Jakarta, infoDKJ.com | Senin, 26 Januari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Memberikan seseorang pekerjaan sering kali dipandang sebagai tindakan sosial biasa. Namun, jika direnungi lebih dalam, ia sesungguhnya merupakan salah satu bentuk amal tertinggi dalam Islam. Seorang pemimpin pernah menyampaikan pemikiran ini kepada saya, dan semakin lama direnungkan, semakin tampak hikmah besar di baliknya.
Pekerjaan bukan sekadar bantuan sementara. Ia adalah sarana hidup yang menghidupkan harga diri, martabat, dan masa depan seseorang.
Islam tidak memandang manusia hanya sebagai penerima belas kasihan, tetapi sebagai makhluk mulia yang diberi potensi untuk berusaha, berkarya, dan mandiri. Karena itu, amal yang memberdayakan dan menguatkan kemandirian jauh lebih agung daripada sekadar memberi tanpa membangun daya.
Dengan bekerja, seseorang tidak perlu menggantungkan hidup pada belas kasihan orang lain. Ia berdiri di atas kakinya sendiri, menafkahi diri dan keluarganya dengan usaha yang halal. Inilah bentuk kemuliaan yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa bekerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi ibadah yang bernilai tinggi di sisi Allah SWT.
Lebih dari Sekadar Memberi Bantuan
Memberi sedekah adalah amal mulia. Namun, memberi pekerjaan memiliki dampak yang jauh lebih panjang. Sedekah bisa habis dalam sehari, sementara pekerjaan melahirkan keberlanjutan: keterampilan baru, pengalaman hidup, dan jejaring sosial yang membuka pintu-pintu kebaikan lainnya.
Rasulullah ﷺ pernah memberi teladan nyata. Ketika seorang lelaki datang meminta-minta, Nabi ﷺ tidak sekadar memberinya. Beliau membimbingnya untuk bekerja. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Nabi ﷺ menyuruh lelaki itu menjual barang miliknya, membeli kapak, lalu mencari kayu bakar untuk dijual. Beberapa hari kemudian, lelaki itu kembali dengan wajah cerah karena mampu mencukupi kebutuhannya sendiri.
(HR. Abu Dawud)
Inilah pelajaran besar dari Islam: solusi yang memulihkan harga diri, bukan sekadar meredakan kebutuhan sesaat.
Pekerjaan sebagai Jalan Keberkahan Rezeki
Allah ﷻ berfirman:
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah…”
(QS. Al-Jumu’ah: 10)
Ayat ini menegaskan bahwa bekerja adalah bagian dari perintah agama. Maka, orang yang membuka lapangan pekerjaan sejatinya sedang membantu orang lain menjalankan perintah Allah dan menjemput rezeki-Nya.
Memberikan pekerjaan adalah bentuk memudahkan orang lain yang paling nyata: ia mengatasi kesulitan hari ini sekaligus membuka harapan untuk masa depan.
Amal Jariyah yang Mengalir Panjang
Ketika seseorang diberi pekerjaan, lalu dari penghasilannya ia menafkahi keluarga, menyekolahkan anak, bahkan bersedekah kepada orang lain, maka kebaikan itu ikut mengalir kepada orang yang membuka pintu pekerjaan tersebut. Inilah amal jariyah dalam bentuk yang sering luput disadari.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Manfaat apa yang lebih besar daripada membuat seseorang bisa hidup layak, bermartabat, dan mandiri?
Penutup
Memberikan pekerjaan bukan sekadar solusi ekonomi, tetapi ibadah sosial yang sangat dalam maknanya. Ia menjaga martabat manusia, menumbuhkan rasa percaya diri, membangun masa depan, dan menciptakan dampak jangka panjang bagi masyarakat.
Maka, siapa pun yang diberi kemampuan, kekuasaan, atau kesempatan untuk membuka lapangan pekerjaan, sesungguhnya ia sedang menjalankan salah satu bentuk amal tertinggi—amal yang jejak pahalanya terus mengalir selama kebaikan itu terus hidup.


