidup dengan hati yang sakit:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya...”
(QS. Al-Baqarah: 10)
Penyakit ini bukan penyakit jasmani, melainkan penyakit batin seperti:
- iri dan dengki
- sombong dan ujub
- riya dan cinta pujian
- buruk sangka
- cinta dunia berlebihan
- keras hati
Penyakit-penyakit ini bisa merusak amal, menutup jalan hidayah, dan menjauhkan manusia dari rahmat Allah, meskipun penampilan luarnya tampak baik dan terhormat.
Membersihkan Hati adalah Penghambaan Sejati
Allah menyebut kebersihan jiwa sebagai keberuntungan yang sesungguhnya:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Ash-Syams: 9–10)
Menyucikan hati bukan perkara mudah, tetapi ia adalah jalan utama menuju Allah. Caranya antara lain:
- memperbanyak istighfar
- memperbanyak dzikir
- muhasabah diri
- menahan diri dari kebencian
- belajar memaafkan
- meluruskan niat
- mendekat kepada Al-Qur’an
Siapa Menjaga Hati, Allah Jaga Kehormatannya
Imam Al-Ghazali berkata:
“Barang siapa menjaga hatinya, maka Allah akan menjaga pandangan manusia terhadapnya.”
Artinya, ketika batin seorang hamba dibenahi, Allah yang akan memperbaiki citranya di mata manusia. Kehormatan, cinta, dan kepercayaan tidak lahir dari polesan wajah, tetapi datang sebagai karunia Allah karena kebeningan hati.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging; jika ia baik, seluruh tubuh menjadi baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh menjadi rusak. Ketahuilah, itulah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itulah hati menjadi pusat kendali seluruh perilaku. Bila hati bersih, maka lisan lembut, tindakan baik, dan akhlak terjaga.
Kesimpulan
Membersihkan wajah adalah kebaikan, tetapi membersihkan hati adalah ibadah.
Wajah yang indah tidak sebanding dengan hati yang bersih.
Senyum yang tulus lebih bernilai daripada senyum yang dibuat hanya untuk dipuji manusia.
Jalan menuju Allah dimulai dari dalam diri.
Jaga hati, maka Allah menjaga kehormatanmu di mata manusia.
Semoga Allah menganugerahkan kita hati yang bersih, niat yang ikhlas, dan jiwa yang selalu dekat kepada-Nya. Aamiin.


