Kehebatan manusia terletak pada kemampuannya berpikir. Akal ibarat hamparan bumi, sementara berpikir adalah proses mengelola bumi tersebut. Semakin dalam seseorang berpikir, semakin beragam “tanaman” yang tumbuh di atasnya—semakin luas wawasan dan semakin tinggi kualitas hidupnya.
Berbeda dengan manusia, hewan tidak memiliki akal untuk merenung. Fokusnya hanya pada kebutuhan dasar: makan, minum, tidur, dan berkembang biak. Maka sungguh merugi manusia yang pola pikirnya hanya berkisar pada urusan perut dan kenikmatan dunia, padahal ada kehidupan setelah mati yang jauh lebih panjang dan menentukan: akhirat.
Mengukur Kedalaman Cara Berpikir
Dalam kehidupan dunia, cara berpikir seseorang dapat terlihat dari apa yang sering ia bicarakan.
Pertama, pembicaraan seputar makanan, minuman, gosip, dan urusan remeh. Ini menunjukkan cara berpikir yang dangkal.
Kedua, pembicaraan tentang peristiwa yang sedang terjadi. Ini menunjukkan ia mulai berpikir, meski masih terbatas pada fenomena permukaan.
Ketiga, pembicaraan tentang hari esok dan perencanaan masa depan. Ia menyusun roadmap hidupnya. Ini tanda akal yang panjang dan visioner.
Keempat, pembicaraan tentang akhirat dan kesuksesan sejati setelah mati. Inilah tingkatan berpikir paling tinggi—cara berpikir orang jenius.
Tak heran jika almarhum Prof. B.J. Habibie pernah berkata di hadapan mahasiswa Indonesia di Mesir, “Kalau saya disuruh memilih antara imtaq (iman dan takwa) atau iptek (ilmu dan teknologi), maka saya akan memilih imtaq.”
Ini selaras dengan firman Allah:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia…”
(QS. Al-Qashash: 77)
Karena itu, nilai diri seseorang ditentukan oleh apa yang ia pikirkan. You are what you think.
Al-Qur’an Mengajarkan Kita Berpikir
Allah berulang kali memerintahkan manusia untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.”
(QS. Ali ‘Imran: 190-191)
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri…”
(QS. Fushshilat: 53)
“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Adz-Dzariyat: 21)
Ada dua perjalanan berpikir: inner journey (merenungi diri dan ayat-ayat Qur’aniyah) dan outer journey (merenungi alam dan ayat-ayat kauniyah).
Delapan Fokus Pikiran Manusia
Menurut ringkasan pandangan Ibnul Qayyim dalam Miftah Daris-Sa’adah, apa yang dipikirkan manusia umumnya berkisar pada delapan hal pokok:
- Memikirkan surga, yang informasinya hanya didapat dari wahyu.
- Memikirkan jalan menuju surga, yaitu iman dan amal saleh.
- Memikirkan neraka, sebagai peringatan agar waspada.
- Memikirkan jalan menuju neraka, seperti melampaui batas dan mengutamakan dunia.
- Memikirkan kesuksesan duniawi.
- Memikirkan cara mencapai kesuksesan duniawi.
- Memikirkan kegagalan, agar bisa belajar darinya.
- Memikirkan jalan menuju kegagalan, seperti malas, lemah, tidak disiplin, zalim, dan tergesa-gesa.
Orang cerdas adalah yang berusaha meraih poin pertama dan kedua, serta menghindari ketiga dan keempat.
“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Puasa: Melatih Kejernihan Berpikir
Di era modern, manusia mengenal berpikir strategis, futurologi, dan manajemen krisis. Ketika terjadi wabah atau krisis global, manusia menganalisis dampaknya dari sisi politik, ekonomi, sosial, dan keamanan. Semua itu menunjukkan pentingnya berpikir sistematis dan visioner.
Namun, Ramadan mengajarkan dimensi yang lebih dalam: berpikir dengan hati yang bersih.
Puasa melatih manusia menahan lapar dan dahaga dari Subuh hingga Maghrib. Perut yang kosong bukan sekadar latihan fisik, tetapi sarana menjernihkan akal dan menundukkan hawa nafsu. Saat nafsu melemah, pikiran menjadi lebih rasional, objektif, dan tajam.
Ramadan adalah momen untuk menyelaraskan pikiran dengan nilai maslahat—dunia dan akhirat.
Semoga puasa kita bukan hanya menahan lapar, tetapi juga melahirkan cara berpikir yang lebih matang, lebih bijak, dan lebih visioner.
Amin.


