By: Shinta Komalasari
S2 Program Manajemen Pendidikan, Universitas Pamulang
Di tengah derasnya arus digitalisasi, sekolah-sekolah di Indonesia menghadapi tantangan besar: bagaimana bertransformasi tanpa tertinggal oleh perubahan zaman. Perangkat sudah ada, jaringan internet dipasang, aplikasi pembelajaran diperkenalkan, tetapi mengapa banyak sekolah tetap "gagap digital"?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana kurangnya fasilitas. Analisis SWOT mengungkap bahwa persoalannya jauh lebih kompleks dan berkaitan langsung dengan kesiapan manusia, budaya kerja, serta tata kelola sekolah.
Teknologi Melaju, Sekolah Tertatih
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah terus mendorong digitalisasi pendidikan. Mulai dari platform belajar, sistem administrasi digital, hingga program peningkalan literasi teknologi. Namun realitas di lapangan menunjukkan fakta lain: masih banyak sekolah yang belum mampu memanfaatkan teknologi secara optimal..
Beberapa gurunya belum percaya diri menggunakan perangkat digital, beberapa sekolah minim pelatihan, sementara sebagian orang tua masih bingung dengan aplikasi komunikasi sekolah.
Di sinilah analisis SWOT menjadi alat penting untuk memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman sebelum melangkah lebih jauh.
SWOT Membuka Peta Masalah: Kelemahan Tak Lagi Tersembunyi
Kekuatan (Strengths)
Banyak sekolah sebenarnya memiliki modal kuat: guru inovatif, siswa yang melek teknologi, serta budaya kerja yang cukup kolaboratif. Ini memberi harapan besar bagi percepatan transformasi digital.
Kelemahan (Weaknesses)
Di sinilah persoalan mulai tampak. Keterbatasan perangkat TIK, internet yang lambat, hingga guru yang belum terlatih menjadi hambatan nyata. Tidak sedikit sekolah memiliki fasilitas, tetapi tidak memiliki SDM yang siap mengoperasikannya.
Peluang (Opportunities)
Program pemerintah, kemitraan dengan swasta, hingga banjirnya sumber belajar digital sebenarnya membuka peluang besar-asal sekolah mampu memanfaatkannya dengan tepat.
Ancaman (Threats)
Persaingan antar sekolah, tuntutan orang tua yang semakin tinggi, serta gap digital antar wilayah bisa menjadi ancaman jika tidak dikelola sejak awal.
Analisis SWOT mengajak sekolah melihat kenyataan apa adanya dan menyusun strategi tanpa terjebak ilusi kesiapan.
Digitalisasi Tak Akan Berhasil Tanpa Pendekatan Humanis
Banyak sekolah menganggap digitalisasi sama dengan membeli perangkat. Padahal, inti transformasi justru berada pada manusia. Tanpa pelatihan yang konsisten, komunikasi yang efektif, dan budaya kerja yang adaptif, teknologi hanya menjadi pajangan.
Guru perlu pemahaman baru, siswa butuh ruang eksplorasi, dan orang tua membutuhkan pendampingan. Digitalisasi yang berhasil selalu dimulai dari perubahan mindset, bukan sekadar perubahan alat.
Mengapa SWOT Penting dalam Transformasi Digital?
Karena ia membantu sekolah menjawab tiga pertanyaan kunci:
a) Apa yang sudah dimiliki?
b) Apa yang masih kurang?
c) Bagaimana memanfaatkan peluang sambil mengatasi ancaman?
Dengan pemetaan yang jelas, sekolah tidak lagi melakukan digitalisasi secara terburu-buru atau sekadar mengikuti tren. Perubahan menjadi lebih terarah, realistis, dan berkelanjutan.
Penutup: Transformasi Digital Tidak Bisa Ditempuh dengan Menutup Mata
Sekolah yang ingin maju tidak cukup hanya membeli perangkat atau menginstal aplikasi. Transformasi digital menuntut:
a) strategi
b) kesiapan SDM
d) dan pemahaman terhadap kondisi nyata
Analisis SWOT memberikan kerangka yang membuat sekolah mampu bergerak lebih presisi, meminimalkan risiko, dan memaksimalkan peluang.
Digitalisasi bukan soal "siapa yang paling canggih", tetapi siapa yang paling siap beradaptasi. Dan kesiapan itu hanya lahir dari strategi yang matang.


