Jakarta, infoDKJ.com | Rabu, 7 Januari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Sebagian besar kaum muslimin dalam menjalankan ibadah sering terjebak pada satu orientasi: meraih pahala sebanyak-banyaknya. Tidak jarang, ukuran keshalihan pun ditimbang dari besarnya pahala yang dijanjikan dalam suatu amalan. Ibadah mana yang pahalanya besar, itulah yang menjadi sasaran utama.
Sekilas, orientasi ini tampak baik. Bukankah Allah dan Rasul-Nya memang menyebutkan keutamaan pahala suatu amal? Namun di balik itu, terdapat bahaya laten dalam spiritualitas: ibadah berubah dari penghambaan menjadi transaksi.
Ketika Ibadah Berubah Menjadi Perdagangan
Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi.” (QS. Fathir: 29)
Ayat ini sering dipahami sebagai legitimasi “berdagang pahala”. Padahal para ulama tafsir menjelaskan bahwa perdagangan di sini bukanlah hitung-hitungan material, melainkan keyakinan penuh bahwa segala amal diserahkan hasilnya kepada Allah, bukan dituntut oleh hamba.
Ketika pahala dijadikan fokus utama, ibadah berpotensi melahirkan ujub (merasa paling shalih). Seseorang merasa telah mengoleksi pahala besar, lalu memandang rendah orang lain yang amalnya tampak sedikit. Padahal, pahala bukan hak hamba, melainkan hak prerogatif Allah semata.
Allah ﷻ menegaskan:
“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seseorang walau sebesar zarrah, dan jika ada kebaikan Dia melipatgandakannya.” (QS. An-Nisa’: 40)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah berhak melipatgandakan atau menahan pahala sesuai kehendak-Nya, bukan sesuai klaim manusia.
Pahala Dijanjikan, Tapi Ridha yang Menentukan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya.”
Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Termasuk aku, kecuali bila Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.”
Hadits ini adalah tamparan lembut bagi jiwa yang terlalu percaya diri dengan amalnya. Amal dan pahala bukan tiket otomatis menuju surga. Yang menentukan adalah rahmat, ampunan, dan ridha Allah.
Karena itu, orang-orang shalih justru takut amalnya ditolak, meskipun amal itu besar. Allah menggambarkan kondisi mereka:
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, karena mereka tahu bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)
Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang ayat ini,
“Apakah mereka itu orang yang berzina dan mencuri?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
“Bukan, wahai putri Ash-Shiddiq. Mereka adalah orang yang shalat, puasa, dan bersedekah, namun mereka takut amalnya tidak diterima.” (HR. Tirmidzi)
Fokus Utama Seorang Hamba: Ampunan dan Ridha
Jika pahala adalah janji, maka ampunan dan ridha Allah adalah tujuan hakiki. Allah ﷻ berfirman:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (QS. Ali ‘Imran: 133)
Perhatikan, yang disebut pertama bukan pahala, melainkan ampunan. Karena hamba sadar, sebanyak apa pun amalnya tetap tercampur kekurangan, lalai, dan riya’.
Dalam doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ, fokusnya pun bukan pada pahala:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan ridha-Mu.” (HR. Muslim)
Ini menunjukkan bahwa kedekatan kepada Allah tidak diukur dari besarnya pahala, tetapi dari kerendahan hati di hadapan-Nya.
Ibadah Sebagai Penghambaan, Bukan Klaim Keshalihan
Penutup
Pahala memang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah sebagai motivasi, bukan tujuan akhir. Tujuan sejati ibadah adalah ampunan, rahmat, dan ridha Allah.
Ketika ridha Allah yang dicari, ibadah akan melahirkan kerendahan hati, cinta, dan ketundukan sejati.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang beramal bukan karena hitungan pahala, tetapi karena cinta, takut, dan harap kepada-Nya.
Allahumma innā nas’aluka ‘afwaka wa ridhāka.


