Jakarta, infoDKJ.com | Di tengah dinamika Jakarta yang terus bergerak cepat, ancaman perpecahan sosial, hoaks, hingga tantangan ekonomi warga menjadi pekerjaan rumah bersama. Di titik inilah peran organisasi kepemudaan kembali ditegaskan sebagai kekuatan strategis.
Hal itu mengemuka saat Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi DKI Jakarta, Muh. Mat Sani, menerima audiensi DPD Gerakan Pemuda Marhaenisme (GPM) DKI Jakarta, Selasa (6/1/2026), di kantor Kesbangpol DKI Jakarta, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.
Bukan sekadar pertemuan formal, audiensi ini terasa sebagai momentum penting: sebuah perjumpaan antara pemerintah daerah dan pemuda yang membawa semangat pergerakan — untuk memastikan Jakarta tetap rukun, kuat, dan bergerak menuju kesejahteraan.
Dalam sambutannya, Muh. Mat Sani menyampaikan bahwa Kesbangpol tidak hanya hadir sebagai lembaga administrasi, melainkan juga sebagai “rumah besar kebangsaan” yang menjaga persatuan serta membuka ruang kolaborasi bagi elemen masyarakat, termasuk organisasi kepemudaan.
“Kami menyambut baik kedatangan GPM. Organisasi kepemudaan adalah mitra strategis pemerintah, terutama dalam menjaga persatuan, membantu pembangunan, dan menguatkan ekonomi warga,” ujar Muh. Mat Sani.
Ia menegaskan, organisasi pemuda bukan hanya sekadar kumpulan komunitas, tetapi dapat menjadi penjaga harmoni sosial, sekaligus motor penggerak kegiatan yang bermanfaat.
“GPM di bawah kepemimpinan baru kami harapkan semakin eksis. Tidak hanya bergerak dalam forum-forum, tetapi hadir di lapangan, menyentuh masyarakat, serta menjadi kekuatan pemersatu,” tambahnya.
Kesbangpol: Bukan Hanya Menerima, Tapi Mengarahkan
Di tengah masyarakat perkotaan yang kerap mudah terpancing isu, Kesbangpol menekankan pentingnya organisasi pemuda memiliki peran edukatif: menyalurkan energi muda ke arah yang produktif, bukan destruktif.
Muh. Mat Sani menilai, pemuda dapat menjadi wajah masa depan Jakarta, tetapi juga bisa menjadi sumber masalah jika tidak diarahkan pada jalur yang tepat. Karena itu, ia mendorong agar organisasi kepemudaan ikut mengambil bagian dalam program pembangunan, pemberdayaan ekonomi kerakyatan, hingga menjaga stabilitas sosial.
Bagi Kesbangpol, audiensi ini bukan hanya seremoni, melainkan pintu awal untuk membangun sinergi program yang lebih nyata.
GPM Jakarta: Dari Silaturahmi Menuju Komitmen Gerakan
Sementara itu, Ketua DPD GPM Jakarta periode 2025–2029, Maliky Yusuf, menjelaskan audiensi ini merupakan tindak lanjut pertemuan sebelumnya pada 30 Desember 2025, sekaligus momentum pengenalan struktur kepengurusan baru hasil musyawarah organisasi dari kepemimpinan Eko Heri Sutopo kepada dirinya.
“Kami ingin menjaga eksistensi dan marwah GPM yang sudah terjalin sejak kepemimpinan sebelumnya. Dengan kepengurusan saat ini, kami bersilaturahmi sekaligus menyampaikan program yang akan kami jalankan,” ujar Maliky.
Ia menyebut, program kerja GPM ke depan diarahkan agar sejalan dengan upaya pemerintah daerah, terutama untuk memperkuat kontribusi pemuda dalam pembangunan Jakarta.
Narasi yang Lebih Dalam: Pemuda, Jakarta, dan Tanggung Jawab Zaman
Pertemuan ini menyimpan pesan yang lebih besar: Jakarta bukan hanya butuh pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan sosial — di mana pemuda harus menjadi garda terdepan.
Di tengah arus informasi yang sering memecah belah, masyarakat membutuhkan pemuda yang bukan sekadar berteriak, tetapi bergerak. Bukan sekadar hadir dalam rapat, tetapi hadir di tengah warga. Dan bukan hanya menjaga nama organisasi, melainkan menjaga masa depan Jakarta itu sendiri.
Kesbangpol pun menegaskan bahwa pintu kolaborasi akan selalu terbuka—selama gerakan yang dibawa berorientasi pada kebangsaan dan kemaslahatan masyarakat.
Penutup
Audiensi GPM Jakarta ke Kesbangpol Provinsi DKI Jakarta menjadi sinyal kuat bahwa ruang kolaborasi antara pemerintah dan pemuda masih terjaga. Dengan kepemimpinan yang baru, GPM diharapkan menjadi bagian dari solusi: menjadi penggerak ekonomi, penjaga persatuan, serta mitra strategis dalam pembangunan Jakarta.
Sebab, di kota besar seperti Jakarta, kebersamaan tidak bisa dibangun sendiri-sendiri. Ia harus dijaga bersama, digerakkan bersama, dan diperjuangkan bersama.
(Dani)


