Jakarta, infoDKJ.com | Jum'at, 9 Januari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Dalam kehidupan, manusia selalu berhadapan dengan pilihan:
ada yang menjadi pelaku utama dalam kebaikan, ada yang hanya menjadi penonton, dan ada pula yang berperan seperti makelar—mengajak orang lain kepada kebaikan, namun dirinya sendiri tidak mengamalkannya.
Fenomena ini sering terlihat dalam aktivitas dakwah dan ajakan kebaikan. Seseorang bisa saja mengajak orang lain untuk shalat, sedekah, atau amal shalih, tetapi ia sendiri lalai bahkan meninggalkannya. Akhirnya, ajakan tersebut hanya menjadi pemindahan informasi—dari buku ke mulut, dari mulut ke telinga—tanpa jejak nyata dalam amal.
1. Allah Mencela Perkataan Tanpa Amal
Al-Qur’an memberi peringatan tegas bagi orang yang hanya pandai berkata-kata, tetapi tidak mencontohkan dalam perbuatan.
Allah Ta’ala berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."
(QS. As-Shaff: 2–3)
Ayat ini menjadi teguran keras: seorang mukmin bukan sekadar penyampai kebaikan, melainkan juga pelaku dan teladan.
2. Bahaya Menjadi “Makelar Surga”
Rasulullah ï·º mengingatkan tentang orang yang ilmunya bermanfaat bagi manusia, namun tidak membawa manfaat untuk dirinya sendiri.
Beliau bersabda:
"Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia tetapi melupakan dirinya, seperti pelita yang membakar dirinya sendiri namun memberi penerangan bagi orang lain."
(HR. Thabrani)
Betapa ruginya seseorang yang “mengantarkan orang lain ke surga”, tetapi dirinya sendiri tidak menempuh jalan itu. Ia sibuk membuka pintu kebaikan bagi orang lain, tetapi lupa melangkah masuk untuk dirinya sendiri.
3. Sebaik-baik Mukmin Adalah yang Menjadi Teladan
Mukmin yang baik tidak hanya bicara, tetapi membuktikan. Ia lebih dahulu mengamalkan sebelum mengajak. Dengan cara itulah, dakwah menjadi kuat dan kata-kata memiliki pengaruh karena disertai keteladanan.
Rasulullah ï·º bersabda:
"Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemah iman."
(HR. Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa amar ma’ruf nahi munkar bukan sekadar retorika, melainkan tindakan nyata sesuai kemampuan.
4. Pesan Penting: Jangan Jadi Makelar Surga
Jangan sampai kita menjadi orang yang pandai menasihati, tetapi lemah dalam mengamalkan.
Sebab ucapan tanpa amal bukan hanya tidak bernilai, tetapi bisa menjadi beban di akhirat.
- Ajakan kebaikan itu mulia.
- Namun jauh lebih mulia jika dimulai dari diri sendiri.
- Karena keteladanan lebih keras suaranya daripada sekadar kata-kata.
Kesimpulan
Islam tidak hanya mengajarkan retorika, tetapi menuntut pembuktian lewat amal nyata. Mengajak orang lain pada kebaikan adalah amal mulia, namun lebih mulia lagi bila diawali dengan mengamalkannya.
Allah membenci hamba yang berkata namun tidak berbuat. Maka, jadilah mukmin yang tidak hanya menyeru, tetapi juga memberi contoh—agar dakwah menjadi berkah, dan amal menjadi cahaya keselamatan.


