Akademisi, Da’i, Pengamat Kebijakan Publik, Sekretaris II Basyarnas-MUI-Pusat, Ketua PD Muhammadiyah Jakarta Barat
Dari Malam Paling Gelap ke Langit Paling Tinggi
Isra’ Mi’raj bukan sekadar kisah tahunan yang dibacakan ulang, melainkan peristiwa penguatan jiwa Rasulullah ﷺ pada fase yang sangat berat, lalu diakhiri dengan “hadiah” yang paling membumi: salat. Di saat manusia biasanya runtuh karena duka dan tekanan, Allah justru mengangkat Rasul-Nya untuk diperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya, seolah menegaskan bahwa keteguhan dakwah tidak berdiri di atas kondisi yang selalu nyaman, tetapi di atas hati yang tetap terhubung kepada Allah.
Al-Isrā’ (QS. Al-Isrā’ [17]: 1): Ayat yang Menjadi Pintu Masuk Kisah
Al-Qur’an membuka peristiwa ini dengan kalimat yang menuntut kita menaruh hormat sebelum menuntut penjelasan. Allah berfirman:
سُبْحٰنَ الَّذِیْۤ اَسْرٰی بِعَبْدِهٖ لَیْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَی الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِیْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِیَهٗ مِنْ اٰیٰتِنَا ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِیْعُ الْبَصِیْرُ
Terjemah (Indonesia): “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Perhatikan fokus ayat ini: bukan sekadar “perjalanan malam”, tetapi “agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda Kami.” Artinya, inti Isra’ adalah pendidikan ilahiah—Allah sedang membekali Rasul-Nya dan umat dengan makna, keteguhan, dan arah, bukan sekadar kisah menakjubkan.
Isyarat Mi’raj (QS. An-Najm [53]: 13–18): “Tanda-Tanda yang Paling Besar”
Al-Qur’an juga memberi isyarat kuat tentang puncak pengalaman Mi’raj dalam Surah An-Najm—dengan bahasa yang sangat tertib, seakan mengajari adab spiritual: penglihatan Rasulullah ﷺ tidak liar, tidak menyimpang, dan tidak melampaui batas.
وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰی ١٣ عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهٰى ١٤ عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰى ١٥ اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰى ١٦ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى ١٧ لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى ١٨
Terjemah (Indonesia): “Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratilmuntahā. Di dekatnya ada Surga al-Ma’wā. (Muhammad melihat itu) ketika Sidratilmuntahā diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya tidak menyimpang dan tidak (pula) melampaui batas. Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.”
Di era konten cepat, sensasi, dan potongan informasi yang mudah menipu, ayat-ayat ini terasa sangat kontekstual: iman yang benar itu membuat manusia semakin beradab, semakin jernih, bukan semakin gaduh.
Apa yang Nabi “Bawa Pulang”: Perintah Salat yang Mencetak Umat
Dalam riwayat hadits-hadits sahih, puncak paling menentukan dari Mi’raj adalah kewajiban salat. Pada awalnya diwajibkan sejumlah besar salat, kemudian Rasulullah ﷺ—atas arahan Nabi Musa ‘alaihissalām—kembali memohon keringanan hingga ditetapkan menjadi lima waktu, namun tetap bernilai besar di sisi Allah.
Di sinilah Isra’ Mi’raj menjadi sangat praktis. Allah tidak menutup peristiwa agung itu dengan teori panjang, tetapi dengan disiplin yang sanggup menjaga manusia setiap hari. Salat adalah “jalur naik” yang tidak menunggu mukjizat: ia ada di tengah rutinitas, dan justru di situlah keajaibannya—membentuk jiwa yang kuat, jernih, dan tidak mudah runtuh.
Apa yang Dilihat Rasulullah ﷺ: Surga, Neraka, dan Cermin Moral
Kisah Isra’ Mi’raj juga mengandung berita tentang apa yang disaksikan Rasulullah ﷺ dalam perjalanan itu. Di langit pertama, misalnya, Nabi bertemu Adam ‘alaihissalām; Adam tersenyum ketika melihat ke kanan (sebuah gambaran tentang golongan penghuni surga), dan menangis ketika melihat ke kiri (gambaran golongan penghuni neraka). Ini bukan “drama”, tetapi peringatan bahwa hidup manusia bergerak ke dua arah yang sangat berbeda, dan pilihan itu dibentuk oleh iman serta amal.
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ juga menyebut Malik sebagai penjaga neraka (gatekeeper of the Hell Fire) di antara tanda-tanda yang diperlihatkan Allah kepadanya pada malam Mi’raj. Ada pula penyebutan tentang sungai-sungai—sebagian terkait dengan kenikmatan surga—yang mengingatkan bahwa akhirat itu nyata, bukan sekadar metafora.
Yang paling penting dari semua gambaran ini adalah pesan etikanya: surga bukan hadiah instan, ia “dipanen” dari istiqamah; neraka bukan sekadar ancaman untuk menakut-nakuti, tetapi cermin agar manusia berhenti meremehkan dosa dan kezaliman. Detail-detail “adegan” yang beredar di masyarakat memang beragam tingkat kekuatannya, tetapi garis besarnya jelas: Allah sedang mendidik umat agar tidak menganggap enteng kerusakan moral—terutama yang merusak manusia lain.
Mengapa Dalam Hadits Disebut Banyak Wanita di Neraka?
Pertama, hadits-hadits sahih itu tidak mengatakan perempuan masuk neraka “karena mereka perempuan”. Nabi ﷺ justru menjelaskan sebab perilaku yang saat itu beliau peringatkan. Dalam salah satu riwayat sahih, ketika ditanya mengapa demikian, Nabi ﷺ menjawab bahwa penyebabnya adalah kebiasaan tertentu: sering melaknat/mencela dan kufrān al-‘ashīr, yaitu tidak berterima kasih kepada suami serta mengingkari kebaikan yang sudah diterima—misalnya setelah lama diperlakukan baik, lalu karena satu hal yang tidak disukai, ia berkata, “Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu.”
Di sini penting membedakan istilah “kufr” dalam konteks hadits tersebut: yang dimaksud bukan otomatis “kafir akidah”, melainkan kufr nikmat (mengingkari kebaikan/karunia), khususnya dalam relasi rumah tangga. Karena itu pesan utamanya sangat etis dan sangat sosial: jangan merusak rumah tangga dengan lidah yang kejam dan ingatan yang meniadakan kebaikan.
Kedua, konteks hadits ini juga bernuansa tarbiyah (pendidikan) yang sangat praktis. Dalam salah satu riwayat, Nabi ﷺ menyampaikan peringatan ini sambil mendorong kaum perempuan untuk banyak bersedekah dan memperbanyak istighfar—artinya, bukan untuk menjatuhkan martabat perempuan, tetapi untuk menutup pintu-pintu kebinasaan moral dengan amal nyata.
Ketiga, hadits ini sama sekali tidak boleh dipakai sebagai dalih untuk merasa “lebih suci” bagi laki-laki. Nabi ﷺ juga berkali-kali memperingatkan laki-laki tentang dosa besar mereka: zalim, sombong, menelantarkan amanah, memakan harta haram, menyakiti keluarga, dan seterusnya. Jadi pesan yang adil adalah: setiap gender punya titik rawan, dan Islam datang bukan untuk memihak ego, tetapi untuk menyelamatkan jiwa.
Jika dibaca kontekstual di era digital, peringatan Nabi ﷺ tentang “lidah” hari ini terasa pindah kanal menjadi “jari”: komentar, status, unggahan, dan narasi yang meremehkan pasangan atau meniadakan kebaikan orang lain. Banyak hubungan hancur bukan karena kurang rezeki, tetapi karena budaya mencela, membuka aib, dan menghapus kebaikan dari memori saat emosi sedang panas. Maka pesan hadits ini sebenarnya sangat modern: jaga lisan (dan jari), dan rawat syukur agar relasi tidak menjadi jalan menuju dosa.
Analisis Kontekstual: Banyak Koneksi, Sedikit Kehadiran
Jika Isra’ Mi’raj dibaca dengan kacamata zaman sekarang, ia seperti manual ketahanan jiwa di era distraksi. Kita hidup dalam paradoks: jaringan makin cepat, informasi makin deras, tetapi banyak hati makin rapuh. Overthinking merajalela, emosi mudah meledak, relasi mudah retak, dan makna hidup gampang menguap. Dalam konteks ini, salat tampil bukan sekadar kewajiban, melainkan intervensi Allah yang sangat “relevan”: menghentikan laju, menertibkan batin, memulihkan arah.
Di sinilah pesan QS. An-Najm terasa modern: “penglihatannya tidak menyimpang dan tidak melampaui batas.” Di era sensasi, iman mengajarkan ketenangan; di era komentar yang liar, iman mengajarkan adab; di era identitas dibentuk algoritma, iman mengembalikan manusia kepada pusat: Allah.
Penutup: Tangga ke Langit Itu Bernama Salat
Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa perjalanan terbesar bukanlah yang ditempuh kaki, tetapi yang ditempuh hati. Allah memperjalankan Rasul-Nya untuk melihat tanda-tanda, lalu menghadiahkan umat sesuatu yang menjaga mereka sampai akhir zaman: salat lima waktu. Jadi, cara paling kontekstual memperingati Isra’ Mi’raj bukan sekadar meramaikan acara, tetapi pulang dengan tekad baru: membenahi salat, merawat akhlak, dan menertibkan hidup—karena “reset button” itu sudah Allah letakkan di tangan kita, setiap hari.
Kalau kamu mau, aku bisa rapikan lagi ke format layout media (kolom opini: lead, subjudul pendek, dan penutup ringkas) tanpa mengubah isi—hanya penataan.


