JAKARTA, 23 Februari 2026 – Pagi itu, di Gedung DPRD DKI Jakarta, langkah Ustaz Mustofa, S.Pd., terlihat tenang namun penuh tekad. Di bulan suci Ramadan, ia tidak datang untuk dirinya sendiri. Ia datang membawa suara ribuan guru ngaji yang selama ini mengabdi dalam senyap.
Sebagai Ketua DPW Forum Komunikasi Pendidikan Al-Qur’an (FKPQ) DKI Jakarta, Mustofa memimpin langsung audiensi bersama Ketua DPRD DKI Jakarta, KH Khoeruddin, M.Si. Bersamanya hadir jajaran pengurus FKPQ pusat dan daerah, serta perwakilan Kementerian Agama.
Namun yang dibawanya bukan sekadar data dan proposal. Ia membawa cerita tentang pengabdian.
Mengajar dengan Hati, Bertahan dengan Keterbatasan
Di Jakarta, kota dengan gedung-gedung pencakar langit dan perputaran uang triliunan rupiah, masih ada ribuan guru ngaji TKQ dan TPQ yang menerima honorarium Rp550 ribu per bulan. Dari sekitar 7.000 guru yang terdata di FKPQ DKI, baru 5.200 yang menerima bantuan tersebut.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin terlihat kecil. Namun bagi para guru ngaji, itu adalah simbol pengakuan—meski belum cukup.
“Mereka mengajar anak-anak mengenal huruf hijaiyah, menghafal doa-doa, membentuk akhlak sejak usia dini. Tapi sering kali mereka pulang dengan penghasilan yang bahkan tidak cukup untuk kebutuhan dasar,” kata Mustofa dengan nada yang tertahan.
Sebagian dari mereka mengajar di gang-gang sempit, di musholla kecil, di ruang seadanya. Ada yang mengajar selepas berdagang, ada yang mengajar sambil mengurus keluarga, bahkan ada yang tetap datang meski sedang sakit.
“Mereka tidak pernah menghitung untung rugi. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana anak-anak bisa membaca Al-Qur’an,” ujarnya.
Dari Ruang Musholla ke Ruang Parlemen
Mustofa menyampaikan langsung harapannya agar insentif guru ngaji dinaikkan secara bertahap menjadi Rp1,2 juta per bulan dan diberikan secara merata kepada seluruh guru yang berhak.
Ia juga mengingatkan janji pemerintah daerah untuk memberikan kesetaraan penghasilan yang lebih layak bagi guru ngaji.
“Kami tidak ingin para pejuang Al-Qur’an ini merasa berjalan sendiri. Negara harus hadir,” tegasnya.
Tak hanya soal kesejahteraan, Mustofa juga memikirkan masa depan lembaga TKQ dan TPQ. Ia mengusulkan program “1 Laptop 1 Lembaga” bagi sekitar 1.500 lembaga nonformal di DKI Jakarta agar mampu memenuhi kewajiban administrasi dan pelaporan data.
“Di era digital, mereka tidak boleh tertinggal. Tapi jangan biarkan mereka berjuang tanpa fasilitas,” katanya.
Krisis yang Tak Banyak Disadari
Di tengah modernitas Jakarta, masih ada pelajar tingkat SD hingga SMA yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Fakta ini disampaikan dalam audiensi sebagai pengingat bahwa pendidikan akhlak dan literasi Al-Qur’an masih membutuhkan perhatian serius.
Namun Mustofa menegaskan, kualitas pendidikan tak bisa dilepaskan dari kesejahteraan pendidiknya.
“Kalau kita ingin generasi Qur’ani, maka guru Qur’annya harus dimuliakan,” ujarnya.
Harapan di Bulan Ramadan
Ketua DPRD DKI Jakarta menyambut baik aspirasi tersebut dan berjanji menampung serta memperjuangkannya. Bagi Mustofa, pertemuan itu bukan sekadar agenda organisasi, melainkan ikhtiar panjang untuk memuliakan guru ngaji.
Di bulan Ramadan yang penuh keberkahan, ia berharap perjuangan ini menjadi jalan kebaikan.
“Guru ngaji mungkin tidak viral, tidak tampil di layar kaca, tapi mereka membangun fondasi moral anak-anak kita. Jika fondasi itu kuat, Jakarta akan punya masa depan yang lebih baik,” ucapnya.
Di balik insentif yang masih terbatas, ada ribuan hati yang terus mengabdi. Dan di balik suara yang disampaikan di ruang parlemen, ada harapan agar para pejuang Al-Qur’an tak lagi berjalan sendirian.
Jika Anda ingin, saya bisa buatkan versi yang lebih emosional lagi dengan kisah satu dua profil guru ngaji secara naratif, atau versi feature panjang setara 1 halaman media nasional.


